
Jembatan gantung, di bawahnya danau yang luas. Magma dan Yura berdiri di sana melihat danau dengan Yura yang memegang roti dan susu di tangannya. Mereka hanya berdiri di batasi pagar jembatan.
Angin cukup kencang menerpa wajah mereka. Kendaraan di belakang mereka berlalu lalang.
Yura bertanya seraya mengunyah roti di mulutnya. "Kau kerja apa, Om?"
"Om?" Magma menoleh. Satu alisnya terangkat naik.
Yura tersenyum miring. "Kau bilang kan usiamu 35 tahun. Sudah seperti om-om," sahutnya kemudian meminum susu kotak di tangannya.
"Ck!" Magma berdecak. "Jangan panggil aku, Om!"
"Aku juga punya perusahaan, di spanyol."
"Hah?" Yura berhenti mengunyah dan menoleh.
"Spanyol?"
Magma mengangguk.
"Jadi kau bukan asli orang sini ya?"
"Bukan."
"Kenapa tidak kembali ke Negara mu?" tanya Yura kemudian kembali mengigit roti.
"Ada hal penting yang harus aku urus di sini."
"Oh ..." Yura mengangguk-ngangguk.
Kemudian Yura berbalik, menyenderkan tubuhnya di pagar jembatan dan melihat mobil berlalu lalang di depannya.
"Suamimu tidak pernah menemani mu jalan-jalan, kau selalu jalan-jalan sendirian," ucap Magma dengan masih menatap danau di depannya.
Yura menghela nafas. "Dia sibuk bekerja, bekerja dan bekerja."
"Dia pria yang bertanggung jawab dan pekerja keras."
Yura menjawab dengan deheman.
"Kenapa kau menikah dengannya?" tanya Magma kemudian.
"Karena kami di jodohkan."
"Oh iya?" Magma pura-pura terkejut. Pria itu ikut membalikkan badan dan menyenderkan tubuhnya di pagar jembatan seraya menatap Yura dengan tangan bersedekap dada.
"Itu artinya kau tidak menyukai dia," lanjut Magma.
"Lebih tepatnya dia tidak menyukaiku," sahut Yura menatap jalanan dengan perasaan hampa.
"Mencintai sendirian ..." ucap Magma dengan terkekeh sinis seakan meledek Yura.
Yura mendelik. "Kau menertawakanku?"
"Tidak, aku hanya berpikir konsep cinta memang tidak pernah sempurna. Iya kan?"
"Apa maksudmu?"
"Kadang, pria yang mencintai wanita. Kadang bisa sebaliknya dan yang parah pria mencintai wanita dan wanita itu mencintai pria lain ..." Magma tersenyum. Iris matanya seakan mempunyai rasa sakit.
Penjelasan Magma tidak mencerminkan pria jahat yang suka meniduri pelac*r tapi terlihat seperti pria menyedihkan.
Tentu saja ketika menjelaskan hal itu, Magma teringkat orang tuanya. Aberto yang mencintai Rhea dan Rhea yang mencintai Felix.
"Cinta tidak pernah ada. Yang ada hanya n*fsu ..." lanjut Magma.
__ADS_1
Yura memiringkan kepalanya menatap Magma yang ada di sampingnya.
"Jangan bilang kau sedang patah hati."
Magma menoleh dan mendorong kening Yura. "Tidak ada patah hati karena cinta dalam hidupku!"
"Lalu patah hatimu karena apa?"
Magma diam membisu dengan pandangan kosong menatap jalanan. Ia teringat saat usianya sepuluh tahun, dimana dirinya menembak sang Ayah, Aberto. Itu adalah patah hati terbesarnya ketika ia tahu kalau Aberto ternyata tidak bersalah. Karena Rhea, sang Ibu berselingkuh dengan Felix.
Magma baru mengetahui hal tersebut dua tahun lalu dari Dokter Alvad. Karena dari dulu Magma berpikir jika Felix hanyalah sebatas teman biasa.
Tapi tetap, Magma yang keras kepala masih menyalahkan Maxime. Seandainya Maxime mati, mungkin orang tuanya tidak akan bertengkar hari itu sampai membuat Aberto membunuh Rhea dan dirinya sendiri yang membunuh Aberto.
"Hei." Yura menyikut lengan Magma melihat pria itu malah melamun.
Magma menoleh. "Sudahlah, jangan bahas itu!" ucapnya dengan malas.
"Lah ..." Yura mengerutkan dahinya. "Kau yang memulai kau yang minta jangan membahasnya lagi!"
Yura kembali melahap rotinya, Magma memperhatikan wajah Yura, hidung gadis itu tiba-tiba mengeluarkan darah.
