
"Jangan membuat masalah," ucap Maxime yang tiba-tiba berdiri di samping Summer entah dari kapan karena Summer terlalu fokus menatap Yura yang kini sedang mengobrol bersama Benjamin, Bayuni, Winter dan Magma.
"Kenapa kau berpikir aku membuat masalah Dad?" sahut Summer dengan nada sedikit kesal.
"Alihkan pandangan mu dari Yura, jangan sampai ada wartawan yang melihat kau terus menatap kakak iparmu sendiri, Summer ..."
Summer berdecak kemudian pergi ke tempat yang lain diikuti Julian.
Maxime menatap kepergian putra keduanya dengan menggelengkan kepala.
Winter berbicara di atas podium mengucapkan banyak terimakasih kepada rekan bisnisnya yang sudah hadir dan berharap bisnis mereka semakin kuat kedepannya.
Acara di lanjutkan dengan berdansa, bukan hanya yang muda yang ikut berdansa bersama tapi sampai mereka yang tua pun masih terlihat romantis dengan pasangan mereka. Contohnya Maxime dan Milan, Arsen dan Miwa, Daniel dan Tessa.
Winter mengulurkan tangannya kepada Yura. Yura menyambutnya uluran tangan suaminya dengan tersenyum.
Mereka berdansa di tengah-tengah para tamu seakan menjadi peran utama di acara tersebut.
"Cari pasangan agar bisa berdansa seperti yang lain," ucap Benjamin kepada Magma.
Magma hanya berdecak lalu kembali meneguk minuman di tangannya membuat Benjamin menggeleng pelan karena Benjamin selalu meminta Magma untuk menikah ketika tahu dia putranya, apalagi usia Magma yang sudah sangat matang untung menikah dan punya anak.
"Bos ..." Julian mengulurkan tangannya dengan tersenyum untuk mengajak Summer berdansa karena kasihan bos nya malah duduk di pojokan sendirian.
Summer mengeplak telapak tangan Julian dengan kesal. "Pergi!" titahnya.
"Hadeh si bos, di temenin malah nolak." Julian pun pergi entah kemana.
Summer menatap Yura yang sedang tersenyum berdansa dengan Winter. Tangan gadis itu bergelayut manja di leher Winter sementara tangan kekar Winter memeluk pinggang gadis itu.
"Terimakasih ..." bisik Winter di telinga Yura membuat gadis menaikkan kedua alisnya tidak mengerti.
Winter tidak mengatakan apapun lagi selain membelai lembut rambut Yura. Sebenarnya pria itu ingin berterimakasih kepada Yura karena walaupun ingatan gadis itu perlahan kembali, tapi Yura tetap menganggapnya sebagai seorang suami dan tidak melupakan Winter.
*
Acara baru selesai tengah malam, Yura menggandeng Winter berjalan menuju mobil tapi di aula ia bertemu dengan Summer. Mereka menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Summer ..."
"Yura ..."
Yura menoleh kepada Winter dan pria itu mengenggam tangan Yura yang mengandeng lengannya.
"Kami mau pulang," ucap Winter.
"Aku ingin bicara dengannya sebentar."
Winter menarik tangan Yura berjalan melewati Winter dengan langkah tergesa-gesa tapi ucapan Summer menghentikan langkah mereka.
"Ingatannya sudah kembali ... aku tau ..."
Summer berbalik, begitu juga dengan mereka. Kini mereka kembali saling menatap satu sama lain.
Summer yang menatap iris mata Winter beralih menatap bola mata Yura.
"Kau mengingat ku kan Yura ..." lirih Summer dengan mata penuh harap kalau Yura sudah mengingatnya.
"Aku sudah tau semuanya dari Ayahmu, Yura ... kau Aletta teman kecilku ..."
"Aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu ..."
Yura menatap Winter kemudian melepaskan genggaman tangan pria itu.
Ketika gadis itu hendak pergi Winter menahan tangannya.
"Sebentar saja ya," ucap Yura menepis tangan Winter pelan.
Gadis itu pergi menuju taman yang ada di luar hotel di ikuti Summer di belakangnya.
Mereka duduk di kursi panjang. Menatap air mancur di depannya. Yura hanya memainkan jari-jemarinya tidak mulai berbicara sampai akhirnya Summer yang memecah keheningan di antara mereka.
"Apa saja yang kau ingat?" tanya nya.
Yura menoleh. "Mama, kau dan keluargamu ... aku ingat pernah bertemu Daddy Maxime saat kecil waktu memberi ikan."
__ADS_1
Summer mengangguk-ngangguk. "Lalu?"
"Aku tidak ingat apa-apa lagi, selain tsunami di pantai greenland."
"Kenapa kau bisa ada di sini, bukan di Italy?" tanya Summer kemudian.
Yura menggelengkan kepala. "Aku belum ingat alasan itu ..."
Summer menghela nafas panjang. Keduanya kembali diam selama beberapa detik. Hanya terdengar suara air mancur di depan mereka, Winter menatap Yura di jendela aula.
"Aku sekolah di Italy. Sesuai janjiku kepadamu, Letta ..."
Yura kembali menoleh tapi dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kau ingat janjiku kan?" Summer menatap lekat iris mata perempuan di sampingnya.
Yura mengangguk.
"Aku juga sudah membeli pesawat sesuai janjiku saat kecil kepadamu ... tapi sepertinya ada janji lain yang tidak bisa di tepati."
"Apa?" tanya Yura.
"Mengajakmu jalan-jalan keliling dunia dengan pesawatku ..." Summer tersenyum getir menahan rasa sakit hatinya.
Yura mengigit bibir bawahnya lalu kembali mengalihkan pandangannya ke air mancur di depan. "Maaf, Summer ..."
Summer menggeleng pelan. "Bukan salahmu. Salahku, seandainya aku tidak menolak perjodohan denganmu hari itu ..."
"Aku sudah bersama Winter. Aku tidak bisa meninggalkannya karena janji kita saat kecil. Dan ..."
Yura menggantung kalimatnya.
"Dan aku sudah mencintai dia ..."
Mendengar itu Summer menghela nafas dengan tersenyum. Senyuman yang menutupi rasa sakitnya.
Bersambung
__ADS_1