
Masalah intan sudah di serahkan ke pihak berwajib. Winter dan Yura kembali pulang ke mansion, lagi-lagi Winter sedang memotong beberapa buah-buahan untuk Yura di dapur. Sementara gadis itu dari tadi berada di dalam kamarnya.
Ponsel Winter bergetar, ia mengambil ponselnya di meja lalu membuka pesan dari Magma.
Sudah tes sumsum tulang, tinggal tunggu hasilnya. Sama-sama!!!
Winter menarik ujung bibirnya tersenyum tanpa membalas pesan dari pria itu. Ternyata ketika pulang dari perusahaan De Willson, Magma langsung pergi ke Rumah Sakit, hal itu membuat Winter tak menyangka kalau Magma bisa sesayang itu dengan Yura. Padahal sikapnya sangat menyebalkan.
Winter mengupas apel dan memotongnya menjadi beberapa bagian ke piring. Ada semangka, strawberry, bluberry dan mangga juga untuk istrinya.
"Musim dingin ..." teriak Yura menuruni anak tangga dengan senyum merekah di wajahnya. Gadis itu langsung menghampiri suaminya.
"Jangan lari-lari, Yura ..." ucap Winter seraya mengambil garpuh kecil dan menyimpannya di atas piring.
"Woah ... banyak sekali." Yura menatap piring yang penuh dengan berbagai macam buah-buahan.
Winter mengambil piring tersebut lalu menggenggam tangan Yura dan membawanya duduk di sofa.
Pria itu menyuapi istrinya makan buah-buahan.
"Kau makan juga dong," titah Yura.
"Kau saja dulu," sahut Winter.
"Huh, tiap hari aku makan buah terus ..."
"Memangnya mau makan apa?" tanya Winter kemudian.
"Bakso," sahut Yura dengan menyengir membuat Winter berdecak.
"Tidak Yura!"
Yura sontak mengerucutkan bibirnya. Gara-gara ia sakit, jadinya semua makanan harus di kontrol oleh Winter. Ia tidak bisa makan bebas seperti dulu lagi.
Winter menyuapi Yura dengan menatap wajah istrinya.
"Kenapa?" tanya Yura.
__ADS_1
Winter tersenyum, menggelengkan kepala lalu mengelus kepala Yura.
"Kita pergi ke Italy kalau kau sembuh."
Mata Yura sontak berbinar senang. "Benarkah?"
Winter mengangguk.
"Aaaaaa makasih Winter ..." jerit Yura memeluk suaminya dengan antusias membuat piring di tangan Winter hampir jatuh.
"Eh tapi ..." Yura melepas kembali pelukannya. "Boleh tidak aku naik kapal pesiar, aku mau jalan-jalan di laut."
"Boleh," sahut Winter membuat senyum di wajah Yura kembali mengembang.
"Sembuh dulu ya ..."
"Naik kapal pesiar tidak perlu tunggu sembuh lah." Yura menekuk wajahnya.
"Yura ... kalau kau kambuh di tengah laut bagaimana? Kalau bawa Dokter juga tidak ada peralatan medis di dalam kapal."
Yura menghembuskan nafas. "Yasudah deh, aku janji akan sembuh. Sini piring nya ..." Yura mengambil piring di tangan Winter dan memakan buah-buahan itu dengan semangat demi sembuh dan bisa jalan-jalan ke Italy dan naik kapal pesiar. Winter tersenyum melihat itu.
*
Dengan memainkan remot di tangannya Yura menonton sinetron yang di bintangi Nathan. Episode nya sangat banyak, Yura sendiri sampai tidak tahu ia menonton episode yang ke berapa dari sinetron itu.
Yura tiba-tiba mendesis memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"A-aakkhh ..."
Ingatan masa kecil Yura tiba-tiba kembali hadir. Tentang dirinya dan sang Ibu memohon kepada dua pria yang mengusir mereka dari gubuk kecil yang menjadi tempat tinggal Yura dan Ibunya.
"Tuan ... saya mohon, jangan usir saya. Ini rumah satu-satunya yang saya miliki, bagaimana dengan anak saya, dia mau tinggal dimana kalau tidak punya rumah."
Ayura bersimpuh memeluk kaki salah satu pria tersebut. Letta memeluk Ibunya dengan menangis.
"Mama ..."
__ADS_1
Pria tersebut mendorong tubuh Ayura. "Ini hanya gubuk kecil, tidak pantas di sebut rumah. Pergilah!!"
Tempat yang menjadi berdirinya gubuk kecil tempat tinggal Ayura dan Letta akan di ubah menjadi bangunan yang mewah. Entah itu hotel atau restaurant.
"Tuan saya mohon ... kasihani saya ..." Ayura kembali memeluk erat kaki pria tersebut dengan menangis.
"Aku beri waktu,, bereskan barang-barang rongsokan kalian dan pergilah dari sini. Kalau sampai besok pagi kalian masih di sini, aku akan merobohkan gubuk kecil itu!" ancam pria tersebut lalu kembali mendorong tubuh Ayura dan pergi meninggalkan mereka.
Ayura hanya bisa menangis dengan Letta yang terus memeluk Ibunya. Letta pun yang baru berusia tujuh tahun ikut menangis, ia mengerti apa yang terjadi.
"Mama ..."
"Mama kita pergi ke rumah Summer saja ..."
Ayura menoleh menatap putrinya.
"Gimana kalau kita minta bantuan keluarga Summer, keluarga Summer baik. Mama bisa bekerja di sana."
Ayura terdiam menimang-nimang perkataan putrinya.
"Yuk, Mah ..." Letta memegang tangan Ibunya.
Sampai akhirnya Ayura kembali menoleh menatap putrinya lalu menganggukan kepala membuat Letta tersenyum dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
*
Keesokan harinya dua pria itu kembali datang ke gubuk mereka.
"Astaga ... kalian masih di sini. Saya sudah bilang pergi, tempat ini sudah jadi milik Tuan kami."
"Tuan, saya akan pergi. Tapi dengan satu syarat."
Dua pria tersebut saling menoleh lalu menatap Ayura.
"Apa?"
"Buatkan kami paspor dan belikan kami tiket pesawat ke Indonesia ..."
__ADS_1
Bersambung