Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#91 Koma


__ADS_3

Yura tidur di sofa di ruangan kerja Winter. Winter yang melihat itu beranjak dari duduknya menghampiri Yura. Ia menggendong tubuh istrinya menuju kamar yang berada di ruang kerjanya.


Dengan perlahan, Winter menurunkan Yura di ranjang lalu menyelimuti gadis itu.


Ketika keluar dari kamar, Maxime menelpon dirinya.


"Ya, Dad?"


Winter berjalan menuju meja kerjanya lalu duduk di kursi seraya menyenderkan punggungnya.


"Dimana?" tanya Maxime.


"Di kantor," sahut Winter.


"Dad nanti malam mau pergi ke Italy. Bertemu dengan sahabat Dad di sana. Sekaligus putrinya akan menjadi jodoh Summer."


"Apa?" Winter kaget walaupun wajahnya tetap datar.


"Dad tidak mau kalian bertengkar terus, lebih baik secepatnya Dad mencarikan jodoh untuk Summer. Nama gadis itu Sarah, Dad pernah bertemu dengan Sarah saat dia masih kecil, sekarang dia sudah tumbuh dewasa seusia kalian."


"Kalau Summer menolak?" tanya Winter.


"Dad akan coba membujuk dia. Besok malam kau datang ke mansion, seperti biasa kita akan makan malam bersama sekaligus membahas perjodohan ini."


"Iya ..."


*


Dua jam kemudian Yura keluar dari kamar ia memanggil Winter dengan setengah sadar.


Winter yang melihat itu langsung beranjak dari duduknya menghampiri istrinya yang berdiri di dekat pintu kamar.

__ADS_1


"Kapan kita pulang?" tanya Yura sambil menggaruk kepalanya.


"Sebentar lagi," sahut Winter lalu menggendong tubuh Yura dan membawanya ke kursi.


Yura kembali tertidur di pangkuan Winter dengan tangan Winter yang sibuk dengan laptopnya. Sedikit kesulitan karena Yura berada di pangkuannya tapi setidaknya istrinya nyaman sampai tidur kembali.


Setelah selesai Winter mematikan laptopnya lalu memeluk Yura dengan erat. Ia merunduk untuk melihat wajah istrinya dan seketika Winter melebarkan mata kala melihat hidung Yura berdarah sangat banyak.


"Yura ..." dengan panik Winter mencoba membangunkan istrinya itu.


"Yura ..."


Tidak ada jawaban.


"Yura bangun ..."


Dengan jantung berdegup kencang pria itu segera membawa Yura keluar dari kantor untuk pergi menuju Rumah Sakit Melati.


Satpam di depan membantu membukakan pintu mobil. Sudah ada Lusi yang duduk di balik kemudi. Winter dan Yura duduk di belakang.


Sesekali Lusi menatap Yura di balik spion depan. Ia melihat Tuan nya begitu panik dan khawatir sampai menciumi puncak kepala istrinya terus menerus.


Rasa sesak seakan menyelimuti dada Winter sampai membuatnya tidak bisa bernafas dengan baik. Apalagi tubuh istrinya yang dingin dan terkulai tak sadarkan diri di pelukan Winter.


Sesampainya di Rumah Sakit. Para perawat langsung membawa ranjang dorong menuju mobil Winter dengan tergesa-gesa.


Winter segera menidurkan Yura di ranjang dorong tersebut kemudian mereka membawa gadis itu menuju ruangan khusus.


"Yura ... kau harus kuat," lirih Winter seraya membantu perawat mendorong ranjang menuju ruangan.


Dokter Leon dan Dokter Jemi berlari di lorong setelah mendapatkan telpon dari perawat kalau Yura kembali masuk Rumah Sakit dalam keadaan darurat dan Lusi segera mengabari Magma dan yang lain.

__ADS_1


"Tunggu di sini ..." ucap Dokter Jemi kepada Winter.


Kaki pria itu seakan tidak bisa menopang tubuhnya dengan baik, ia memegang dinding di dekatnya sambil menghela nafas berat.


"Tuan ... duduklah." Lusi menuntun Winter untuk duduk di kursi tunggu.


Di dalam sana Yura berjuang dengan hidupnya. Alat-alat medis terpasang di tubuhnya. Beberapa hari ia merasakan gejala leukimia nya membaik ternyata salah. Gadis itu kembali merasakan gejala penyakitnya yang lebih parah. Bahkan transfusi darah tidak membuat gadis itu membaik.


Dengan wajah lesu Dokter Jemi keluar dari ruangan. Dan bertepatan dengan itu keluarga Benjamin dan keluarga De Willson baru saja datang.


"Bagaimana?" Winter langsung beranjak menghampiri Dokter Jemi.


"Dia ..." Dokter Jemi menggantung kalimatnya.


"Dia koma," lanjut Dokter Jemi. "Sel darah putih di tubuhnya berkembang sangat cepat membuat dia hampir kehabisan sel darah merahnya. Sumsum tulangnya rusak, kita harus melakukan donor secepatnya."


Winter mengusap wajahnya gusah mendengar hal itu, ia kembali duduk karena merasa kakinya sangat lemas. Winter hanya bisa menunduk, menopang kepalanya dengan kedua tangan.


Bayuni menangis di pelukan Benjamin. Begitupula dengan Maxime dan Milan.


"Ayo kita lakukan sekarang," ucap Magma.


Dokter Jemi mengangguk. "Ayo ..." Magma mengikuti langkah Dokter Jemi.


Lalu ranjang dorong itu kembali keluar dari ruangan dengan Yura yang koma. Ketika mereka melihat Yura, tangis Bayuni dan Milan pecah seketika melihat gadis itu seperti mayat. Pucat sekali.


Benjamin dan Maxime berkaca-kaca sambil menenangkan istri mereka masing-masing.


Yura akan di bawa ke tempat donor sumsum tulang bersama Magma.


Winter segera beranjak menghampiri istrinya. Perawat pun berhenti mendorong ranjang. Winter berbisik di telinga Yura.

__ADS_1


"Ayo ke Italy ... kita naik kapal pesiar yang kau mau, Yura ... aku mohon bangunlah."


Bersambung


__ADS_2