
Winter sudah berada di mansion Maxime. Ia duduk bersama sang ibu, Milan. Mereka berada di sebuah ruangan dimana orang tidak akan bisa mendengar percakapan mereka.
Mereka hanya khawatir Javier dan Sky tahu perdebatan antara Winter dan Summer.
Maxime berdiri dengan gelisah seraya terus berusaha menelpon Summer. Satu jam yang lalu ia sudah menelpon putra keduanya itu untuk datang ke mansion, tapi sampai sekarang ia tak kunjung datang juga.
"Sepertinya dia tau kalau kau memanggilnya untuk membahas masalah dia dan Winter sayang," ucap Milan.
Maxime berdecak lalu duduk di depan Winter dan Milan.
"Aku coba hubungi yang lain ..."
Maxime menelpon salah satu anak buahnya.
"Temukan Summer sekarang dan bawa ke mansionku ... kalau dia melawan, tembak saja kakinya!"
"Siap Tuan."
Panggilan pun berakhir. Milan menghembuskan nafas dengan menggelengkan kepala menatap suaminya. Darah mafia Maxime seakan tidak bisa hilang bahkan untuk mengatasi anaknya sendiri harus pakai cara menembak.
"Bisa tidak jangan melukai putramu sendiri ..." ucap Milan.
"Peluru nya tidak akan membuat kakinya di amputasi sayang, tenang saja. Hanya pincang sedikit."
Milan berdecak dengan jawaban Maxime.
*
"Cepat sedikit!" Titah Summer kepada Julian yang sedang menyetir.
Mereka hendak kabur ke bandara untuk pergi ke Italy. Summer sudah tahu, Ayahnya menyuruh datang ke mansion pasti untuk membahas dirinya dan Winter.
Bohong kalau Summer tidak takut dengan sang Ayah. Kemarahan Maxime selalu membuat siapapun takut, apalagi dia pemimpin Yakuza dan Antraxs.
"Sabar bos, ini sudah kecepatan tinggi!"
__ADS_1
Ponsel terus berdering dari tadi Maxime terus menelpon nya tapi Summer terus menghiraukan panggilan tersebut.
"Aku kan sudah bilang bos, jangan melakukan hal gila. Kau sih malah menyekap kakakmu sendiri, mati sekarang kita bos!!"
Summer menoyor kepala Julian. "Kau ini banyak bicara sekali!! ayo cepat!!"
Julian menghela nafas, menginjak pedal gas dengan kuat. Sungguh, ia takut mati sekarang. Kalau tidak mati karena kecelakaan, ia takut mati karena di hukum Maxime.
CIITTT
Julian mengerem dengan kuat ketika beberapa motor menghadang mobilnya dari arah depan.
"Bos ..." Julian menoleh ke arah Summer.
"S*al!" geram Summer. Ia tahu pasti mereka anak buah suruhan Daddy nya.
Salah satu dari mereka mengetuk jendela mobil. Karena Summer dan Julian tidak membukanya, mereka menggedor-gedor dengan kuat.
"Tuan Summer ... Tuan Maxime menyuruh kami menangkapmu ..."
"Bagaimana kalau kita tabrak saja?" ucap Summer.
"Bos jangan g*la. Motor besar di depan banyak, di tabrak bagaimana. Yang ada mobil kita yang tidak bisa jalan!!"
Summer menggaruk kepalanya frustasi. Apalagi ponselnya terus berdering, Maxime terus menelpon nya. Di luar anak buah suruhan Ayahnya juga terus menggedor-gedor jendela.
"Menyerah saja lah Bos, mereka punya pistol, kita tidak! kau sih bukan mafia seperti Ayahmu, susah kan kita melawannya kalau seperti ini," gerutu Julian.
"Bisa diam tidak kau sial*n!!" Summer kembali menoyor kepala Julian.
*
Summer dan Julian benar-benar menyerah. Dari pada kaki mereka di buat sasaran pistol mereka memilih mengalah saja.
Mobil mereka dibawa oleh dua penjaga sementara mereka duduk di kursi belakang.
__ADS_1
Summer melayangkan tatapan tajam kepada salah satu anak buah yang menyetir.
"Antar aku ke bandara ..."
"Maaf Tuan, kami hanya menuruti perintah Tuan Maxime."
Julian berbisik. "Bos, coba saja kau penerus mafia. Mereka pasti menurut kepadamu."
Lagi-lagi Summer menoyor kepala Julian agar menjauh dari wajahnya.
"Berisik kau ini! dari tadi coba saja ... coba saja!!"
Pandangan Summer turun ke pistol yang menonjol di saku salah satu anak buah yang duduk di samping kemudi.
Kaki Summer menginjak kaki Julian. Julian pun menoleh. Summer memberi isyarat dengan matanya menunjuk pistol di saku celana anak buah Ayahnya itu.
Julian menggelengkan kepala meminta bos nya untuk tidak melakukan hal aneh yang mengancam nyawa.
Tapi Summer melotot kepada Julian agar Julian menurut dan mengambil pistol itu.
Julian menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara. "Bahaya Tuan ..."
Summer menginjak lebih keras kaki Julian membuat Julian mendesis dan memancing dua anak buah di depan menoleh ke belakang.
Kemudian mereka kembali hening ketika Summer dan Julian memalingkan pandangan mereka ke luar jendela seakan tidak terjadi apa-apa.
Setelah di rasa suasana cukup aman. Perlahan Julian mengulurkan tangan nya dengan hati-hati untuk mengambil pistol tersebut.
Tangan Julian gemetar karena merasa ini bukan ide yang baik.
Ketika tangannya sudah hampir dekat mengambil pistol itu seketika anak buah Maxime lebih dulu mengambil pistol nya dan menodongkannya ke belakang membuat Julian melebarkan matanya.
Summer mendengus kasar karena Julian gagal mendapatkan pistol itu.
"A-ampun ..." Julian mengangkat kedua tangan nya.
__ADS_1
Bersambung