Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#159 pakaian bayi


__ADS_3

Yura dan Winter sedang melipat baju bayi kembar mereka. Mereka masih belum tahu jenis kelamin nya karena merasa jenis kelamin calon bayi mereka akan menjadi kejutan ketika lahir nanti.


"Kalau bayi kita ada yang perempuan. Aku harap, kelak dia bisa berjodoh dengan pria sepertimu, Winter ..." Yura tersenyum sambil melipat bajunya.


Ia membayangkan bagaimana jika putrinya mendapatkan suami seperti Winter. Pasti dia akan sangat bahagia.


"Iya, Yura," sahut Winter.


Winter selalu menjadi tolak ukur sosok suami idaman bagi para Ibu-Ibu yang mempunyai anak perempuan.


Seperti Miwa dan Tessa yang berharap putri mereka mendapatkan pria seperti Winter.


Yura meringis kala merasakan tendangan di perutnya. Ia mengelus perutnya membuat Winter segera menghampiri istrinya.


"Kenapa Yura?"


Yura menggeleng. "Tidak, mereka hanya menendang," sahutnya dengan tersenyum.


Moment merasakan tendangan bayi nya membuat Yura begitu senang. Ia selalu ingin merasakan tendangan nya lagi dan lagi, kadang-kadang Yura berbicara dengan perutnya sendiri dan cara si kembar merespon Ibunya dengan menendang perut Yura membuat Yura terkekeh.


Winter menghembuskan nafas. "Aku pikir kenapa ..."


"Yasudah duduk saja, ini biar aku yang bereskan."

__ADS_1


Yura mengangguk, sekarang Yura hanya menatap suaminya yang tengah beres-beres. Bukan hanya baju tapi ada pakaian bayi juga yang harus di bereskan.


Dan lagi, mainan si kembar sudah siap sedia sebelum mereka lahir.


Yura mengedarkan pandangannya, ia baru sadar ada foto dua lumba-lumba yang berada di meja samping rajang. Pigura nya berwarna hitam. Yura menyipitkan matanya.


"Loh ini kan Mila dan Mili," gumam Yura.


"Winter, kapan kau menyimpan foto Mila dan Mili?" tanya Yura menunjuk foto lumba-lumba di atas meja.


Winter menoleh. "Kemarin malam, Yura. Aku juga punya foto ikan cup*ng di ponselku. Mau lihat?"


"Tidak-tidak," sahut Yura cepat. Ia hanya merasa untuk apa foto ikan cup*ng yang jumlahnya ratusan itu ada di ponsel suaminya.


*


Yura memotong-motong mangga di dapur. Winter datang menghampiri dengan memeluk istrinya dari belakang lalu mendusel-dusel di leher Yura.


"Ih ... geli Winter!"


Winter terkekeh, mengecup tekuk leher Yura lalu bertanya.


"Kakakmu jarang datang sekarang, Yura."

__ADS_1


"Dia juga punya kehidupan Winter. Sudah tua, tidak mungkin terus merawat ku yang sudah sehat dan punya suami. Apalagi sebentar lagi punya anak ..."


Winter sudah lama merahasiakan Laura yang sering menganggu Magma dari semua orang. Ia juga tidak tahu bagaimana kabar Laura dan Magma sekarang, apalagi waktu sudah berjalan selama beberapa bulan.


Hanya saja saat di pernikahan Nathan, Winter hanya melihat Laura saja. Tidak melihat Magma.


"Apa dia tidak akan menikah, Yura?" tanya Winter.


"Aku tidak tau alasannya apa, tapi dia bilang tidak akan pernah menikah. Dan tidak mau punya anak," sahut Yura.


"Kau kenapa tiba-tiba bertanya soal Kak Magma?" tanya Yura heran sambil terus mengupas dan memotong mangga.


"Tidak, hanya penasaran saja."


"Huh, sejak kapan penasaran dengan hidup orang lain. Dasar musim dingin!" Yura terkekeh begitupula dengan Winter.


"Ayo makan mangga ..." Yura mengambil garpuh dan menggenggam tangan suaminya membawanya ke sofa untuk makan mangga bersama.


"Makan yang banyak Yura ..." Winter mengelus-ngelus perut Yura di saat mereka duduk berhadapan di sora.


"Iya Daddy ..." sahut Yura mengubah suaranya menjadi anak kecil membuat senyum merekah di wajah Winter.


#Bersambung

__ADS_1


Yang nanya M&L. Up setelah cerita ini tamat ya ❤ tapi kalau ada waktu luang di sana bisa juga up sebelum ini tamat sih hehe


__ADS_2