
Berniat untuk merepotkan suaminya mengikuti saran dari sang mertua, Milan. Tapi kehamilan Yura justru tidak rewel sama sekali selain merasakan mual atau muntah sesekali saja.
Dia juga tidak mengidam apapun. Yura hanya duduk di ranjang seraya membaca novel sementara Winter ada di kamar mandi.
"Bosan juga, aku buat drama apa ya. Kalau pura-pura sakit nanti sakit beneran," gumam Yura dengan novel di atas paha nya.
Yura terus memikirkan sesuatu. Sampai akhirnya senyuman perlahan merekah di wajahnya.
Winter keluar dari kamar mandi dan menghampiri istrinya. Ia baru saja duduk di sisi ranjang sampai akhirnya Yura meminta sesuatu.
"Aku mau sate."
"Sate apa?"
"Eumm ... ayam."
Winter mengangguk lalu mengambil ponsel di nakas.
"Aku ingin kau yang membelinya."
"Hah?"
"Aku ingin kau yang membelinya," ulang Yura.
"Tapi kau nanti di sini sendiri, Yura."
"Kan ada pelayan. Tinggal panggil saja kalau butuh sesuatu."
"Yasudah aku cari sekarang." Winter mengelus kepala istrinya lalu beranjak pergi membuat senyum di wajah Yura mengembang seketika.
*
Dua puluh menit kemudian, Winter datang membawa sepiring sate untuk istrinya dengan segelas air.
Ia menyimpan gelas tersebut di meja lalu duduk di sisi ranjang.
"Itu ayam?" tanya Yura.
"Iya ..." Winter hendak menyuapi Yura sampai akhirnya.
__ADS_1
"Aku maunya kan sapi."
Winter kembali menyimpan sate di tangannya ke piring. "Tadi katanya ayam."
"Tidak, aku bilang sapi."
Winter diam, mencoba mengingat-ngingat apa mungkin tadi telinga nya salah dengar. Ah, tapi Winter yakin tadi Yura bilang ayam. Karena tidak mau berdebat akhirnya Winter mengalah.
"Jadi mau sapi?"
Yura mengangguk.
"Yasudah aku beli lagi."
Winter menyimpan piring sate ayam itu di meja. Sebelum pergi ia mengelus kepala istrinya dengan lembut terlebih dahulu.
Dua puluh menit kemudian Winter kembali datang dengan sate sapi yang masih panas. Dia tersenyum menghampiri istrinya.
"Ini, sate sapimu."
Yura mengambil piring tersebut dan memakannya dengan lahap membuat Winter tersenyum senang melihatnya.
"Aku mau nasi goreng."
"Belum kenyang?" satu alis Winter terangkat naik.
"Kan makan sate nya tidak pakai nasi. Jadi belum kenyang lah."
"Oh ... yasudah, aku beli dulu."
"Aku mau nasi goreng Daddy Maxime."
Winter terdiam. Itu artinya Yura meminta dirinya memasak, yang jadi masalahnya nasi goreng khas keluarga De Willson Winter tidak pernah membuatnya karena memang dia tidak terlalu suka dengan nasi goreng.
"Kau tidak tau resepnya?" tanya Yura.
"Aku bisa tanya Daddy. Tunggu di sini, aku buat dulu."
Hal itu membuat senyum di wajah Yura mengembang sempurna. Winter keluar dari kamar menuju dapur.
__ADS_1
Di anak tangga Winter menelpon Ayahnya.
"Winter ..." panggil Maxime.
"Ajari aku membuat nasi goreng, Dad."
Maxime tertawa. "Pasti Yura ya ..."
"Iya."
"Oke Dad ajari. Oh iya, adik nakalmu lusa pulang. Mau ikut menjemput mereka?"
"Aku tanya Yura dulu," sahut Winter sambil membuka kulkas.
"Dia pasti mau, dia belum lihat asrama Noah dan Kai kan. Nanti bantu Dad cari kampus yang bagus untuk mereka ya. Noah ingin menjadi arsitek, Kai ingin menjadi Dokter."
"Lihat dulu nilai mereka Dad," sahut Winter seraya mengeluarkan tomat dan timun dari kulkas.
"Kalau jelek, biarkan mereka jadi pengurus Glory dan Gery saja."
Winter terkekeh pelan. Lalu Maxime mengajari Winter membuat nasi goreng, sesekali mereka berbincang tidak jelas, lebih tepatnya Maxime yang terus mendumel sepanjang Winter memotong-motong tomat dan bumbu yang lain.
Maxime juga menceritakan bagaimana merepotkanya saat Milan mengidam dulu sampai harus pergi ke pelosok hanya untuk mencari strawberry dari kebun nya langsung, juga pergi ke pelosok dengan bonceng tiga seperti terong-terongan.
"Kalau Yura mempermainkanmu soal ngidam, jangan marah. Turuti saja, kita kan tidak ikut merasakan sakit ketika melahirkan jadi tidak apa-apa di buat repot sampai kelelahan. Mommy mu mengeluarkan banyak sekali darah waktu melahirkan mu dan Summer, muka nya sampai pucat. Dad jadi merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi Dad mau punya anak juga."
"Merasa bersalah tapi anak sampai empat," ledek Winter.
"Hehehe ... tadinya mau anak perempuan tapi tidak dapat, yasudahlah empat juga cukup. Lagi pula sekarang ada Alea yang jadi cucu perempuan ..."
Winter memindahkan nasi goreng dari wajan ke piring. "Aku selesai membuatnya, Dad."
"Bagus, yasudah berikan langsung kepada Yura."
"Iya, terimakasih Dad."
"Sama-sama ..."
Bersambung
__ADS_1