Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#123 Selamat tinggal Javier


__ADS_3

Mereka baru mengadakan pemakaman keesokan harinya, Javier berada di dalam pati dengan memakai jas hitam, rambutnya sebagian berwarna putih karena usia.


Keluarga memutuskan untuk membekukan jenazah Javier terlebih dahulu karena harus menunggu kepulangan Winter dan Yura dari Italy.


Mereka takut kepulangan Winter terhambat sesuatu jadi membekukan jenazah Javier pilihan terbaik.


Gereja di penuhi bunga berwarna putih, para rekan bisnis datang memberi belasungkawa. Pemakaman ini lebih besar dari pemakaman Yura dulu, karena Javier termasuk pemimpin De Willson group ketiga setelah Andreas dan Ataric.


Maxime harus terlihat tegar menyalami para rekan bisnis nya dan juga sahabat-sahabat Javier. Summer berdiri di samping Ayahnya ikut menyalami mereka yang datang.


Sky masih menangis di samping peti jenazah. Mengingat kenangannya dulu bersama suaminya. Tak di sangka, dirinya yang dulu menikah terpaksa karena kesalahan Ayahnya, Herry. Bisa sampai secinta ini kepada Javier.



Para rekan bisnis dan sahabat lama Javier yang masih hidup mendekati peti jenazah menatap wajah Javier untuk terakhir kalinya.


Reagan yang tidak tahu apa-apa hanya berlarian di gereja sambil menerbangkan pesawat mainan dan ikut menyalami rekan bisnis yang datang dengan tertawa.


Mereka yang gemas dengan sikap Reagan mencubit pipi gembul anak itu.


Keenan and the geng duduk di salah satu kursi menatap hampa peti jenazah di depan mereka.


"Tidak di sangka, dia pulang lebih dulu dari kita," gumam Keenan kepada yang lain.

__ADS_1


"Tuan Javier ... selamat jalan, terimakasih atas jasamu kepada kami selama ini," ucap Jonathan.


"Hari-hari terbaik ku ketika mengenalmu Tuan Javier, ayo perang lagi di akhirat nanti," ucap Aiden yang lengannya langsung di sikut oleh Sergio.


"Di suruh tenang di akhirat bukan di suruh perang." pekik Sergio.


"Maaf."


Mobil masuk ke halaman gereja, orang-orang tahu itu mobil Winter. Para wartawan langsung berlari mendekati mobil. Anak buah De Willson seakan harus berperang dengan wartawan.


Winter mengitari mobil untuk mengeluarkan Yura. Dia harus memeluk dan melindungi istrinya di tengah-tengah kerumunan wartawan yang saling berdesakan.


Winter dan Yura terlihat memakai pakaian hitam dengan kaca mata. Karena Winter yang menjadi penerus De Willson group jelas dialah yang paling di incar wartawan.


"Tuan Winter bagaimana perasaan anda?"


"Tuan, apakah Tuan Javier akan di makamkan atau di kremasi?"


"Hei minggirlah!!" pekik anak buah De Willson.


"Beri jalan ... beri jalan ..."


"Jangan berdesakan!!"

__ADS_1


"Woy kepar*t pergilah kalian wartawan sial*n!!" hardik anak buah De Willson yang benar-benar kesal dengan wartawan.


Winter dan Yura berhasil keluar dari lautan wartawan yang menghimpit tubuh mereka tadi.


Ketika masuk ke gereja semua tatapan langsung beralih menatap Winter dan Yura.


Winter memeluk Maxime yang masih terisak. Kemudian memeluk Summer lalu berjalan ke peti jenazah, ia memeluk Sky terlebih dahulu lalu menatap jenazah sang kakek.


Di lihatnya wajah kakeknya yang kini tertidur untuk selama-lamanya itu. Javier, yang menjodohkan dirinya dengan Yura.


"Grandpa ..." Winter mengelus tangan Javier. "Maaf aku telat datang ..."


Penyesalan Winter adalah tidak bisa ada di detik-detik meninggalnya Javier. Kakek yang sangat menyayangi dirinya dan selalu memanjakan Winter dan Summer.


Winter menghela nafas berat, ia mengusap matanya yang hendak menangis dengan Yura di sampingnya yang terus mengelus punggung Winter menenangkan.


Maxime, Miwa, Winter dan Summer berbincang untuk memutuskan jenazah Javier di makamkan atau di kremasi. Sky tidak bisa di ajak diskusi karena masih menangis di samping peti jenazah.


Keputusan mereka akhirnya mengkremasi jenazah Javier.


Di bawa lah peti itu ke tempat kremasi oleh beberapa orang. Sky duduk di kursi roda di dorong oleh Laura karena kakinya tidak kuat berjalan mengantar peti jenazah suaminya.


__ADS_1


Bersambung


__ADS_2