Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#149 Anaya pelakor


__ADS_3

Yura mengerjapkan matanya, ia terbangun tengah malam karena ingin buang air kecil tapi ia menyadari lengan kekar suaminya melingkar di pinggangnya.


Dengan perlahan Yura mengangkat lengan suaminya tapi hal itu justru membuat Winter mengigau.


"Yura aku minta maaf ..." lirih Winter kemudian tangan nya kembali memeluk erat istrinya.


Rasa bersalah Winter benar-benar besar sampai ke bawa ke alam bawah sadarnya, padahal Yura tahu itu bukan salah suaminya tapi salah Anaya.


Karena keegoisan dirinya Yura malah terus marah dengan Winter. Alhasi gadis itu berbalik menatap suaminya yang tengah tertidur.


Ia tersenyum mengelus pipi Winter. "Papa cup*ng, lucu sekali kalau sedang merasa bersalah ..."


"Ck. Karena ikan cup*ngmu itu aku jadi memanggil mu papa cup*ng. Tidak, kau lebih pantas di panggil Daddy nya si kembar ..." lanjut Yura bergumam dengan terus mengelus pipi Winter.


"Iya Mommy ..." sahut Winter dengan suara serak khas orang tidur. Matanya perlahan terbuka lalu senyumnya mengembang.


Ia segera mengecup pipi Yura. "Kau memaafkanku?" tanya Winter.


"Hmm ... sepertinya si kembar ini yang membujuk ku untuk memaafkanmu ..." ucap Yura sambil menuntun tangan Winter ke perutnya.


Winter terkekeh. "Kalian memang hebat. Belum keluar sudah membantu Daddy ..." Winter mengelus lembut perut Yura membuat Yura senyuman di wajah Yura merekah seketika.


*


Mereka sudah kembali baikan. Pagi ini mereka sarapan bersama sebelum Winter pergi ke kantornya.


"Kau tidak mau kemana-mana, Yura?" tanya Winter sambil mengoles selai ke roti.


"Tidak, kenapa memang?" sahut Yura lalu mengigit roti di tangan nya.


"Siapa tau kau bosan, kau bisa pergi ke mansion Daddy ku atau ke rumah orang tuamu ..."


"Mau sih, mungkin nanti siang saja.Tidak tau kenapa aku masih ngantuk, padahal semalam tidur tidak terlalu malam juga."


Winter tersenyum. Pasti karena bawaan hamil Yura jadi mudah ngantuk dan mudah lelah.


"Kalau ada apa-apa, panggil pelayan ya."


"Iya Winter."


Selesai sarapan Winter pergi ke kantornya. Yura hanya mengantar sampai teras depan, ketika mobil melaju pergi ia kembali masuk ke mansion. Niatnya untuk kembali tidur tapi ketika baru masuk selimut ponselnya di nakas berdering. Panggilan masuk dari Magma.


"Kenapa, Kak?"


"Cih, menggelikan kalau kau memanggilku Kakak!"

__ADS_1


Yura mendengus. "Yasudah, kenapa Kek?"


"Kau memanggilku kakek?!"


Yura berdecak. "Kau mau di panggil apa? Tuan? Baginda? atau raja?"


Kini Magma yang berdecak. "Sudahlah, kau punya nomor Nathan tidak?"


"Idolaku? punya dong ..." sahut Yura dengan bangga.


"Oke, kirim!"


"Untuk apa?" tanya Yura.


"Bukan urusanmu ..."


"Huh, dasar! oke nanti aku kirim."


Hening beberapa detik sampai akhirnya Magma bertanya.


"Kau baik-baik saja dengan Winter kan?"


"Iya, kenapa memangnya?" tanya Yura.


"Dih, tidak jelas sekali!"


"Kalau ada yang menganggumu hubungi aku."


"Untuk apa? aku punya Winter!"


"Halah ... suamimu menangani pelakor saja tidak bisa, dia hanya bisa membayar makanan dari perempuan itu. Coba kalau suamimu mafia, siapa yang berani mengusik rumah tanggamu ..."


Yura ternganga dengan ucapan Magma. Dia bertanya-tanya dalam benaknya, apa mungkin Magma tahu soal Anaya. Tapi darimana.


"Kau ini membahas apa?" tanya Yura pura-pura tidak tau.


Magma berdecak. "Tidak!"


Tut.


Sumpah, Yura benar-benar bingung dengan sikap Magma. Semakin tua semakin membingungkan, dia hanya menatap ponsel di tangan nya dengan dahi mengkerut.


*


"Winter ..." Anaya menghampiri Winter yang baru saja keluar dari mobil.

__ADS_1


Mobil acuh, ia berjalan melewati Anaya. Anaya mendengus lalu berlari menyusul Winter.


"Winter ... Winter ..."


Winter menghentikan langkahnya ketika Anaya berdiri di depannya.


"Winter aku hanya ingin meminta maaf. Kemarin aku ke rumahmu untuk meminta maaf tapi Yura ---"


"Maafku tergantung istriku!" potong Winter. "Kalau istriku memaafkanmu maka aku juga memaafkanmu!"


"Kalau tidak?" satu alis Anaya terangkat naik.


"Aku juga tidak memaafkanmu!" sahut Winter kembali berjalan meninggalkan Anaya.


Anaya berbalik menatap kepergian Winter dengan tatapan nanar. Beberapa karyawan saling berbisik terlihat sedang membicarakan Anaya.


Anaya tahu, Yura pasti tidak memaafkan dirinya.


"Aku juga tidak serius meminta maaf ..." gumam Anaya seraya tersenyum kecut.


Anaya pun pergi dari kantor Winter. Ia melajukan mobilnya untuk pulang.


*


Ketika makan siang tiba, lagi-lagi Winter di buat kesal dengan pemberitahuan kalau karyawannya di beri makanan gratis oleh Anaya.


Ia sudah meminta satpam untuk menghalangi Anaya menginjakan kakinya di kantor miliknya dan juga meminta kepada para karyawan untuk membuang makanan mereka.


Untuk meredamkan amarahnya, Winter memilih menelpon istrinya yang baru saja bangun tidur.


"Aku mau mandi dulu Winter ..."


"Yura ..." panggil Winter.


"Ya?"


"Anaya mentraktir karyawan ku."


"Loh, benarkah?" terdengar nada kesal dari Yura.


"Iya. Tapi aku sudah menyuruh mereka membuangnya," sahut Winter yang merasa lebih baik jujur dari pada Yura kembali marah.


Yurae menghembuskan nafas. "Baguslah ..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2