Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#162 Magma memberi hadiah


__ADS_3

Milan maupun Bayuni bergantian datang ke mansion Winter untuk membantu Yura merawat kedua putrinya, apalagi jika siang hari Winter juga harus pergi ke kantor.


Yura mendapatkan banyak dukungan dari keluarganya dan keluarga Winter.


Apalagi kali ini, Magma sebagai kakak juga datang mengunjungi adiknya. Dia duduk di sofa sambil melihat Bayuni menggendong Talia dan Yura menggendong Tania.


"Mereka jelek."


"Heh!" Magma langsung mendapat semprotan tidak suka dari Bayuni.


"Beruntung aku tidak punya putra laki-laki, jadi aku tidak takut anakku sepertimu kak," ucap Yura dengan tatapan tidak suka karena tadi Magma mengatakan kedua putrinya jelek walaupun itu hanya lah candaan.


Magma tersenyum miring. "Yang perlu kau khawatirkan, bagaimana jika nasib putrimu berjodoh dengan pria sepertiku."


"Ih amit-amit!" Yura bergidik, jangan sampai kedua putrinya di cintai mafia seperti kakaknya. Semoga mereka mendapatkan pria yang seperti Winter di masa depan.


"Cinta buta, Yura!" ucap Magma.


"Jangan membahas cinta. Kau tidak akan mengerti, nikah saja tidak mau huh."


Magma berdecak sambil memalingkan wajahnya. Bayuni dan Yura masih belum tahu soal Laura yang terus menerus mengejar dirinya sampai terkadang membuat Magma frustasi sendiri.


"Mau coba gendong tidak?" Bayuni menawarkan.

__ADS_1


"Tidak!"


"Cobalah dulu ... siapa tau kau berubah pikiran untuk menikah dan punya anak Magma."


"Tidak, Mom. Aku tidak akan menikah apalagi punya anak," sahut Magma membuat Bayuni menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Kemudian Magma mengambil sesuatu di balik jas hitamnya. Kunci mobil, dia menyimpan kunci mobilnya itu di meja.


"Hadiah untuk anakmu ..."


Bayuni dan Yura saling menoleh bingung kemudian menatap Magma.


"Apa maksudmu?" tanya Yura.


"Anakku ini perempuan, kak!" sahut Yura yang heran anak perempuan di beri mobil.


"Boneka terlalu murah," sahut Magma kemudian beranjak dari duduknya. "Aku pergi dulu ..." Ia mengangkat tangan nya ke udara kemudian melengos begitu saja meninggalkan Ibu dan adiknya yang masih mematung heran menatap kepergian Magma.


"Astaga Mom ... untung saja anakku perempuan, coba kalau laki-laki. Dia pasti berani memberi hadiah pisol untuk anak-anakku ..."


Bayuni mengangguk setuju dengan ucapan Yura. Bayuni bukan berarti mendiamkan Magma ketika pria itu masih saja menjadi seorang mafia. Tapi menasehati pria yang sudah sangat dewasa seperti Magma pasti sulit dan akan berdebat jika di nasehati.


Ia hanya berharap Magma tidak membunuh siapapun di Negara ini.

__ADS_1


*


Bayuni sudah pulang ketika Winter sudah pulang ke mansion dari kantornya. Pria itu langsung menggendong Tania dan memandikan bayi tersebut dengan lembut.


Setelah selesai, giliran Talia yang di mandikan. Yura sendiri sebagai seorang Ibu masih belum mahir dalam memandikan bayi, dia masih takut membayangkan putrinya terjatuh dari tangan nya.


Sementara Winter sudah terbiasa memandikan Reagan dari dulu, alhasil dia lah yang bertugas memandikan kedua putrinya ketika Bayuni atau Milan sudah pulang.


Di ranjang Yura sedang memakaikan baju untuk Tania. Sesekali ia mengajak Tania berbicara dan tertawa.


"Yura, apa ASI mu lancar?" tanya Winter menghampiri Yura dengan menggendong Talia yang baru selesai di mandikan.


"Lancar Winter."


"Baguslah," ucap Winter sambil tersenyum.


Winter pun menidurkan Talia di samping Tania dan mulai memakaikan baju yang kembar dengan Tania.


Mereka sama-sama merawat kedua putri mereka. Terkadang jika malam hari salah satu bayi mereka menangis, jika Yura tidak bangun maka Winter lah yang akan mengurus bayi nya, memberikan asi yang sudah di hangatkan dari kulkas.


#Bersambung


Besok cerita ini TAMAT. Sebelum lanjut ke De Willson series 4. Aku mau beresin dulu cerita Magma dan Laura. Jadi di favoritin dulu ya cerita mereka hehe

__ADS_1



__ADS_2