
Ketika selesai kemoterapi, Yura duduk di kursi roda, Winter mendorongnya menuju mobil. Ia membuka pintu mobil lalu menggendong Yura masuk ke mobilnya. Setelah menutup pintu, ia mengitari mobil dan masuk ke balik kemudi.
Yura menoleh dengan wajah sedikit pucat. "Kita langsung pulang?"
Winter mengangguk dengan mengelus kepala gadis itu.
Kemudian mobil pun melaju keluar dari halaman Rumah Sakit. Winter sesekali menoleh ke arah Yura, gadis itu hanya diam menatap jalanan di depan.
"Lemas?" tanya Winter.
Yura menoleh lalu menganggukan kepala.
"Sabar ya ... untuk kesembuhanmu."
"Iya Winter."
Ketika sampai di mansion Winter menggendong Yura dan membawanya ke kamar, ia menidurkan gadis itu di ranjang.
Kemudian Winter keluar sebentar untuk mengirim pesan kepada Lusi agar menceritakan kejadian tsunami enam belas tahun yang lalu di telpon.
Winter masih belum bertemu dengan Lusi karena harus terus menemani Yura.
Seperti sekarang, satu jam setelah kemoterapi mereka kembali pulang ke mansion. Dan Yura merasakan lemas luar biasa di tubuhnya, seakan tidak ada sisa energi di tubuhnya, rasa lemasnya lebih parah dari efek kemoterapi yang pertama.
Yura hanya bisa berbaring di ranjang merasakan setiap sendi tubuhnya yang terasa sakit dan ngilu tiba-tiba.
Winter sudah memberikan obat pereda nyeri, yang bisa di lakukan Winter hanya menemani istrinya tanpa bisa berbagi rasa sakit yang di rasakan Yura.
Winter mengelus-ngelus punggung gadis itu, mereka tidur saling berhadapan dengan Yura yang memejamkan matanya, tapi dia tidak tidur sama sekali.
Ponsel Winter berdering di meja samping ranjang, ia berbalik untuk mengambil ponselnya dan melihat nama Lusi tertera di layar, pria itu pun mengambil earphone di laci, memasangkannya di telinga kanan lalu menghubungkannya ke ponsel lewat bluetooth.
Winter kembali berbalik menatap istrinya dengan mendengarkan celotehan sekretarisnya di earphone. Tangannya kembali mengelus punggung Yura, Yura tidak akan mendengar apa yang di bicarakan Lusi.
Saya bertemu dengan seorang reporter yang saat muda dia meliput kejadian tsunami di pantai Greenland, Tuan. Reporter itu mengatakan dia menemukan anak perempuan tertimpa reruntuhan tsunami di dekat pantai. Tas anak itu masih ada di reporter yang saya temui. Di dalam data, anak itu termasuk WNA, dia dari Italy yang kebetulan hari itu datang ke sini, entah untuk liburan atau mengunjungi keluarganya.
__ADS_1
Dan di dalam tas anak itu ada dua paspor. Nama lengkap anak itu Aletta Citra Aurelia dan itu pasport Italy, Tuan ...
Lusi menggantung kalimatnya sejenak.
Foto di pasport anak itu sama dengan foto kecil Yura, Tuan ...
Winter berhenti mengelus punggung Yura ketika Lusi mengatakan hal demikian. Ucapan Lusi benar-benar membuatnya kaget.
Ada satu pasport lagi yang sepertinya milik ibu dari anak itu. Namanya Ayura ...
Anak itu di bawa ke Rumah Sakit oleh warga, dua minggu kemudian reporter itu bilang ada sepasang suami istri yang membawa anak itu pulang dari Rumah Sakit.
Lusi kembali berhenti sejenak. Ia menghela nafas.
Di tas anak itu juga ada foto Tuan Summer bersama Aletta ketika di pantai.
Lusi tahu yang di foto itu Summer karena walaupun wajahnya sama dengan Tuan nya, tapi anak lelaki itu terlihat ramah dan tersenyum di foto.
Mendengar hal itu, Winter mengambil kasar earphone di telinga nya, membantingnya dengan keras ke lantai sampai membuat Yura yang sedari tadi memejamkan mata kaget dengan suara tersebut.
"Apa itu?" tanya Yura pelan.
Tatapan Winter melunak ketika mata Yura menatapnya, ia merasa bersalah karena membuat kaget istrinya.
"Tidak Yura ... tidurlah, kau masih merasa lemas kan."
Yura mengangguk pelan.
"Yasudah tidur saja." Winter mengusap kepala gadis itu, memberikan ketenangan agar Yura kembali tidur. Winter menghela nafas panjang menatap Yura.
.
*
Satu jam Yura tidur, gadis itu perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia lihat mata suaminya yang tengah menatap dirinya entah dari kapan.
__ADS_1
"Winter ..." panggilnya pelan.
"Hm ..."
"Mau pipis."
Winter segera beranjak dari ranjang lalu menggendong tubuh gadis itu ke kamar mandi dan mendudukannya di kloset.
"Panggil kalau sudah."
Yura mengangguk. Ketika buang air kecil Yura terus membatin dalam hatinya.
Menyebalkan. Kenapa aku merasa tubuhku tidak punya tulang ya, rasanya lemas sekali sampai aku tidak bisa berdiri. Kalau seperti ini, Winter pasti membuka bajuku lagi.
"Yura sudah?" Tanya Winter sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Belum," sahut Yura.
Gadis itu berusaha berdiri untuk kembali memakai celana nya. Pintu kamar mandi tidak tertutup sepenuhnya, Winter masih bisa mengintip dari luar, ketika melihat Yura sedikit kesusahan memakai celana Winter pun masuk dan membantu Yura.
Yura sempat menolak tapi di acuhkan oleh Winter. Yura kembali di gendong oleh suaminya ke ranjang.
Yura duduk dengan bersender ke kepala ranjang, kakinya lurus. Dan Winter duduk menatap Yura di sisi ranjang.
"Yura."
"Ya?"
"Kuat ya ..."
Ada perasan tidak tega melihat istrinya sakit sampai tubuhnya sangat lemas.
Yura tersenyum. "Pasti Winter ... ada kau yang menemaniku. Aku pasti kuat lah."
Pria itu mendekat dan memeluk Yura dengan lembut, mengelus rambut gadis itu sampai ke punggung, terus berulang sampai Yura benar-benar merasa nyaman dengan elusan dari tangan Winter.
__ADS_1
Bersambung