Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#113 berjuang sembuh (Flashback)


__ADS_3

Hari dimana Winter depresi sampai mengurung diri di kamar tempat Yura biasa kemoterapi pria itu membuat banyak sekali burung bangau karena merindukan istrinya sampai kamar tersebut berubah menjadi lautan burung bangau berwarna-warni.


Hal yang sama juga terjadi kepada Yura. Ia merindukan Winter, ia rindu suara dan pelukan suaminya yang selalu memberi kenyamanan.


Semangat.


Sembuh ya.


Kata itu adalah kata yang berharga melebihi obat untuk Yura. Kata semangat dari sang suami sudah seperti penguat untuk dirinya, Magma bilang kalau dirinya koma sebulan.


Sekarang, Yura sangat merindukan suaminya. Di kamar pasien setelah menjalani kemoterapi Yura membuat ratusan burung bangau dari kertas origami.


Dia tersenyum ketika membuat burung bangau tersebut, rasanya moment duduk berhadapan dengan suaminya tercinta dan memainkan kertas origami sangat menyenangkan.


Tapi senyuman di wajahnya perlahan memudar ketika ia melihat foto dari salah satu anak buah Magma yang memperlihatkan Winter begitu pucat dan kurus.


"Seandainya kau tahu, aku di sini berjuang sembuh agar bisa bersamamu lagi Winter ..." lirih Yura.


Hari demi hari berganti, pengobatan terus berlanjut. Kemoterapi, berbagai macam obat yang harus ia minum, makanan Yura di atur oleh Magma, terkadang Magma mengajak gadis itu olahraga seperti bersepedah.

__ADS_1


Sampai akhirnya terdengar kabar Winter hendak bunuh diri karena depresi berat. Yura menangis histeris di kamarnya, membanting beberapa barang dengan kesal karena belum ada tanda-tanda dirinya benar-benar sembuh dari leukimia.


Dia masih merasa pusing, mual, lemas tiba-tiba sampai demam dan menggigil. Ingin rasanya ia mengatakan kepada Winter kalau dirinya masih hidup tapi Magma selalu meracuni pikiran adiknya agar Yura sembuh lebih dulu agar tidak ada kematian yang kedua kalinya.


Yura duduk di lantai menangis histeris sambil memeluk lututnya, rambutnya berantakan, sakit hati rasanya ketika mendengar Winter hendak bunuh diri. Dia tidak mau kehilangan suaminya.


Magma membuka pintu kamar setelah mendengar suara pecahan barang. Ia mengedarkan pandangannya menatap kamar Yura yang seperti kapal pecah itu.


"Yura ..."


Magma menghampiri Yura dan memeluk gadis itu.


"Sabarlah dulu ..."


Yura menggeleng. "Aku tidak mau Winter mati ..."


"Tidak Yura, dia tidak akan mati. Keluarganya pasti menjaga Winter ..."


Yura menangis tersedu-sedu di pelukan Magma.

__ADS_1


*


Beberapa hari kemudian ia menonton konser Nathan di youtube. Nathan yang mengatakan akan membawakan lagu yang di tulis sepupunya.


Lagu yang di tulis suaminya, Yura tersenyum mendengar itu. Yura sampai tidak menyangka suaminya si pria musim dingin bisa membuat sebuah lagu.


Yura memasang earphone di telinganya. Ia memejamkan mata mendengar lagu yang di nyanyikan Nathan.


Liriknya sangat menusuk hati Yura, tak sadar ia meneteskan air mata mendengarnya. Karena lagu Yura semakin semangat untuk sembuh dan tidak sabar untuk bertemu dengan Winter.


Setelah lagu itu muncul, Yura masih mendapatkan kabar tentang kondisi Winter dari anak buah Magma. Winter yang mulai membaik sedikit demi sedikit, Winter yang mau konsultasi dengan psikolog.


Di Spanyol Yura juga terus berjuang untuk sembuh. Selalu ada Magma yang menjaga Yura ketika gadis itu tiba-tiba merasa lemas, pusing atau demam.


Hal yang Yura lakukan ketika merindukan suaminya hanyalah menatap wajah Winter di artikel internet.


"Kau semakin kurus saja, padahal aku lebih suka kau yang berotot," ucap Yura dengan tersenyum memandangi foto Winter.


Jarinya mengelus layar ponsel. "Sabar ya, aku yakin aku akan sembuh total dan kita akan bersama lagi ..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2