Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#43


__ADS_3

Karena Winter pergi ke kantor, Yura merasa bosan di mansion dan meminta supirnya mengantar ke rumah Bella.


Winter sudah mengatakan kepada gadis itu, tidak boleh keluar selain di antar supir mulai sekarang.


Yura berada di kamar Bella, tiduran di punggung sahabatnya yang sedang main game.


"Bel ..."


"Hmm?"


"Kalau ..." Yura menggantung kalimatnya memandang langit-langit kamar Bella.


"Kalau apa?" tanya Bella.


"Kalau aku mati bagaimana?" celetuk Yura membuat Bella berhenti main game sejenak.


"Kau bicara apa sih?" Bella menoleh kemudian kembali melanjutkan main game di ponselnya.


"Ya aku hanya bertanya saja. Bagaimana kalau aku mati? kau mau cari sahabat baru?"


"Tentu saja," sahut Bella asal.


Karena mereka sering bercanda, hal seperti ini pun tidak di anggap serius oleh Bella. Dan lagi Bella tidak tahu kalau sahabatnya sakit.


Yura menghembuskan nafas. "Berarti Winter juga pasti mencari perempuan lain kalau begitu ..."


"Bisa jadi."


"Ih Bel, aku serius. Kau sebenarnya mendengarkanku tidak?"


"Aku mendengarkan mu, Ayura ..." Bella beranjak untuk duduk membuat kepala Yura merosot ke ranjang.


"Lagian kenapa sih kau tiba-tiba tanya hal seperti itu? seperti orang yang akan mati saja."


"Ya kan aku bilang 'kalau aku mati' Bella ..."


"Kau ini sehat, tidak penyakitan. Jadi jangan bicara aneh-aneh, aku tidak akan mencari sahabat baru, aku lebih suka sahabatku yang bodoh ini ..." Bella mengetuk kening Yura dengan jari telunjuknya.


"Huh kau menyebalkan!" Yura ikut bangun dan kini duduk berhadapan dengan Bella.


"Kalau kau bilang tidak akan cari sahabat baru, belum tentu Winter tidak cari istri baru. Iya kan?"


Bella berdecak, menyimpan ponselnya lalu menatap Yura. "Kau kenapa sih? aneh sekali ... pakai mikir Winter cari istri baru segala. Kau tau pemimpin Antraxs yang sebelumnya tidak?"


Yura menggeleng.


"Astaga Yura ... namanya Xander Valaric, dia kakek buyut Winter."


"Oh iya? kau tau darimana?"


"Baca artikel dong, mertua mu kan terkenal dari dulu sebagai mafia. Hanya suamimu saja yang tidak ada di artikel."


Yura hanya mengetahui mertua nya seorang mafia. Tapi tidak pernah membaca sejarahnya, siapa saja pemimpin sebelumnya, siapa orang yang mendirikan kelompok mafia tersebut. Karena Yura tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu.


"Ada tau, kan jadi pengusaha." Yura membela.

__ADS_1


"Iya ... iya ..."


"Sekarang hubungannya apa sama Kakek buyut Winter?" tanya Yura penasaran.


"Xander Valaric tidak menikah seumur hidupnya karena di tinggal mati orang yang di cintai ..."


Yura melebarkan matanya. "Benarkah?"


Bella mengangguk serius. "Parah sekali kan ..."


"Ya, parah sekali cinta nya. Sampai mati."


"Itu artinya ..." Bella meraup kedua pipi Yura. "Sahabatku yang cantik ini kalau mati, pasti Winter menikah lagi."


"Ih kok gitu!" Yura menepis tangan Bella tidak terima. Sementara Bella tertawa.


"Ya kan Winter bukan Xander Valaric, belum tentu cintanya sampai mati kepadamu Yura ..." sahut Bella sambil tertawa membuat Yura menekuk wajahnya.


*


Yura berjalan di trotoar sendirian, merenungkan ucapan Bella yang berhasil memenuhi isi kepalanya.


"Benar juga ... Winter kan masih muda, tampan dan kaya raya, siapa yang tidak mau sama dia kalau aku mati ..."


Yura menghembuskan nafas kemudian menengadah. "Tuhan ... kenapa aku di beri penyakit sih." rengeknya.


Sebuah mobil berhenti di samping Yura. Yura menoleh, meneliti mobil yang sepertinya ia kenal. Ketika seseorang keluar.


