Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#146 Masih ngidam


__ADS_3

Jony masuk ke kamar Anaya, menghampiri putri semata wayangnya itu yang tengah duduk di depan komputer.


Istrinya meninggal sejak Anaya masih kecil, mereka hidup berdua. Beliau sukses menjadi chef terkenal dan juga Anaya mengikuti jejak Ayahnya yang suka memasak.


"Naya, sedang apa?" tanya Jony memegang pundak putrinya dari belakamg.


Mata tua Jony menyipit memperhatikan artikel di komputer putrinya.


"Kau sedang membaca soal De Willson family?"


"Iya Dad," sahut Anaya sambil mendongak menatap Ayahnya di belakang lalu kembali menatap komputer di depannya.


"Aku penasaran soal mereka."


"Penasaran apa?" tanya Jony. "Naya, jangan sampai kau masuk ke keluarga mereka. Mereka semua sudah berkeluarga ..."


Anaya mendengus, belum apa-apa Ayahnya sudah melarang dirinya.


"Dad, aku hanya ingin tau saja."


"Semuanya di mulai dari rasa ingin tau, Naya ..."


Anaya beranjak dari duduknya berbalik menatap sang Ayah. "Dad ini sebenarnya mikir apa sih tentang aku? salah, kalau aku baca artikel tentang keluarga De Willson ..."


"Tidak salah, selama ada batasan untukmu tidak terlalu mencari tau soal keluarga mereka," ucap Jony lalu melengos meninggalkan putrinya.


Anaya berdecak menatap kepergian Ayahnya lalu bergumam. "Mereka bukan lagi keluarga mafia. Apa yang harus di takuti ..."


Anaya kembali duduk di kursi ia kembali membaca artikel di komputer. Kali ini soal Winter dan Yura.

__ADS_1


"Seandainya dia tidak hidup lagi, mungkin ada kesempatan untukku mendekati Winter ..."


*


Pulang menonton Yura dan Winter duduk di tepi kolam. Dengan Yura yang makan semangka dan Winter yang sedang memberi makan Ikan cup*ng dengan cacing kecil.


Yura mengunyah semangka sambil memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tidak suka makan semangka sambil suaminya yang memegang wadah berisi cacing. Menjijikan.


"Aku masuk saja, Winter ..."


"Jangan!" sergah Winter.


Yura duduk di tepi kolam karena permintaan suaminya yang meminta di temani memberi makan ikan cup*ng.


"Minggu depan anak lumba-lumba ku datang Yura ... Aku mau simpan di kolam saja dulu sebelum di pindahkan ke akuarium belakang mansion ..."


"Terus ikan cup*ng ini bagaimana?" tanya Yura sambil menyendok semangka di tangan nya.


"Tidak tau apa-apa soal ikan mau pelihara ikan, begitulah jadinya ..." pekik Yura.


"Apa maksudmu, Yura?" Winter menoleh.


Yura menyimpan semangka nya di samping lalu menoleh menatap suaminya.


"Kau tau, ikan ****** itu punya sikap agresif, mereka suka sekali bertengkar, makannya harus di simpan terpisah. Biasanya orang-orang menyimpannya di toples kecil, satu toples, satu ikan. Bukan di simpan di kolam renang ratusan seperti ini, pantas saja banyak yang mati!!"


"Oh begitu ..." Winter mengangguk-ngangguk seperti anak kecil yang baru di nasehati.


"Jadi aku harus beli dua ratus toples mungkin ya, Yura?" tanya Winter yang tahu jumlah ikan cup*ng di kolamnya ratusan.

__ADS_1


"Hah?" Yura mengerutkan dahi nya. Ia tidak bisa membayangkan kalau mansion nya di penuhi toples ikan.


"Ah tidak tau lah!" Yura beranjak dengan kesal meninggalkan Winter. Pria itu hanya menatap kepergian istrinya.


*


Pagi hari, Yura kembali dibuat terkejut dengan suaminya yang makan nasi dengan coklat.


"Astaga Winter ..." teriak Yura menghampiri suaminya di meja makan.


"Kau ---" Yura benar-benar tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia terlalu frustasi sampai hanya bisa menggaruk kepalanya sendiri.


"Mau coba, Yura?" tanya Winter menyodorkan piring nya.


"Kenapa kau makan nasi dengan coklat?"


"Anggap saja eksperimen, Yura. Ternyata rasanya enak."


"I-itu coklat, Winter ..."


"Iya. Aku tau."


"Terus kenapa kau makan?" tanya Yura dengan sedikit kesal.


"Tidak tau, tiba-tiba saja aku ingin makan coklat dan nasi."


Yura menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Ia ingat dirinya tidak boleh stress.


"Yasudahlah terserah kau saja," ucap Yura lalu kembali naik ke kamar nya.

__ADS_1


"Jangan marah-marah Yura, kau sedang hamil!!" teriak Winter.


#Bersambung


__ADS_2