
"Dulu, Dad lebih mudah mendidikmu dan Miwa karena kalian berbeda. Kau pria dan Miwa wanita, keinginan kalian sudah pasti beda. Karena Winter dan Summer sama-sama pria, kau berpikir keinginan Summer, keinginan Winter juga, salahnya di sana Maxi. Tapi keputusanmu untuk tidak menjadikan mereka mafia sepertimu sudah sangat benar, kalau saja mereka sama-sama mafia, mungkin ketika bertengkar, bukan mulut yang berbicara tapi suara pistol," ucap Javier kemudian terkekeh.
Maxime menghela nafas. "Sekarang mereka bermusuhan sepertinya Dad."
"Bermusuhan mereka tidak bahaya sepertinya, Maxi ... biarkan saja, keputusan ada di tangan Yura. Kalau benar dia teman kecil Summer nanti dia akan memilih teman kecil atau suaminya."
"Padahal Winter sangat dekat dengan Summer, tidak di sangka sekarang malah seperti ini ..."
"Begitulah, tidak punya musuh di luar malah salah satu keluarga yang jadi musuh," sahut Javier.
*
Sementara itu di apartemen Lail sedang menjelaskan kejadian bertengkarnya Summer dengan sepupunya di klab kepada Magma yang duduk sambil merokok dengan atasan terbuka tanpa baju.
"Jadi mereka memperebutkan Yura?"
"Benar, Tuan."
Magma menarik ujung bibirnya tersenyum. "Cih, seperti wanita hanya ada satu saja."
Iya, pikiran pria brengs*k sepertimu pasti begitu, Tuan. Tiap malam saja wanitanya beda-beda.
Kemudian seorang Dokter masuk ke apartemen. Magma dan Lail menoleh.
"Sudah ada hasilnya?" tanya Lail.
Dokter Rico anak dari Dokter Alvad. Ia duduk di samping Lail.
"Sudah, aku berusaha keras agar hasilnya cepat keluar, huh."
Magma mematikan rokoknya di asbak.
"Bagaimana hasilnya?"
Dokter Rico membuka map di tangannya lalu mengambil kertas di sana.
"Hasilnya ...." Dokter Rico kemudian menatap Magma sejenak.
"Jangan seperti di sinetron, cepat katakan saja," bisik Lail.
Dokter Rico berdecak kepada Lail. "Tidak sabaran."
"Hasilnya positif, kau benar anak si tua itu ..."
Lail melebarkan mata sementara Magma hanya menarik ujung bibirnya tersenyum kemudian kembali menyalakan rokok.
Dia tidak tahu perasaannya seperti apa sekarang, harus senang atau sedih mendengar kabar tersebut.
__ADS_1
"T-tuan ... apa kita akan ke rumah Benjamin hari ini?"
"Panggil dia Tuan Benjamin," pekik Magma.
Mendengar hal itu Lail dan Dokter Rico saling menoleh. Kalimat Magma seolah-olah menunjukan dia menerima Benjamin sebagai Ayahnya.
Dokter Rico pun berbisik kepada Lail. "Heh, kalau ternyata si tua itu tidak mau mengakui Tuan Magma sebagai anak bagaimana?"
"Aku akan membunuhnya," pekik Magma yang mendengar ucapan Dokter Rico barusan.
Lail dan Dokter Rico lagi-lagi di buat terkejut dengan ucapan Magma.
*
Siang ini mereka benar-benar pergi mengunjungi rumah Benjamin. Mereka berhenti di depan gerbang.
Satpam pun menghampiri jendela Lail. Lail menurunkan jendela mobilnya.
"Cari siapa, Nyonya?"
"Tuan Benjamin."
"Ada, tapi sebelumnya sudah membuat janji?" tanya Satpam itu kembali.
"Sudah," sahut Magma yang duduk di samping Lail sambil menodongkan pistol ke arah satpam.
"Buka," titah Lail.
"I-iya Nyonya."
Satpam itu segera membuka gerbang, mobil pun masuk.
"Aku harus menelpon nona Yura."
Satpam itu dengan tergesa-gesa mencari-cari nomor Yura di kontak dan langsung menelponnya.
"Ya Pak Adam?"
"Non gawat Non!!"
"Ada apa?"
"Ada pria aneh masuk rumah bawa pistol."
"Pak jangan bercanda!" pekik Yura dengan nada khawatir.
"Sumpah, Pak Adam tidak bercanda Non."
__ADS_1
"Oke oke, aku kesana sekarang."
Yura berlari keluar dari kamar, menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Ia meminta supir mengantarnya ke rumah orang tuanya. Di perjalan ia menelpon Winter dan mengatakan apa yang di katakan Pak Adam.
Winter pun mengatakan ia akan segera pergi ke rumah Benjamin.
*
Lail menekan bel beberapa kali.
"Sebentar."
Bi Ijah berlari tergopoh-gopoh dari arah dapur menuju pintu utama. Ketika membuka pintu, dua orang tersebut melengos masuk begitu saja dan duduk di sofa.
"Loh, loh ... kalian siapa?" tanya Bi Ijah heran berlari mendekati sofa.
"Ada Tuan Benjamin?" tanya Lail.
"Ada tapi--"
"Panggilkan dia," pekik Magma.
"Maaf Tuan tapi--"
Lagi-lagi ucapan Bi Ijah terpotong oleh todongan pistol dari Magma.
Tubuh Bi Ijah gemetar ketakutan seketika, perempuan tua itu mengangkat kedua tangan nya.
"Panggilkan sekarang," ucap Lail.
"SIAPA KALIAN!" teriak Benjamin dari lantai atas.
Magma, Lail dan Bi Ijah mendongak seketika. Magma kembali menyimpan pistolnya. Benjamin segera turun bersama Bayuni yang terlihat ketakutan di belakang Benjamin.
Mereka duduk di hadapan Magma dan Lail. Benjamin menatap mereka bergantian. Bi Ijah memilih bersembunyi di dapur.
"Siapa kalian?" ulang Benjamin. "Dan kenapa masuk ke rumahku tidak ada sopan santun sama sekali!"
Lail menyimpan hasil tes DNA di meja. Benjamin menatap kertas coklat tersebut lalu menatap istrinya.
"Apa itu?" tanyanya menatap Magma.
"Baca saja Tuan," sahut Lail.
Benjamin perlahan mengambil map tersebut. Membukanya dan membacanya dengan Bayuni.
Seketika mata keduanya membulat sempurna. Mereka sontak menatap Magma.
__ADS_1
Bersambung