
Cicak cicak di dinding, diam-diam melayap. Datang seekol nyamuk, hap lalu di tangkap.
Intan tersenyum geli jika mengingat masa Tk nya dengan anak lelaki kembar yang berbeda sikap itu. Sampai tak sadar selang airnya menyirami bunga cukup banyak sampai airnya menggenang di jalanan.
Intan juga mengingat ketika hari dimana ia mengintip si anak kembar itu di kamar mandi sampai salah satu dari mereka keluar tanpa memakai celana.
"Selesai ..." teriak Summer sambil membuka pintu toiletnya. Ia pun hendak mencuci tangannya di wastafel dengan menaiki beberapa bangku sebagai pijakan karena wastafelnya terlalu tinggi untuk tubuh pendeknya.
Winter masih berdiri di belakang Summer memperhatikan saudara kembarnya yang mencuci tangan tanpa mengenakan celana.
Setelah selesai, Summer bukan memakai celana nya tapi malah lari terbirit-birit keluar dari kamar mandi. Winter melebarkan mata, ia segera mengambil celana Summer yang ada di sisi wastafel tersebut dan segera berlari mengejar Summer.
Intan yang berdiri di dekat pintu langsung menutup matanya kala melihat Summer keluar tanpa celana. Winter terus mengejar Summer seraya memanggil nama sodara kembarnya itu dan di belakangnya Intan ikut mengejar mereka.
"Winter tunggu ..." teriak Intan.
"Winter ..."
Winter menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan mata kecilnya membulat kala melihat teman kelasnya berlari mengejarnya. Ia melihat ke arah Summer yang berlari di lorong, kemudian ia menatap gadis kecil yang mulai semakin dekat dengannya.
Winter akhirnya memilih menghampiri gadis itu. Ia segera menutup mata gadis itu dan mendorongnya ke dinding.
"Ih Winter ..." Intan berusaha menjauhkan tangan Winter.
"Diam!" ucap Winter.
Intan terkekeh pelan mengingat masa-masa lucu itu sampai tak sadar jika ada seorang pria yang terus memanggilnya.
"Nona ..."
Intan masih melamun.
"Nona ..."
"Nona saya--"
"Heh ..." Intan yang kaget mengarahkan selang air ke tubuh pria itu.
"Eh, maaf-maaf ..." Intan langsung melepaskan selang airnya, pria tersebut terlihat menepuk-nepuk pakaiannya yang basah.
__ADS_1
"Maaf ya. Aku ambil handuk dulu."
Buru-buru Intan masuk ke toko bunganya lalu dengan tergesa-gesa ia memberikan handuk kecil kepada pria itu tapi ketika ia menatap wajahnya lekat-lekat.
"Winter ..." gumamnya.
Winter berhenti menepuk-nepuk jas nya lalu menatap gadis itu dengan satu alis terangkat.
Dia pasti tidak mengenali ku. Hanya aku saja yang mengenali dia.
"M-maksudku, Tuan Winter hehe. Saya sering membaca artikel tentang keluarga De Willson ..."
Winter mengangguk tanpa menjawab apapun kemudian ia berjalan melewati Intan dan masuk ke toko bunga milik keluarga Intan itu.
Winter mengambil satu buket bunga mawar putih dan satu buket bunga mawar merah kemudian ia langsung berjalan kekasir.
Intan yang melihat itu langsung berlari ke kasir karena kebetulan kedua orang tuanya tidak ada di toko.
Winter memberikan beberapa lembar uang lalu pergi keluar dari toko.
"Hei, ini kebanyakan!" teriak Intan.
Pria itu masuk ke pemakaman. Berjalan mencari makam kakek buyutnya, Xander Valaric. Walaupun tidak pernah bertemu, kisah Xander Valaric sudah diketahui banyak orang. Tentang kesetiannya sampai mati kepada perempuan yang di cintainya.
Dia merapatkan kedua tangannya, berdoa untuk mendiang Xander.
Alasan Winter datang berkunjung ke makam Xander karena sejujurnya ia takut suatu saat nanti ia akan mengalami hal yang sama seperti Xander.
Ia tidak mau hidup sendirian tanpa Yura. Ia takut tidak sekuat Xander, menjalani hari-hari selanjutnya dengan perasaan hampa.
Winter selalu terlihat tenang di depan istrinya, padahal setiap detiknya ia tidak bisa bernafas dengan baik memikirkan penyakit istrinya.
*
Sepulangnya dari makam Xander, Intan sudah berdiri di dekat mobil Winter dengan memegang beberapa uang di tangannya.
"Hei, ini uangnya kebanyakan tadi." Intan menyodorkan uangnya.
Winter tidak menjawab atau menoleh ke arah Intan. Ia masuk begitu saja ke dalam mobil dan mobil pun melaju pergi meninggalkan Intan yang mematung di tempat.
__ADS_1
"Dia tidak berubah ya," gumam Intan. "Malah semakin dingin."
*
Mobil berhenti di depan rumah Benjamin. Dengan langkah semangat Yura menuruni anak tangga dan berlari menghampiri suaminya.
"Winter ..." teriak Yura langsung memeluk suaminya dengan senyum merekah di wajahnya.
Winter memeluk erat gadis itu. "Jangan lari-lari, Yura ..."
"Hehehe, kau tidak jadi lembur?" tanya Yura setelah melepas pelukannya.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Pekerjaanya sudah selesai," sahut Winter sambil mengelus kepala gadis itu dengan lembut.
"Huh, aku pikir pulang cepat karena merindukanku." Yura menekuk wajahnya.
Winter mengenggam tangan Yura menuju mobilnya lalu ia membuka pintu dan mengambil buket bunga mawar merah untuk istrinya.
Sontak mata Yura berbinar senang. "Kau membelikanku bunga ..."
Winter mengangguk.
"Woah ... harum sekali." Yura mencium wangi bunga mawar tersebut.
Kemudian pandangannya beralih ke baju Winter yang terlihat basah.
"Bajumu kenapa basah?"
"Penjual bunga nya tidak sengaja menyemprotku."
Yura tertawa. "Oh iya? menyebalkan sekali dia."
"Iya."
"Mau pulang sekarang?" tanya Yura.
__ADS_1
"Pamit dulu ke Daddy." Winter membawa Yura kembali masuk ke rumahnya untuk berpamitan.
Bersambung