"Yura, hidungmu berdarah."
Yura berhenti mengunyah kemudian menatap Magma. "H-hidungku?"
Magma mengangguk. Yura memberikan roti dan susu kotaknya kepada Magma lalu mengambil tissue di dalam tasnya. Yura segera membersihkan darahnya dengan tissue.
Magma melihat wajah Yura yang mulai pucat. Pria itu membuang roti dan susu di tangannya lalu menggendong tubuh Yura.
"Hei kau mau membawaku kemana?!" teriak Yura, kakinya bergerak meminta di lepaskan.
"Diam Yura!"
*
Magma menidurkan Yura di sofa kemudian pergi ke dapur untuk membawa air. Yura beranjak untuk duduk.
"Aku baik-baik saja tau, hanya mimisan biasa. Ini juga sudah hilang."
Ponsel Yura berdenting di tas tanda pesan masuk. Yura membukanya dan ternyata itu pesan dari Dokter Leon.
Kemoterapimu besok, jam tujuh pagi..
Yura membalas.
Iya, Dok.
"Ini, minum dulu." Magma menyodorkan segelas air.
Yura mengambil dan meminumnya lalu menyimpan gelasnya di meja. Magma duduk di sofa.
"Istirahat saja, kau bisa pulang nanti sore."
Yura mengedarkan pandangannya ke setiap sudut apartemen yang luas.
"Kau tinggal sendiri?"
Magma mengangguk.
"Astaga ... apartemen seluas ini tinggal sendirian. Kau tidak kesepian?"
Hening. Magma tidak menjawab, karena dari dulu ia memang kesepian sekalipun saat itu orang tuanya masih hidup.
Ponsel kembali bergetar panjang, Magma menatap ponsel Yura di meja. Nama Daddy Benjamin tertera di sana.
__ADS_1
"Ayahmu menelpon," ucap Magma kepada Yura yang sedari tadi masih terpukau dengan apartemen milik Magma.
"Dad." Yura langsung mengambil ponselnya dan ketika mau mengangkatnya, panggilan nya berakhir.
"Dih, apa-apaan. Daddy hanya iseng," ucap Yura menatap ponselnya. Kemudian ia kembali menyimpan ponselnya di meja. Yura kembali menatap Magma.
"Oh iya, orang tuamu---"
Ucapan Yura terpotong karena ponselnya kembali bergetar panjang. Ia mengambil ponselnya dan panggilan masuk dari Winter.
"Dimana?" tanya Winter tanpa basa-basi.
"A-aku. Aku di rumah temanku," sahut Yura.
"Pulang."
"Iya, aku pulang sekarang."
Panggilan berakhir. Yura menoleh kepada Magma.
"Aku pulang dulu," ucapnya seraya memasukan ponsel ke dalam tas.
"Aku akan mengantarmu." Magma beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu aku bisa naik bis atau taxi, aku tidak mau suamiku melihatmu," sergah Yura.
Magma menghela nafas. "Yasudah, aku mengantarmu sampai halte."
Yura mengangguk.
Selama sepuluh menit berlalu bis belum juga datang, Yura sudah gelisah menatap arloji di pergelangan tangan nya. Ia duduk di halte bersama Magma.
"Yakin tidak mau di antar saja?"
Yura menggeleng.
Lima menit kemudian akhirnya ada bis berhenti di halte. Yura berdiri. "Aku pulang dulu, Bye ..."
Magma mengangguk menatap Yura masuk Bis sampai bis itu melaju pergi.
*
Sesampainya di mansion, ia membuka pintu dan seperti biasa Winter sudah duduk di sofa dengan laptop di atas paha nya.
"Hai musim dingin." Yura duduk di samping Winter dengan senyum merekah di bibirnya.
Winter menoleh dengan tangan menutup laptop.
"Sudah makan siang?" tanya Winter yang takut jika Yura telat makan lagi gadis itu akan merasa pusing.
"Tadi makan roti," sahut Yura.
Winter menyimpan laptop nya di meja kemudian beranjak dari duduknya. Yura mengekor dari belakang, mereka berjalan menuju meja makan.
"Wihh ada udang ..." Yura tersenyum senang, menarik kursi lalu segera duduk.
"Minum dulu." Winter menyodorkan segelas air lalu duduk di depan Yura.
Yura meminumnya setengah kemudian segera mengupas udang asam manis kesukaannya.
Winter menarik piring berisi udang tersebut kemudian mengupas udang-udang itu dan menyimpannya di piring Yura.
"Terimakasih hehe ..."
Bersambung
__ADS_1