Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#37


__ADS_3

Yura muntah banyak di toilet kamarnya, Winter masih diam menunggu Yura turun. Tapi gadis itu masih belum turun juga.


Sepuluh menit, lima belas menit, Yura baru turun dari kamarnya. Tapi dengan penampilan yang berbeda, Winter melihat tiba-tiba Yura memakai make up sedikit lebih tebal dari sebelumnya.


"Mau kemana?" tanya Winter ketika Yura duduk di sampingnya.


"Makan sushi," sahut Yura membuat satu alis Winter terangkat naik.


Yura tersenyum kemudian mengambil semangka, bukan sushi. Karena Yura berpikir jika makan Sushi rasa mualnya akan kembali muncul.


"Ke kamar hanya untuk pakai make up?" tanya Winter.


"Iya hehe," sahut Yura dengan tersenyum.


Winter menggelengkan kepala kemudian kembali makan sushi miliknya. Yura sendiri memakai make up lebih tebal karena ia takut wajah pucatnya ketahuan oleh Winter.


Selesai makan, Winter menonton tv. Yura sedang membuka laci di bawah anak tangga. Ada album foto di sana.


"Winter ..." teriak Yura.


Winter menoleh.


"Aku boleh liat ini?" Yura mengangkat album foto di tangan nya.


Winter mengangguk.


Senyum Yura mengembang, gadis itu pun membawa album foto itu ke sofa dan duduk di samping Winter.


Yura membuka album foto itu dan melihat ada enam bayi yang di jajarkan di samping kolam renang.


"Ini anak siapa?" tanya Yura.


"Itu aku dan sepupuku."


"Oh iya? seperti Nathan, Nala, Laura?"


Winter mengangguk.


"Astaga ... kalian lucu sekali, kau yang mana?" tanya nya, penasaran.


Winter menunjuk salah satu bayi yang berada di sisi kiri.


"Ini kau?" tanya Yura tak percaya.


Winter mengangguk.


"Kenapa kau bisa senyum saat bayi? padahal sudah besar sepertinya tidak bisa senyum lagi," ucapnya dengan terkekeh pelan.


"Ada Ibuku di sana."


"Oh ... karena ada Mommy Milan."


Yura kembali membuka foto yang lain. Isinya hampir sama, keenam bayi dengan pose dan tempat berbeda.


Sampai akhirnya Yura membuka foto saat Winter TK.


"Wihh ... kalian sekolah di Tk yang sama juga ya."


"Kau TK dimana?" tanya Winter.


"Aku di TK Venus," sahut Yura. "Tapi aku tidak ingat masa-masa Tk aku, mungkin karena aku masih kecil ya."

__ADS_1


"Satupun tidak ingat?"


Yura menggelengkan kepala.


Winter terdiam, dia bahkan masih ingat saat Summer lari dari kamar mandi tidak pakai celana, saat Summer keluar dari kelas untuk makan ice cream.


Ada beberapa moment masa kecilnya yang Winter ingat, tapi Yura tidak sama sekali membuat Winter heran. Apa ini terjadi karena daya ingat Winter yang terlalu kuat untuk anak seumuran Winter yang saat itu masih TK atau karena Yura sebenarnya tidak sekolah di sana.


"Ini siapa?" tanya Yura menunjuk foto Nicholas.


Di foto itu Keenan and the geng berfoto bersama keenam bocil di sekolah Tk mereka. Yura bertanya karena merasa asing dengan salah satu wajah di foto itu, sisa nya Yura kenal. Mereka uncle nya Winter yang wajahnya tidak berubah banyak selain sedikit menua saja.


"Uncle Nicholas."


"Sepertinya aku tidak pernah melihat dia di keluargamu."


"Dia sudah meninggal, lima tahun yang lalu."


"Oh iya?" Yura sedikit terkejut. "Astaga pantas saja aku merasa asing, meninggal kenapa?"


"Di bunuh musuh Ayahku."


"Kenapa bisa? kau kenal pembunuhnya?"


"Tidak tau, aku hanya ingat wajahnya saja."


"Aku tidak mau tau alasan membunuhnya kenapa, karena aku tau keluargamu seorang mafia. Pasti Ayahmu punya banyak sekali musuh, hidup Ayahmu pasti tidak tenang."


Winter mengangguk membenarkan.


"Eh, kelompok mafia Ayahmu itu namanya ..." Yura terlihat berpikir.


"Yakuza," potong Winter.


Winter menggeleng. "Tidak ada penerus."


"Tidak ada? lalu nanti kalau Daddy Maxime meninggal bagaimana?"


"Yakuza mati ..."


*


Yura sedang di kamar mandi untuk membersihkan make up nya. Winter duduk meluruskan kaki di ranjang dengan mengirim pesan kepada Lusi.


Pergi ke TK Venus dan cari tau apa Yura pernah sekolah di sana.


Setelah Winter mengirim pesan tersebut, Yura keluar dari kamar mandi dengan mengeringkan wajahnya menggunakan handuk kecil.


