Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#130 Yura cemburu


__ADS_3

Ada kelas memasak lagi hari ini dan seperti biasa Chef Jony menggabungkan kelas memasak Winter dengan yang lain.


Pria itu sudah berdiri di pantry paling depan dengan beberapa orang di belakangnya yang juga sudah siap mendapat resep baru dari Chef Jony. Terlihat Anaya berdiri di samping Ayahnya.


"Hari ini, kita akan mencoba membuat Zeeland Mussels atau kerang Zeeland. Yang pertama yang harus kalian lakukan yaitu membersihkan kerang dan memotong bahan-bahan yang ada di depan kalian."


Mereka pun serempak melakukannya, Anaya berkeliling dari satu pantry ke pantry yang lain melihat mereka yang sedang mencuci kerang dan memotong bahan-bahan.


Winter tidak tahu jika Yura diam-diam masuk ke tempat kelas memasak, gadis itu menonton di balik jendela dengan menggulum senyum di wajahnya melihat Winter memotong tomat.


"Kalau cuman masak seperti itu, aku juga bisa!" ucap Yura meremehkan.


"Wih ... dia tampan juga ya sedang fokus seperti itu. Walaupun mukanya sama dengan Summer tapi aura nya berbeda." Yura terus mengoceh sambil menatap suaminya dengan tersenyum.


"Aura tampan Winter lebih keluar ..." Yura terus menerus membanggakan suaminya. Beruntung tidak ada Intan di dekat gadis itu, kalau ada mereka sudah adu mulut membandingkan para suami yang mukanya sama.


"Loh ..." Yura mengerutkan dahinya ketika seorang perempuan mendatangi pantry Winter. Perempuan itu terlihat mengajari cara memotong Tomat, mungkin cara memotong Winter terlalu tipis.


"Ih salah motong saja sampai harus di ajari. Tinggal bilang 'ini terlalu tipis atau ini terlalu tebal' tinggal begitu saja, kenapa perempuan itu malah diam di dekat Winter!" kesal Yura.

__ADS_1


Anaya terlihat bertepuk tangan, menurut Yura ini berlebihan. Hanya karena Winter berhasil memotong tomat dengan ukuran yang pas sampai di beri tepuk tangan seperti anak kecil, Anaya juga malah terlihat tersenyum kepada Winter.


"Dasar caper!" hardik Yura.


Winter tidak sengaja menoleh ke samping dan mendapati istrinya dengan tangan bersedekap dada menatapnya kesal sampai dahi nya mengkerut.


Satu alis Winter terangkat naik. Ia ingin bertanya kenapa Yura ada di sini padahal tadi masih di rumah Benjamin, tapi ia belum bisa keluar karena masaknya belum selesai.


Sepanjang Winter memasak, matanya sesekali menoleh ke arah Yura yang masih menekuk wajahnya menatap suaminya.


Anaya berbisik kepada Chef Jony. "Dia siapa, Dad? kenapa diam di luar?"


"Dia Nona Yura, istrinya Tuan Winter," sahut Chef Jony seraya menatap Winter yang sedang memasukan bumbu ke wajan.


"Apa? benarkah?" Mata Anaya membulat sempurna. Chef Jony mengangguk.


"Kau kan sekolah memasak di luar Negeri, jadi wajar kalau tidak tau istrinya Tuan Winter ..."


"Mereka sudah punya anak?" tanya Anaya kemudian.

__ADS_1


"Belum."


"Oh ..." Anaya mengangguk-ngangguk.


Beberapa menit kemudian Anaya kembali berjalan ke pantry Winter untuk melihat hasil masakannya.


"Kau sudah mencobanya?" tanya Anaya.


Winter menggeleng pelan. Anaya mengambil sendok dan mencoba bumbu dari kerang yang di masak Winter.


"Tambahkan garam sejumput lagi. Tadi, ketika kau memasak bumbu nya, bumbu nya belum matang. Bau nya berbeda, lain kali masak bumbu nya sedikit lebih lama baru tambahkan air."


Winter mengangguk dengan hasil koreksi Anaya terhadap masakannya. Kemudian pria itu kembali menoleh ke samping.


Tidak ada yang berubah dari Yura, gadis itu berdiri dengan tangan bersedekap dada dan dahi mengkerut, sudah seperti patung saja.


Hanya saja Winter bisa melihat gadis itu kini menghela nafas kasar. Gigi bawah nya bergerak ke kanan kiri, mengartikan Yura sedang menahan kekesalannya. Winter malah tersenyum melihat itu sambil melambaikan tangan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2