
"Sudah lama aku tidak makan di sini," ucap Yura yang sedang makan di gereja, di ruangan tempat biasa mereka makan berdua setelah bersih-bersih gereja.
Winter tersenyum menyuapkan pizza ke mulut istrinya. "Aku pikir ini tidak akan terulang lagi, Yura ..."
"Sepertinya ini upah dari Tuhan karena kita sering membersihkan gereja. Aku yang mati sebentar kembali hidup," ucap Yura seraya terkekeh pelan.
Winter mengangguk dengan tersenyum.
"Kau semakin cantik ..."
"Sudah berapa kali kau mengatakan itu Winter." Yura menggeleng pelan.
Dari awal perjalanan menuju ke gereja. Hanya kalimat 'kau semakin cantik' yang terus di katakan Winter kepada dirinya.
Winter terkekeh. "Kau tidak senang aku memujimu?"
"Senang lah ..." Yura menggenggam tangan suaminya dengan tersenyum.
"Jadi, tidak perlu pake pengaman kan?"
Yura sontak berhenti mengunyah pizza dan melebarkan mata mendengar ucapan Winter. "Kau ..."
"Kau kan sudah sembuh," potong Winter.
"I-iya sih, tapi jangan bahas di sini."
"Yasudah, kita bahas di tempat lain."
Winter menarik tangan Yura. Yura sempat menahannya tapi pria itu terus menarik tangan nya.
Mereka kembali masuk ke mobil setelah makan bersama.
__ADS_1
"Kemana?" tanya Yura seraya memaka seatbealt.
"Italy," sahut Winter. "Mau naik kapal pesiar kan?"
"Kau masih ingat itu." Mata Yura berbinar senang.
"Tentu saja." Winter mengelus kepala Yura.
Mobil pun melaju pergi ke bandara. Di sepanjang jalan Yura terus bercerita tentang apa saja yang di lakukan dirinya di Spanyol selama tiga tahun lebih tinggal di sana dengan Magma.
Winter menanggapi istrinya yang antusias bercerita dengan sesekali menoleh, tersenyum dan menganggukan kepala dengan artian pria itu tidak mengacuhkan cerita Yura.
Winter akan mendengarkan apapun yang Yura katakan, karena itu termasuk moment berharga dalam hidupnya. Ketika Yura tertawa dia juga ikut tertawa walaupun terkadang cerita Yura tidak terlalu lucu menurutnya, tapi membuat istrinya merasa di hargai ketika bercerita pasti akan membuat Yura senang.
Bahkan hal tidak penting pun Yura menceritakannya kepada Winter. Seperti dia sedang bersepedah dan mendapati burung mati lalu mengajak Magma menguburkan burung itu di belakang mansion, ekspresi Magma yang tidak mau menguburkan burung membuat Yura tertawa dan Winter pun ikut tertawa padahal dia tidak tahu ekspresi wajah Magma seperti apa hari itu karena dia tidak ada di sana.
Sekali lagi, kesenangan Yura lebih utama.
Seakan tak habis-habisnya cerita Yura. Di pesawat pun dia masih menceritakan hidupnya saat tinggal di Spanyol.
"Nanti kita jalan-jalan juga ke Spanyol ya, aku punya banyak rekomendasi tempat yang bagus untuk di kunjungi bersamamu ..."
"Ayo ... setelah dari Italy ya," sahut Winter.
Yura mengangguk senang. Kemudian seorang pramugari menyajikan makanan untuk mereka.
Yura hanya makan pisang sementara Winter makan salad. Yura memperhatikan salad di piring Winter lalu menatap salad miliknya.
"Punyamu kenapa terlihat lebih enak," ucap Yura.
"Hah? ini sama ..." sahut Winter.
__ADS_1
"Benarkah."
Winter yang tidak mau ribet akhirnya menukar salad miliknya dengan salad milik Yura. Yura tersenyum senang lalu memakan salad sisa suaminya.
Yura minum Yakult, menyisakannya setengah lalu menyuruh Winter untuk menghabiskannya.
"Nih, untukmu ..."
Winter tersenyum dan menghabiskan Yakult itu.
Sesampainya di Italy mereka pergi ke dermaga dan langsung naik ke kapal pesiar. Tidak ada tujuan kemana mereka pergi, mereka hanya ingin menikmati waktu berdua di tengah laut.
Sampai sore hari menjelang malam, sekitar laut mulai berwarna kuning pertanda matahari akan tenggelam.
Senja selalu indah jika melihatnya berdua dengan orang yang di sayangi. Mereka duduk di luar kapal saling berpelukan menonton matahari tenggelam.
"Kau tau apa yang konyol."
"Apa?" Yura mendongak menatap suaminya yang sedang menatap lautan.
"Aku melarung abu yang aku pikir itu abu istriku di pantai ini, aku duduk di sini sambil melamun memeluk guci abu itu. Semuanya seakan berakhir hari itu Yura ... aku merasa tidak ada hari esok yang harus aku lanjutkan lagi tanpamu ..."
Yura tersenyum haru mendengar itu. Pria musim dingin yang di awal pertemuan seperti orang bisu seakan berubah sangat banyak. Dia senang, merasakan di cintai begitu besarnya dengan pria musim dingin ini.
"Winter ..." panggil Yura.
Winter merunduk menatap iris mata istrinya. "Hariku juga berakhir kalau kau tidak ada. Saat aku di Spanyol aku benar-benar depresi mendengarmu hampir bunuh diri, aku takut keluargamu lengah menjagamu. Sampai akhirnya aku mendengar kau mulai konsul dengan psikolog, semangatku untuk sembuh semakin kuat. Terimakasih sudah bertahan untuk tetap hidup Winter ..."
Winter tersenyum membelai wajah istrinya dengan lembut lalu menci*m nya.
Bersambung
__ADS_1