Yura berjalan menuju sofa, ia duduk di sana lalu membuka ponselnya.


"Yura ..." panggil Winter.


Yura menoleh. "Ya?"


Winter menepuk-nepuk ranjang sisi kanan nya yang kosong, meminta Yura untuk tidur satu ranjang bersamanya.


"Hah?"


"Tidur di sini."


Kenapa dia menyuruhku tidur di kasur ...

__ADS_1


"Yura." Winter kembali memanggil.


"I-iya ..." Perlahan Yura beranjak dari sofa berjalan menuju kasur. Ia duduk perlahan di ranjang, memasukan kakinya ke dalam selimut dan tidur terlentang di samping Winter dengan jantung berdebar, karena ini kali pertama dirinya berada di ranjang yang sama dengan Winter dalam keadaan sadar.


Winter mematikan lampu kamarnya, menyisakan dua lampu tidur kecil yang menyala di sisi ranjang kiri dan kanan, kemudian ia juga masuk ke dalam selimut.


Satu tangannya di simpan di belakang kepala sebagai bantalan sementara tangan yang lain berada di atas perutnya, mereka berdua hanya saling hening menatap langit-langit kamar yang temaram.


Kenapa sikap Winter mulai berbeda ya, mulai ada perubahan dari sikapnya. Dia tidak sedingin awal-awal pernikahan, dia juga mengajakku tidur bersama, apa maksudnya itu.


Sampai beberapa menit kemudian, keduanya masih hening dan belum tidur sama sekali. Yura mulai merasakan efek kemoterapi kembali, perutnya tiba-tiba merasa sakit dengan badannya yang terasa lemas.


Yura bergerak, tidur menyamping membelakangi Winter. Winter menoleh.


Yura mulai mengatur nafasnya perlahan untuk menghilangkan rasa sakitnya, ia memejamkan mata dan berdoa dalam hati.


Tolong sembuhkan aku sebelum Winter tau, Tuhan ...


Yura menekan perutnya yang terasa sakit dengan terus mencoba mengatur nafasnya. Tarik nafas dengan hidung dan mengeluarkannya dengan mulut.


Winter masih memperhatikan Yura, ia melihat nafas Yura yang berbeda, kelihatan Yura sedang mengatur nafasnya dari pundaknya yang naik lebih tinggi dan turun perlahan.


Winter pun bergerak menyamping lalu menarik pundak Yura. Yura terbelalak kemudian menepis tangan Winter dari pundaknya.


"A-aku ngantuk."


"Lihat aku, kalau kau baik-baik saja."


"Aku mau tidur Winter."


"Kenapa nafasmu seperti itu?"


"Yura." Winter menarik pundak Yura lebih keras sampai tangannya tidak bisa di tepis oleh Yura.


Kini Yura tidur menyamping menghadap Winter. Winter menatap lekat bola mata Yura kemudian pandangannya perlahan turun sampai ke perut gadis itu. Winter melihat Yura mencengkram kuat perutnya.


Winter pun menarik tangan Yura dan menggenggamnya kuat.


"Le-lepaskan." Yura memberontak tapi kesulitan.


Winter masih terus memperhatikan perut Yura sampai dimana ketika Yura tidak bisa lagi menahan rasa sakit di perutnya, ia menaikkan kedua kakinya sampai lututnya berhasil menekan perutnya, Yura tidur meringkuk.


Melihat itu, pandangan Winter kembali naik perlahan dan mendapati Yura sedang mengigit bibir bawahnya dengan memejamkan mata. Efek kemoterapi nya begitu kuat ia rasakan.


"Jangan di gigit, bilang apa yang sakit ..." ucapnya lembut. Winter menarik dagu Yura untuk mengeluarkan bibir bawah gadis itu yang ia gigit.


Yura membuka mata perlahan kemudian menggelengkan kepala.


Winter melepaskan tangan Yura dari tangannya kemudian beranjak dari ranjang, mengitari ranjangnya dan menggendong tubuh Yura.


"Mau kemana?" tanya Yura.


"Rumah Sakit."


"Winter lepaskan aku, aku tidak mau." Yura berkata pelan.


Winter membawa Yura dalam gendongannya menuju mobil di halaman mansion walaupun Yura terus berusaha memberontak. Ia memasukan Yura ke dalam mobil setelah salah satu penjaga membantunya membukakan pintu mobil.


Ketika Winter berjalan mengitari mobil untuk masuk ke balik kemudi, pesan masuk datang dari Lusi.


Pasien bernama Sunshine datang ke yayasan untuk cek kesehatan. Tapi data aslinya bernama Ayura Aletta, saya menemukan rekaman cctv yang mirip dengan Nona Yura, Tuan.

__ADS_1


Winter membuka rekaman cctv tersebut. Walaupun tidak terlalu jelas, tapi gadis itu mirip dengan Yura.


Bersambung


__ADS_2