"Summer ..."


"Kau kenapa berdiri di sini, liat apa?" Summer menengadah menatap langit karena penasaran apa yang di liat Yura tadi.


"Ada langit tau. Oh iya, kau darimana?"


"Aku baru pulang dari Italy."


Yura mengangguk-ngangguk.


"Mau ... ke pantai?" tanya Summer.


Hening beberapa detik, soal pantai ia jadi ingat seseorang yang mengirimnya pesan kemarin.


Pas sekali, tidak ada Winter. Aku bisa ke pantai bersama Summer saja.


"Ayo ..." Yura mengangguk membuat Summer tersenyum.


Mobil pun melaju menuju ke pantai dengan Summer yang sesekali menoleh ke arah Yura di sampingnya.


"Kau ... pernah ke Italy?" tanya Summer tiba-tiba.


Yura menoleh lalu menggelengkan kepala.


"Kemana saja Negara yang pernah kau datangi?"


"Eumm ..." Yura terlihat berpikir. "Singapore, malaysia, korea, jepang, thailand ... banyak lah hehe."

__ADS_1


"Wah ... banyak sekali. Jalan-jalan saja?" tanya Summer.


Yura mengangguk. "Dad dan Mom suka sekali traveling."


"Tapi kenapa tidak ke Italy?"


Yura menggeleng. "Tidak tau, Daddy bilang aku boleh mengunjungi Negara manapun kecuali Italy. Aku tidak tanya alasannya, karena aku juga tidak berniat pergi ke sana."


Hening. Summer penasaran kenapa Benjamin melarang Yura pergi ke Italy dari banyaknya Negara yang gadis itu kunjungi.


"Kalau kau pernah kemana saja?" tanya Yura kemudian.


Summer menoleh, tersenyum miring. "Aku sama sepertimu, banyak yang aku kunjungi. Tapi Italy favorit ku."


"Kenapa?" tanya Yura penasaran.


"Ada gadis favorit ku di sana."


Mobil berhenti di pinggir pantai. Mereka masih mengobrol tanpa keluar dari mobil.


"Gadis favoritmu? kau punya pacar Summer?"


"Lebih tepatnya ... teman kecil."


"Teman kecil, lalu dia bagaimana sekarang?" Yura masih penasaran dengan kehidupan Summer di Italy.


"Kau jangan bilang siapa-siapa ya, ini rahasiaku. Aku hanya membagikannya kepadamu, Yura ..."


"Kau tenang saja, aman!" Yura melakukan gerakan mengunci mulut membuat Summer terkekeh pelan.


Kemudian pria itu memalingkan wajahnya ke lautan. Menatap ombak seraya mengenang masa kecilnya.


"Saat umurku sepuluh tahun, aku pergi ke mansion kakek buyutku. Niatnya hanya untuk membersihkan mansion yang sudah lama di tinggalkan, tapi ketika kami jalan-jalan ke pantai, aku bertemu dia di sana ... dia sangat cantik, gadis sederhana anak penjual ikan. Dia memberikan ikan gratis untuk keluargaku. Kau tau apa yang lucu?" Summer menoleh ke arah Yura.


"Apa?" tanya Yura.


Summer kembali menatap lautan.


"Keluargaku ada dua puluh enam orang saat itu yang ada di pantai, dia datang memberikan kami satu ikan untuk di masak. Coba kau bayangkan satu ikan untuk dua puluh enam orang." Summer tertawa mengingatnya, Yura pun ikut tertawa.


Summer berhenti tertawa ketika mengingat hari terakhirnya bersama Letta. "Lalu aku pulang kesini setelah membuat janji kepada dia kalau aku akan sekolah dan kerja di Italy. Tapi ketika aku kembali ..."


Summer menghela nafas panjang. "Dia tidak ada di sana, aku tidak tau dia pergi kemana ... sampai sekarang aku belum menemukannya, Yura ..."


Karena merasa kasihan Yura mengelus pundak Summer menenangkan. "Sabar ya ..."


Summer menatap tangan Yura di pundaknya lalu bola matanya beralih menatap iris mata milik Yura.


"Tapi aku merasa aku sudah menemukannya kembali sekarang ..."


"Benarkah? dimana teman kecilmu?"


Di depanku. Aku yakin kau Letta ...


#Bersambung

__ADS_1




__ADS_2