
"Naya, sudah?" tanya Jony menghampiri Anaya yang sedang memasukan baju ke dalam koper. Mereka akan tinggal di korea.
Anaya menoleh. "Belum," sahutnya tak bersemangat lalu kembali melipat bajunya di atas ranjang.
Jony menghela nafas. Jony tahu, putrinya belum terima dengan kepindahan mereka. Apalagi di pindahkan secara paksa oleh keluarga De Willson.
Walau bagaimanapun tetap Anaya yang bersalah.
Jony berjalan menghampiri putrinya lalu duduk di ranjang. "Dad tau, ini berat untukmu. Awal-awal mungkin kita harus membiasakan diri tinggal di sana Anaya. Tapi lama-lama kita pasti akan betah, apalagi Korea itu Negara favorit mendiang Ibumu ..."
"Hmm ..." Hanya deheman dari Anaya sebagai jawaban.
"Setengah jam lagi ya, jangan lama. Penjaga De Willson sudah menunggu kita di bawah ..."
Maxime mengirim anak buahnya untuk mengikuti Jony dan Anaya sampai bandara. untuk memastikan mereka benar-benar pergi.
Setelah selesai berkemas, Jony dan Anaya berjalan menuruni anak tangga untuk pergi ke bandara. Ketika di teras depan dengan berat hati Anaya menoleh ke belakang, menatap bangunan tempat tinggal dirinya sedari kecil.
"Ayo, Naya ..." Jony menarik lengan Anaya.
__ADS_1
Anaya mengangguk samar lalu masuk ke dalam mobil. Di perjalan ia terus diam melempar pandangannya keluar jendela. Yang duduk di balik kemudi adalah anak buah De Willson.
"Naya ..."
Anaya menoleh.
"Kita akan memulai hidup baru di sana ..."
"Aku hanya ingin masuk keluarga De Willson ..."
"Apa untungnya masuk ke sana kalau kau tidak di terima di sana, Naya ... kau bukan putri Daddy yang haus kekuasaan. De Willson berkuasa sampai bisa memindahkan kita ..."
Anaya tidak menjawab selain kembali memalingkan pandangannya ke luar jendela dengan hati berkecamuk.
"Kau terlalu di butakan dengan obsesimu masuk keluarga De Willson, Naya. Sampai hampir mencelakai orang lain ..."
"Kau benar, Dad!" lirih Naya menoleh menatap Jony kembali.
"Aku mungkin tidak menyukai Winter. Tapi karena obsesiku yang ingin masuk ke keluarga terpandang seperti De Willson ..."
__ADS_1
"Haruskah aku meminta maaf kepada Yura?" tanya Anaya.
Jony menggeleng. "Tidak perlu bertemu lagi dengan mereka, Naya. Dad sudah meminta maaf kepada Tuan Winter."
Anaya akhirnya mengangguk. Ya, Anaya menyadari dirinya mungkin bukan suka tapi obsesi kepada keluarga De Willson. Siapa yang tidak ingin masuk ke keluarga itu, perempuan seperti Anaya pasti banyak yang menginginkannya.
Sesampainya di bandara mereka menyeret koper untuk masuk ke pesawat. Ketika mereka menyerahkan paspor kepada petugas untuk di cek, tak sengaja mata Anaya mendapati Nathan yang baru saja turun dari pesawat.
"Dia aktor itu ..." gumam Anaya.
Nathan terlihat di kerumuni banyak fans. Seperti gula yang di kerumuni semut. Nathan dengan ramah tersenyum menyapa mereka, menerima hadiah dari mereka dan menandatangani baju fans nya.
Jony mengikuti arah pandang putrinya. "Dia masih keluarga De Willson juga. Jangan di lihat Naya!"
Jony tahu walaupun Nathan bukan keturunan langsung dari De Willson dia tetap bagian keluarga besar De Willson yang harus ia dan Anaya jauhi karena sudah berjanji dengan Maxime, Winter dan Magma.
Naya mengangguk lalu mereka kembali berjalan menyeret kopernya untuk pergi ke korea. Sesekali Anaya menoleh ke belakang, Nathan masih saja di kerumuni fans nya dengan beberapa penjaga berusaha menjauhkan fans arogan Nathan dari pria itu.
Bersambung
__ADS_1