Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#39


__ADS_3

Winter pulang ke mansion dengan mengenggan erat tangan Yura. Senyum Yura menggembang sempurna menatap pria di sampingnya.


Mereka menaiki anak tangga dan masuk ke kamar, Yura membuka jaket dan menyimpannya di sofa, kemudian ia naik ke atas ranjang, Yura hendak menarik selimut tapi Winter mengingatkannya tentang obat.


"Pasti ada obat yang harus kau minum, iya kan?"


Yura menoleh kemudian mengangguk pelan.


"Dimana?" tanya Winter.


"Di tas ku," sahut Yura dengan sedikit cemberut karena ia tidak bisa minum obat.


Seharusnya saat mual Yura kambuh karena efek kemoterapi gadis itu minum obat yang sudah di resep kan Dokter Leon, tapi karena tidak ada yang memperhatikan Yura dengan seenaknya Yura tidak meminum obat tersebut.


Winter berjalan mengambil tas Yura di sofa, membawa pelastik berisi obat di sana kemudian menuangkan air ke gelas.


"Ini harus diminum semua ..." Winter menghampiri Yura di ranjang dan duduk di depan gadis itu.


"A-aku ... aku tidak bisa minum obat."


"Yura, bagaimana bisa sembuh kalau tidak di minum?"


Yura menghela nafas. Winter memberikan satu obat tablet ke telapak tangan gadis itu. Yura memperhatikan obat di telapak tangannya.


"Kenapa harus pahit sih!" Yura kemudian mendongak menatap suaminya.


"Kalau obatnya keluar lagi bagaimana?"


"Ganti dengan obat yang baru sampai semua obat masuk ke tubuhmu ..." sahut Winter.


"Tapi aku---"


"Yura ..." Winter mengenggam tangan kiri gadis itu dengan menatapnya lekat.


"Kalau semakin parah, semakin banyak obat yang harus kau minum. Ini belum seberapa ... sabar ya, pelan-pelan saja minumnya, nanti kalau sudah masuk satu, diam dulu."


Yura menekuk wajahnya, memainkan satu obat di tangannya kemudian menghela nafas panjang.


"Coba dulu ..."


Dengan ragu-ragu Yura memasukan obat ke mulutnya, sudah hampir masuk ia kembali menjauhkan obat itu. Karena Winter terus menatapnya, alhasil gadis itu perlahan memasukan obatnya lagi ke mulutnya lalu mengambil minum di tangan Winter.


Ia minum sebanyak-banyaknya, tapi Yura malah merasa obatnya tidak mau masuk ke kerongkongannya, obatnya seperti hanya mengambang di dalam mulut alhasil gadis itu memuntahkan air beserta satu obat yang harusnya di telan.


Yura muntah tepat ke paha Winter. Derita seseorang yang tidak bisa minum obat.

__ADS_1


"Tidak apa-apa ..." Winter mengelus-ngelus punggung gadis itu yang masih muntah.


"Coba lagi ya ..."


Yura mendongak mengusap bibirnya dengan punggung tangan seraya menggelengkan kepala. "Aku tidak bisa ..." rengeknya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku mau jamu Bi Ijah saja ..." lirih Yura dengan mengusap matanya yang menangis.


"Tapi itu bukan obatnya, Yura ..."


"Coba tenggorokanmu di buka, jangan di tutup. Kau menampung banyak air di mulutmu sampai obatnya terasa pahit."


"Yasudah, kau saja dulu yang minum!"


Winter mengangguk. Ia mengambil botol vitamin di laci dan mengambilnya satu tablet vitamin


"Lihat ini ..."


Winter menunjukan cara minum obat nya, memasukannya ke mulut dan minum air dengan tenang tidak panik seperti Yura.


"Mudah kan." .


Yura menghela nafas kemudian memalingkan wajahnya seraya menggerutu. "Mudah karena kau bisa minum obat."


Winter tersenyum tipis menarik pipi Yura agar kembali menatapnya. Bola mata Yura bergerak kembali menatap iris mata suaminya.


Dengan terpaksa gadis itu kembali mencoba meminum obat. Tidak sekali, dua kali Yura muntah lagi dan lagi sampai celana dan baju Winter menjadi sasaran muntahan gadis itu. Tapi Winter selalu tersenyum dan menyemangati Yura untuk mencobanya lagi dan lagi.


