Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#71 Pingsan


__ADS_3

"Siapa yang menyuruhmu duduk?" tanya Maxime kepada Magma.


"Tidak ada," sahut Magma dengan mengangkat kedua bahunya lalu kembali mengigit apel di tangannya.


Maxime menghela nafas kasar, mengambil pistol di saku belakang celananya dan menodongkannya kepada Magma.


Magma terlihat santai tidak terlihat takut sedikitpun. Ia malah menggoyang-goyangkan kakinya di atas meja.


"Kurang manis," ucap Magma lalu melempar apelnya ke arah guci hiasan di pojok ruang tamu sampai guci tersebut pecah dan membuat semua orang melebarkan matanya kaget.


Magma menurunkan kakinya lalu berdiri. "Kalau adikku tidak masuk keluarga ini, aku akan membunuhmu sekarang juga."


"Siapa yang kau sebut adik?" tanya Maxime tanpa menurunkan pistolnya.


Magma menoleh ke arah Yura. "Aku sudah bilang dia adikku, kalian ini tuli!"


Semua orang pun sontak menoleh ke arah Yura yang berdiri di samping Winter.


"Yura ..." panggil Maxime meminta penjelasan.


"Eum ... d-dia ..."


"Tanya saja Benjamin," potong Magma.


Maxime memijit keningnya tak habis pikir dengan kenyataan dimana Magma malah menjadi kakak Yura.


"Sudahlah, lupakan soal masa lalu ..." ucap Javier.


Magma mengangguk setuju dengan tersenyum miring ia kembali duduk.


*


Mereka makan bersama, satu-satunya yang makan dengan lahap hanya Magma, yang lain hanya saling menoleh dan memperhatikan pria itu makan.


Summer malah sibuk menatap Yura dan Winter terus menatap Summer dengan menggenggam erat tangan istrinya.


"Kak, kau tidak makan di rumah tadi?" tanya Yura sedikit canggung dengan suasana di meja makan yang saling diam.


Magma mendongak sesaat, menggelengkan kepala lalu kembali sibuk dengan makanannya membuat Yura menghela nafas panjang seraya menggelengkan kepala.


"Sudah, kalian juga makan dong," ucap Sky.

__ADS_1


Mereka pun mengangguk.


"Kehidupan seperti ini sudah hal biasa kalau musuh bisa menjadi keluarga," ucap Sky dengan tersenyum.


"Aku tidak menganggapnya keluarga," pekik Maxime.


"Aku memang bukan keluargamu!" sahut Magma membuat Maxime berdecak dengan menatap jengkel pria itu.


Yura mengambil air putih dan meminumnya sedikit. Kepalanya tiba-tiba pusing, tapi ia mencoba untuk menahannya dengan hanya mengaduk-ngaduk makanan di piring.


"Kau baik-baik saja?" bisik Winter yang di jawab anggukan pelan dari Yura.


"Kita ke kamar saja bagaimana," ajak Winter.


"Tidak, tidak perlu," sahut Yura.


"Yura kau kenapa?" tanya Summer membuat yang lain sontak menoleh ke arahnya lalu beralih menatap Yura.


"Aku baik-baik saja," sahut Yura dengan tersenyum tipis.


Magma menatap bergantian Winter dan Summer. Summer yang terlihat khawatir menatap Yura dan Winter yang terlihat kesal dengan tatapan Summer kepada istrinya.


Yura mengangguk lemah dan sedetik kemudian gadis itu pingsan dengan wajah telungkup di atas meja.


"YURA ..." Semua orang menjerit.


"Biar aku saja!" Magma menepis tangan Winter yang hendak menggendong istrinya.


Pria itu segera berlari membawa Yura ke mobil di ikuti yang lain.


Magma menidurkan Yura di jok belakang di ikuti Winter. Sementara dirinya masuk ke balik kemudi.


Dan Summer tiba-tiba membuka pintu di samping tempat duduk Magma.


"Kau mau apa, keluar!!" bentak Magma kepada Summer.


"Cepat bawa dia ke Rumah Sakit sial*n!!" hardik Summer.


"Cepat!" sambung Winter yang tengah memeluk istrinya di kursi belakang.


Mobil pun melaju dengan cepat keluar dari halaman mansion meninggalkan mereka yang berdiri di teras depan dengan khawatir.

__ADS_1


"Ayo sayang, kita ikuti mereka," ajak Maxime kepada Milan.


"Hati-hati ..." ucap Sky.


Di perjalanan Summer tak henti-hentinya meminta Magma menambah kecepatan mobilnya.


"Diam sial*n!" hardik Magma ketika kuping nya terasa panas dengan suara Summer.


"Kau bukan suaminya tapi cerewet sekali!!"


Summer berdecak kemudian menoleh ke belakang, wajah Yura terlihat sangat pucat di pelukan Winter.


"Tubuhnya dingin tidak?" tanya Summer yang di jawab anggukan dari Winter.


Winter diam karena pikirannya sedang kalut melihat kondisi istrinya.


"Sebenarnya dia sakit apa Winter? aku melihat banyak obat di kamarnya ..."


"Kau tidak perlu tau," sahut Magma membuat Summer jengkel.


Sesampainya di Rumah Sakit, Yura segera di tidurkan di ranjang dorong, mereka membawa Yura ke salah satu ruangan.


Winter, Summer dan Magma duduk di luar ruangan dengan gelisah. Magma duduk dengan tangan bersedekap dada, pria itu memainkan kakinya menunggu Dokter ke luar.


Winter duduk dengan tangan bersedekap dada seraya menengadah menatap atap Rumah Sakit. Sementara Summer hanya menunduk menunggu kabar dari Dokter.


"Bagaimana Yura?" tanya Milan yang baru saja sampai dengan Maxime.


"Sedang di periksa, Mom," sahut Winter.


"Lebih baik kalian pulang saja, biar aku yang di sini ..."


"Kenapa kau mengusir kami Winter, kami ingin tahu keadaan Yura," sahut Summer.


"Ya, kita harus tau Yura kenapa," sambung Maxime.


Winter hanya memijit keningnya, bagaimana kalau mereka tahu soal penyakit Yura.


Bersambung


*

__ADS_1


__ADS_2