Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#90 Anak anjing


__ADS_3

Summer mengajak Intan makan seafood di salah satu restaurant yang tidak jauh dari dermaga.


"Sekolah dimana setelah lulus TK?"


"Di SD Bible," sahut Intan. "Awalnya aku mau masuk ke SD Christian mengikutimu dan Winter. Tapi biaya nya cukup mahal." Intan tersenyum mengingat hari dimana ia menangis histeris seharian sampai mengunci diri di dalam kamar karena tidak bisa satu SD bersama Winter dan Summer.


"Aaaaaa ... aku mau sekolah bersama Winter lagi ... hiks ..."


Ayah dan Ibunya yang berada di depan pintu kamar terus mengetuk pintu kamar Intan.


"Intan, SD Bible juga bagus," bujuk Ayah Intan.


"Tidak mau, tidak mau. Mau SD dengan Winter hiks ..."


"Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi. Kau dan Winter menjadi orang yang sangat sukses. Aku suka sekali membaca cerita keluarga De Willson di artikel."


"Suka membaca cerita keluarga De Willson atau suka membaca cerita Winter De Willson?" goda Summer dengan menarik ujung bibirnya tersenyum.


"Hah?" Intan mengernyitkan dahinya. "A-aku ..."


Summer menggeleng dengan tersenyum. "Aku tau, Intan. Awal bertemu denganku saja kau berpikir aku Winter kan. Aneh sekali, padahal mukaku dan dia sama. Tapi kenapa fans dia lebih banyak dari aku ya," ucap Summer dengan menggosok dagunya dengan Ibu jari dan jari telunjuk.


"Itu karena Winter yang lebih sering masuk berita. Kau kan di Italy."


"Hmmm ... iya juga sih, mungkin karena itu. Tapi kalau aku di sini, semua orang selalu tidak bisa membedakan kami."


"Jadi itu alasanmu pergi ke Italy? karena banyak yang tidak bisa membedakanmu dan Winter?" tanya Intan kemudian.


Summer terdiam. Tidak mungkin ia menjelaskan alasan sebenarnya tinggal di Italy kepada Intan yang bisa di bilang orang baru di hidupnya. Walaupun Intan teman Tk Summer.


Summer akhirnya mengangguk dengan tersenyum tipis.


"Ah ... tapi kau benar juga sih. Aku saja awalnya berpikir kau Winter kan, apalagi waktu aku mengantar bunga ke apartemen mu kau terlihat sedang kesal, mukamu dingin seperti Winter."


"Benarkah? mukaku dingin? padahal aku musim panas ..." sahutnya membuat keduanya tertawa.


Makanan yang mereka pesan pun datang, pelayan menata makanan di meja.

__ADS_1


Intan mengambil udang dan mengupas kulitnya, Summer yang melihat itu pun bertanya.


"Kau tidak suka kulit udang?" tanya Summer. Ia jadi ingat Yura, Yura juga tidak suka kulit udang.


Intan menggeleng. "Rasanya aneh ..."


Summer mengangguk-ngangguk kemudian mengambil udang dan mengupasnya lalu menyimpannya di piring Intan. Intan mendongak dengan mulut setengah terbuka karena kaget dengan sikap Summer.


"Kenapa? makanlah ..." titah Summer.


"Eh, iya ..." Intan memakan udang yang sudah di kupas oleh Summer di piringnya.


"Eumm ... cukup ... cukup. Kau makan saja, aku bisa sendiri."


Intan mendorong tangan Summer yang hendak menyimpan kembali udang di piring Intan. Intan hanya tidak enak, dari tadi Summer mengupas udang miliknya dan melupakan makanannya sendiri.


"Tidak apa-apa Intan." Summer kembali menyimpan udang itu membuat Intan menghela nafas.


*


Selesai makan Summer mengantar Intan menuju mobil pick up nya. Mereka berjalan dengan Intan yang hanya menunduk karena suasana menjadi canggung, Summer berjalan dengan tangan bersedekap dada.


"Kau ..."


"Kau ..."


"Tidak apa, kau saja dulu. Mau bicara apa?" tanya Summer.


"Eum ... kau pulang saja mobilku sudah dekat." Intan menunjuk mobil nya di depan.


Summer mengikuti arah telunjuk Intan kemudian menganggukan kepala. "Oh, oke kalau begitu."


Intan mengangguk dengan tersenyum.


"Aku pulang dulu." Summer berjalan ke arah lain membuat Intan melambaikan tangan.


"Eh, dia tadi mau ngomong apa ya," gumam Intan yang tersadar kalau Summer tadi belum bicara.

__ADS_1


*


"Bos, darimana?" tanya Julian melihat bos nya baru masuk apartemen.


"Bukan urusanmu!" pekik Summer lalu masuk ke kamarnya.


"JULIANNN!!" teriak Summer dengan nada marah yang sangat besar.


Julian langsung bergegas masuk dan mendapati bos nya memercak pinggang dengan nafas menggebu-gebu. Summer menatap tajam Julian.


"Apa bos?" tanya Julian dengan polosnya.


"Apa maksudnya ini Julian ..." Summer menunjuk seekor anjing yang berada di atas kasurnya.


Guk ... guk ...


Julian menghembuskan nafas. "Kirain apa, Bos. Itu anak anjing Bos ..."


"Aku tau Julian!" geram Summer. "Maksudku kenapa ada anak anjing di kamarku!"


"Oh itu ... itu karena aku kasihan denganmu, Bos. Jadi aku memberikan mu teman, kau kan selalu sendirian beda dengan Tuan Winter yang sudah punya istri hehe ... jadi biar kau tidak kesepian, aku membelikan anak anjing ini untukmu. Lucu kan?"


Summer mengela nafas menatap anak anjing jenis corgi berwarna coklat kekuningan di atas kasur yang sedang menjulurkan lidah ke arahnya.


"Bos, sepertinya dia menyukaimu," ucap Julian melihat anak anjing itu terus menatap Summer.


"Kalau dia pup bagaimana?" tanya Summer.


"Kan ada khusus tempat pup nya bos."


"Kau yang membersihkan tempat pup nya kalau begitu. Sekarang keluar!" Summer mendorong Julian keluar dari kamar.


"Ih, bos kenapa aku. Jangan aku dong, Bos. Anak anjing itu milikmu kan."


"Berisik!!" Summer langsung menutup pintu kamarnya dengan keras membuat Julian terhentak kaget.


Pria itu pun menghampiri anak anjing tersebut lalu menunjuknya. "Kau ... aku akan mengirim mu ke panti asuhan kalau kau nakal. Mengerti?"

__ADS_1


Guk ... guk ...


Bersambung


__ADS_2