Walaupun beberapa obat terbuang sia-sia, setidaknya sekarang Yura berhasil meminum lima obat yang di resepkan Dokter Leon dan kemungkinan obat itu juga akan bertambah.


"Winter cerewet!" Yura masuk ke dalam selimut, Winter hanya terkekeh pelan.


Yura mengatakan hal demikian karena Winter tidak berhenti berbicara menyuruhnya minum obat terus menerus. Yura merasa doa nya di gereja beberapa hari yang lalu sudah di kabulkan, yaitu meminta suami nya sedikit cerewet.


Yura tertidur, bukan karena ngantuk. Melainkan energinya sudah terkuras habis akibat muntah lagi dan lagi karena pahitnya obat yang harus ia minum.


Winter baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya. Ia menatap teduh gadis yang tengah tertidur lelap dengan selimut sampai perutnya.


Perlahan ia berjalan menaiki ranjang dan duduk di samping Yura. Winter mengambil ponsel di nakas dan mengirim pesan kepada Dokter Leon untuk mengatur jadwal temu nya besok.


Kemudian Winter mematikan lampu kamarnya, suasana berubah menjadi temaram, hanya lampu tidur yang menerangi kamar mereka.


Winter masuk ke dalam selimut, tidur menyamping memperhatikan Yura. Pria itu terjaga sepanjang malam hanya untuk memastikan Yura tidak kembali mual atau muntah lagi.


*

__ADS_1


Pagi harinya, Yura meregangkan otot-ototnya, ia menguap kemudian membuka matanya perlahan. Ketika menoleh ke samping, Winter sudah tidak ada di sampingnya.


Yura keluar dari kamar, menuruni anak tangga dan melihat Winter sedang berbicara di dapur dengan seorang pria.


Winter menoleh ketika tahu Yura berjalan turun. Pria itu langsung menghampiri istrinya.


"Dia siapa?" tanya Yura.


"Chef baru."


"Chef?" satu alis Yura terangkat naik. "Oris saja di ambil Daddy Maxime, memangnya boleh ada chef di sini?"


"Aku yang bicara nanti. Sarapan dulu ..." Winter menarik tangan Yura ke meja makan.


Winter menarik satu kursi dan mempersilahkan istrinya duduk lebih dulu. Yura mengambil susu dan meminumnya, Winter meletakkan sandwich di piring Yura.


"Setelah ini minum obat lagi ..."


Yura berhenti minum susu dan kembali menyimpan gelas di meja dengan sedikit jengkel. Baru juga semalam dia minum obat sekarang harus minum lagi.


Dia beralih mengambil sandwich dan melahapnya. Winter mengelus kepala Yura karena ia tahu gadis itu kesal harus minum obat terus menerus.


"Kau boleh minta apapun yang kau mau, kalau sembuh ..."


Yura hanya mengangguk pelan. Seandainya Winter tidak tahu Yura sakit, gadis itu tidak akan meminum obat dengan rutin, paling hanya rutin kemoterapi saja karena menahan sakitnya di suntik jauh lebih mudah dari pada minum obat, menurut Yura.


"Sebentar lagi Dokter Leon ke sini."


"Mau apa?" tanya Yura.


"Aku hanya ingin mengobrol dengan Dokter Leon saja," sahut Winter.


Yura mengangguk-ngangguk kemudian kembali melanjutkan sarapannya.


Winter makan sandwich miliknya dengan mata terus tertuju kepada Yura di sampingnya, gadis itu makan cukup lahap, Winter tidak bisa membayangkan jika nanti harus melihat Yura kesakitan karena efek pengobatan leukimia nya.


Ia juga sudah janji kepada Yura, kalau keluarganya dan keluarga Yura tidak akan tahu kalau gadis itu sakit.


"Yura ..." panggil Winter.


Yura menoleh dengan mulut penuh sandwich. "Iya?"


"Semangat ..."


Yura berhenti mengunyah kemudian senyumnya mengembang perlahan.

__ADS_1


"Aku lebih suka kata penyemangat darimu dari pada obat ..."


Bersambung


__ADS_2