Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#131 Winter hanya mencintai Yura


__ADS_3

Setelah selesai Winter keluar menghampiri Yura. Pria itu tersenyum untuk istrinya yang memasang wajah masam.


Ia menepuk-nepuk kepala Yura beberapa kali dengan lembut. "Kenapa tidak bilang kalau mau ikut hm?"


"Kalau aku ikut, mungkin kau akan jaga jarak dari perempuan tadi!" sahut Yura dengan tangan masih bersedekap dada di hadapan suaminya.


"Aku memang jaga jarak. Dia yang menghampiriku untuk menilai masakanku."


"Kau suka di hampiri perempuan cantik?"


"Suka."


Yura melebarkan matanya.


"Kalau perempuan cantiknya itu kau, aku suka," lanjut Winter sambil merunduk membuat wajah mereka berdua sangat dekat.


Tatapan Yura yang kesal tadi melunak seketika dengan ucapan suaminya apalagi kini suaminya tersenyum tepat di depan wajahnya. Winter memiringkan wajahnya perlahan hendak menc*um Yura, gadis itu bersiap dengan memejamkan mata tapi kemudian.


"E-eh maaf ..."

__ADS_1


Yura membuka matanya, Winter berbalik dan melihat Anaya berdiri di belakangnya sambil memalingkan pandangannya dengan satu tangan menghalangi wajahnya karena tadi tidak sengaja hampir melihat Winter dan Yura berc*uman.


"Permisi ..." Winter tidak banyak basa-basi lagi, dia membawa tangan istrinya menuju mobil.


Anaya berbalik dan melihat Yura berjalan dengan pandangan ke belakang menatap dirinya dengan tatapan permusuhan. Terlihat Winter menarik tangan Yura seperti menyeret langkah kaki istrinya yang lambat akibat terus melihat Anaya di belakangnya.


Anaya menghela nafas lalu menggelengkan kepala.


Yura masuk ke mobil setelah Winter membukakan pintu untuknya. Pria itu mengitari mobil dan duduk di balik kemudi.


Ia menyalakan mesin dengan istrinya yang memasang wajah masam seraya tangan bersedekap dada. Dahi nya mengkerut, pandangannya ia alihkan ke jalanan seperti sedang bermusuhan dengan Winter.


Yura menoleh dengan mulut setengah terbuka. "Apa kau pikir aku marah karena tidak jadi cium*n?"


"Lalu, karna apa lagi?" Winter menautkan kedua alisnya.


"Kau benar-benar pria mes*m ya, pikiranmu hanya kesana saja!" gerutu Yura lalu kembali memalingkan pandangannya ke luar jendela.


Winter mengambil tangan Yura, Yura sempat menepisnya beberapa kali tapi pria itu akhirnya berhasil menggenggam tangan istrinya, lalu ia mengecup punggung tangan Yura dengan Yura yang enggan menatap wajah Winter sedikitpun.

__ADS_1


"Kenapa kau selalu lupa kalau aku hanya mencintaimu Yura ..." katanya dengan nada lembut seolah kalimat itu keluar untuk menenangkan istrinya yang sedang marah.


"Aku akan berhenti belajar memasak kalau begitu, agar hatimu tenang ..." lanjut Winter.


Perlahan Yura menoleh, tatapan suaminya entah kenapa begitu teduh. Seolah kalimat tadi benar-benar tulus keluar dari mulutnya.


"Terserah kau saja. Dari awal aku tidak menyuruhmu belajar memasak." Yura masih sedikit jutek karena tadi sempat melihat Anaya memegang tangan Winter yang hendak memotong timun dengan alasan cara memotong Winter salah.


"Aku tidak mau kalah dengan kakakmu itu!"


Yura terdiam dengan menatap gedung kelas memasak di depannya. Winter mengecup kembali punggung tangan istrinya lalu mengelusnya lembut.


"Kita pulang sekarang ya."


Yura mengangguk tanpa menatap wajah Winter. Winter terkekeh, dahi istrinya masih saja mengkerut.


Mobil melaju pulang menuju mansion, di perjalanan hati Yura sedikit demi sedikit membaik. Winter terus mengajak istrinya berbicara agar Yura lupa dengan kemarahannya terhadap pria itu.


Sesekali mereka tertawa bersama ketika Yura atau Winter membahas hal yang lucu. Gadis itu tertawa terbahak-bahak sampai memukul paha Winter beberapa kali.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2