
"Tolong jaga Yura ya Winter ..." ucap Benjamin di telpon ketika Winter memberitahu kalau Yura demam setelah pulang dari pantai.
"Iya Dad. Tenang saja."
Panggilan berakhir. Winter membuka pintu kamarnya, terlihat Yura sedang tertidur di atas ranjang. Pria itu mendekat dan duduk di sisi ranjang, ia mengecek kening Yura terlebih dahulu.
Demamnya belum turun walaupun sudah di beri obat. Winter memutuskan mengompres Yura. Tapi gadis itu kemudian terbangun.
"Winter ..." panggilnya dengan lemah.
"Hm?"
Tangan Yura terulur menggenggam tangan Winter. "Aku mau tidur ..."
Winter mengambil handuk kecil di kening Yura kemudian pria itu mengitari ranjang dan tidur di samping gadis itu dengan memeluk Yura.
Yura kembali memejamkan mata dengan Winter mengelus lembut puncak kepala gadis itu.
Beberapa menit kemudian, Yura kembali membuka matanya. Ia perlahan mendongak menatap wajah suaminya yang sedang tertidur.
Dia pasti kelelahan karena sering merawatku ...
Yura mengelus pipi Winter dengan lembut lalu memainkan bulu mata pria itu dan jemarinya turun ke hidung, bibir sampai ke jakun Winter.
Winter membuka matanya dan hal itu membuat Yura kaget, mata mereka saling terkunci dengan tubuh saling berpelukan. Yura terlihat kikuk dengan tatapan suaminya, ia segera menjauhkan tangannya dari jakun Winter.
"Apa yang kau lakukan Yura?" tanya Winter.
Yura mengigit bibir bawahnya malu seraya menggelengkan kepala. Winter menarik ujung bibirnya tersenyum lalu mengecup kening gadis itu.
Kemudian Winter mengambil tangan Yura dan meletakannya di jakun miliknya lalu pria itu menelan saliva nya membuat jakunnya naik turun.
"Itu yang kau suka?" tanya Winter membuat Yura menahan kedutan di ujung bibirnya agar tidak tersenyum. Karena ia malu.
__ADS_1
Winter hendak menc*um gadis itu tapi Yura segera memalingkan wajahnya. "Jangan, aku sedang demam. Nanti kau ikut demam juga."
Winter tidak menjawab, ia menarik dagu gadis itu dan kembali menciumnya.
*
Demamnya baru turun sedikit tapi Yura meminta keluar dari kamar terus-menerus kepada Winter.
Alhasil Winter membawa Yura ke ruangan tempat ia olahraga untuk menjaga otot-otot tubuhnya.
Yura duduk di pojokan memperhatikan suaminya dengan keringat membasahi tubuhnya.
Kemudian Yura menghampiri Winter memberikan botol minum.
"Terimakasih ..."
Winter meneguk air tersebut membuat jakunnya lagi-lagi naik turun, bukan hanya itu yang Yura lihat tapi pandangan matanya turun ke otot-otot Winter yang ada di dada dan perut pria itu yang kebetulan pria itu olahraga tanpa memakai baju, membiarkan tubuh atletisnya terpampang indah di hadapan Yura.
"Suka?" tanya Winter membuat Yura mengerjapkan matanya dan segera menarik tangannya.
"T-tidak ..."
Winter terkekeh dan mencubit gemas pipi istrinya lalu pria itu merunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Yura.
"Hanya milikmu ..." ucap Winter sambil menuntun tangan Yura kembali memegang otot dadanya.
"H-hah?"
Pria itu langsung menggendong Yura yang masih belum tersadar sepenuhnya akibat terpesona dengan tubuh Winter.
"Mau kemana?" tanya Yura seraya menggerak-gerakan kakinya.
Winter membawa Yura ke dapur. Dan menurunkan gadis itu.
__ADS_1
"Aku mau salad buah," sahut Winter.
"Tidak mau pakai baju dulu?" tanya Yura melihat Winter tanpa baju dengan hanya memakai celana pendek.
"Tidak perlu," sahut Winter lalu mengeluarkan beberapa buah-buahan dari kulkas.
Yura membantu suaminya, ia membantu mencuci buah-buahan tersebut lalu Winter yang memotong.
"Biar aku saja."
Yura merebut pisau dari tangan Winter dan memotong beberapa apel menjadi dadu kecil.
Winter berdiri memperhatikan di samping Yura lalu mengelus rambut gadis itu.
"Jangan sedih lagi ya ... kau harus ikhlas dengan kepergian Mama-mu Yura. Mommy Bayuni juga menyayangimu ..."
Yura berhenti memotong lalu menoleh ke arah Winter dengan tersenyum tipis lalu menganggukan kepalanya.
Ada hal lain yang sedikit menganggu pikiran Winter. Yaitu tentang masa kecil Yura dan Summer. Tapi Winter enggan bertanya karena takut membuat ingatan Yura tentang Summer semakin kuat.
Pria itu berjalan ke belakang tubuh Yura dan memeluk gadis itu dari belakang dengan satu tangan mengambil potongan apel dan memakannya. Yura tersenyum.
Setelah salad buahnya jadi mereka makan satu mangkuk berdua di sofa seraya menonton tv. Dengan Winter yang masih belum memakai baju.
Winter mengelus kepala gadis itu dan ia mendapatkan beberapa helai rambut Yura yang kembali rontok.
"Kenapa?" tanya Yura melihat Winter terdiam.
"Tidak."
Winter menyembunyikan rambut gadis itu di genggaman tangannya, ketika mata Yura beralih kembali ke tv, Winter segera mengantungi helaian rambut gadis itu ke dalam saku celananya. Rambut yang rontok cukup banyak dan akan Winter simpan di kotak tempat biasa Winter dan Yura mengumpulkan rambut yang rontok.
Bersambung
__ADS_1