
Yura berada di kamar salah satu Rumah Sakit, ia menjalani kemoterapi kedua. Kali ini tidak sendirian, karena ada Winter yang menemani.
Pria itu sedang menata beberapa makanan di meja, Yura sedang membaca novel dengan tangan kiri terpasang infus.
"Yura."
"Ya." Yura menoleh.
"Aku bertemu Dokter Leon dulu."
Yura mengangguk.
Winter keluar dari kamar tersebut lalu berjalan menuju ruangan Dokter Leon, Magma berjalan dari arah berlawanan, tapi ia memakai topi, kaca mata dan masker, berjalan dengan menunduk agar tidak di kenali Winter. Pria itu masuk ke ruangan Yura.
"Hai."
Yura menoleh. "S-siapa kau ..." Yura beringsut menjauh dengan ketakutan.
"Ini aku Yura." Magma membuka masker dan kaca matanya. Yura menghembuskan nafas.
"Astaga ... kau, mengagetkanku saja!"
"Bagaimana kabarmu? suamimu sudah tau ternyata." Magma berjalan menghampiri Yura dan duduk di sisi ranjang.
"Aku merasa baik-baik saja, Winter sudah tau karena efek kemoterapi pertama benar-benar kuat dan kambuh ketika aku bersama Winter."
"Pantas saja aku jarang melihatmu di luaran sekarang, suamimu pasti melarangmu jalan-jalan sendirian lagi kan."
Yura mengangguk dengan memajukan bibirnya. "Kemana-mana aku harus pakai supir sekarang, tidak bisa naik bis lagi."
"Dia tau aku yang menemanimu ketika kemoterapi pertama?" tanya Magma.
"Tidaklah, dia pasti marah kalau aku di temani lelaki yang tidak di kenali nya. Dan ... kenapa kau bisa masuk ke sini?"
"Suamimu menemui Dokter, jadi aku bisa masuk."
"Kalau begitu cepat keluar dari sini sebelum dia kembali!" usir Yura.
"Biarkan dia melihatku saja."
__ADS_1
"Heh!" Yura menggeplak lengan Magma. "Jangan cari masalah denganku ya!" peringat Yura dengan menunjuk wajah Magma.
Magma terkekeh pelan dengan mengusap lengannya. "Kau galak juga ya walaupun sedang sakit. Yasudah, aku pulang dulu. Cepat sembuh ..." Magma mengusap kepala Yura sebelum keluar.
Yura hanya berdecak menatap kepergian Magma dengan mengusap kembali kepalanya sendiri seakan sedang menghapus jejak tangan Magma dari kepalanya.
Ketika keluar dari kamar Yura. Lail mengirim pesan kepada Magma yang membuat pria itu sedikit terkejut.
Aku sudah menemukan Vivian, Tuan ...
Pria itu pun segera pergi dari Rumah Sakit dengan tergesa-gesa untuk menghampiri Vivian, seseorang yang di katakan Smith di surat wasiatnya.
*
Winter kembali ke kamar setelah berbincang cukup panjang mengenai kondisi Yura yang memenuhi pikiran nya sekarang.
Ia masuk dengan membawa kotak berwarna coklat membuat Yura mengerutkan dahinya.
"Apa itu?"
Winter menyimpannya di ranjang, Yura menarik dirinya untuk duduk tegak dengan duduk bersila. Winter duduk di depannya lalu membuka kotak tersebut.
"Untuk apa?" tanya Yura.
"Hias kamarmu," sahut Winter lalu membawa salah satu kertas origami itu dan membentuknya menjadi burung bangau.
"Woahh bagus sekali ..." Yura mengambil origami burung bangau itu dari tangan Winter.
"Tuk tuk tuk ..." Yura dengan tertawa mengetuk-ngetukan origami burung bangau itu ke hidung Winter.
Winter menarik ujung bibirnya tersenyum menatap lekat-lekat gadis di depannya yang sedang tertawa itu, seakan-akan Winter takut esok ia tidak bisa melihat tawa Yura lagi.
Seorang perawat masuk, membawa beberapa alat infusan.
Yura menoleh. "Siapa yang mau di infus lagi?" tanya nya.
"Aku," sahut Winter membuat Yura menoleh dengan menaikkan alisnya.
"Kau kenapa?"
__ADS_1
"Agar sama denganmu," sahut Winter kemudian memberikan tangan kanan nya kepada perawat untuk di infus. Hanya cairan vitamin yang masuk ke tubuh Winter, ia hanya ingin menemani Yura agar tangan nya sama-sama di infus.
Setelah selesai, perawat tersebut kembali keluar. Winter mengangkat tangan kanan nya yang sudah terpasang infusan.
"Sama," ucapnya membuat Yura tersenyum haru dengan sikap Winter sampai membuat matanya berkaca-kaca.
"Terimakasih ya Winter ..."
"Jangan menangis, aku menemanimu Yura ..." Winter mengusap ujung mata Yura yang hampir menetaskan cairan bening ke pipinya.
Yura mengangguk dengan tersenyum. Winter mengambil camera dan tripod di kotak. Ia berjalan sambil menggusur tihang infusan untuk menyimpan camera di samping ranjang Yura, camera itu di letakan di atas tripod agar bisa merekam Winter dan Yura yang akan membuat aneka ragam kerajinan dari kertas origami.
"Kenapa kau merekamnya?" tanya Yura.
"Tidak apa-apa, aku mau saja."
Winter kembali ke ranjang dengan menggusur tihang infusannya, ia mulai membuat aneka bentuk dari kertas origami. Ada bentuk bunga, bintang, awan, burung bangau, kupu-kupu. Mereka membuatnya sambil tertawa dan bercanda satu sama lain.
Dan camera di kamar itu merekam tawa mereka saat membuat gantungan kertas origami.
Kemudian Winter mengambil tali dan memasang berbagai macam bentuk dari kertas origami itu untuk di gantung di kamar pasien milik Yura.
Karena tangannya yang di infus, ia sedikit kesulitan bergerak untuk menggantungkan beberapa gantungan kertas origami itu.
"Woahhh ... bagus sekali ..." Yura menatap takjub dinding kamar Pasien miliknya yang di hiasi gantungan kertas origami, terlihat kamarnya penuh warna dan sangat indah.
Winter melakukan itu agar Yura merasa nyaman ketika kemoterapi.
"Yura ..." panggil Winter.
"Ya?"
"Sembuh ya ..."
Yura terdiam menatap iris mata suaminya yang seakan menyimpan kesedihan di sana. Entah apa, Yura juga tidak tahu, karena ia tidak tahu apa yang di bicarakan Winter dengan Dokter Leon tadi.
Bersambung
__ADS_1