Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#160 lahiran


__ADS_3

Masa kehamilan Yura sangat sehat selama sembilan bulan.Terbebas dari ngidam aneh-aneh, mual dan muntah, sembilan bulan berlalu yang Yura rasakan hanya perutnya saja yang semakin hari semakin membesar.


Penderitaan Ibu hamil malah di rasakan oleh sang suami, Winter.


Sampai hari dimana Yura hendak melahirkan, di situlah perasaan sakit luar biasa menjalar di tubuhnya. Perasaan takut dan senang datang di detik bersamaan ketika ia hendak melahirkan.


Tepat ketika Yura turun dari mobil ia di bawa ke ruang persalinan dengan brankar yang di dorong oleh Maxime, Winter dan Benjamin.


Gadis itu terlentang di brankar sambil mengelus-ngelus perutnya dengan memekik kesakitan.


"Yura, bertahanlah ..." ucap Winter


"Hanya suaminya yang boleh masuk," ucap Dokter Obgyn.


Yura sudah di masuk ke ruang bersalin di bawa oleh perawat. Dokter Obgyn yang bernama Rani itu membawa asisten mahasiswa koas kedokteran yang tak lain Mawar, istri Nathan.


Mawar ikut membantu persalinan Yura. Sekalian dia belajar bersama Dokter Rani.


"Aaaaa sakit ..." keluh Yura.


Dokter Rani dan mawar memakai handscoon kemudian Dokter Rani membungkuk untuk melihat pembukaan.


"Nona, anda akan melahirkan sekarang," ucap Dokter Rani. "Pembukaannya sudah sangat sempurna ..."


"Apa tidak bisa operasi caesar saja?" tanya Winter dengan wajah panik sambil memegang tangan istrinya.


Yura sontak menggeleng dengan keringat di wajahnya. "A-aku ingin normal ..."


"Kita coba normal ya," ucap Dokter Rani.


Sebelumnya berbagai pemeriksaan sudah di lakukan untuk melihat mampukah Yura melahirkan dua bayi nya atau harus melakukan operasi.


Hasilnya keluar sangat baik, gadis itu bisa melahirkan normal walaupun Dokter Rani dan Winter sempat berdebat.


Mawar memberi semangat kepada Yura yang sedang mengedan.

__ADS_1


"Ayo Yura .... kau pasti bisa ... aku akan memberikan tanda tangan suamiku kalau kau berhasil ..."


"Eerrrrggkkkhhh ...."


"Ayo Yura ..."


"Aku sudah punya tanda tangan Nathan," sahut Yura pelan dengan nafas terengah-engah.


"Oke, album baru. Kau akan mendapatkan album baru suamiku ..."


"Ayo Nona ..." ucap Dokter Rani.


"Yura kau pasti bisa!" Winter memberi semangat.


"Eeerrggghhh ..."


Dada gadis itu naik turun sampai akhirnya ia mengeden untuk yang ketiga kalinya, akhirnya terdengar suara tangis bayi yang memenuhi ruangan.


"Bayinya perempuan ..." ucap Dokter Rani membuat Winter tersenyum dengan dada naik turun, wajahnya terlihat pucat karena panik melihat istrinya tapi di sisi lain ada bahagia yang datang membuat pria itu berkaca-kaca.


Dokter Rani memberikan bayi itu kepada Mawar untuk di bersihkan.


Winter mengecup kening istrinya merasa bangga dengan perjuangan Yura melahirkan buah hatinya.


Ketika Yura merasa perutnya kembali mules dia memanggil Dokter Rani yang sedang melihat Mawar membersihkan bayi pertama Yura.


Dokter Rani dengan cepat menghampiri Yura kembali. Ia kembali membantu persalinan gadis itu sampai akhirnya Yura kembali berhasil melahirkan putri keduanya.


*


Yura melahirkan bayi kembar identik. Dimana muka kedua bayi perempuan itu sama, seperti muka Winter dan Summer.


Yang berbeda kelak, mungkin karakternya saja. Kedatangan dua bayi itu di sambut hangat keluarga De Willson beserta kerabat yang datang.


Yura tersenyum menggendong salah satu bayi perempuan yang di beri nama Talia Louisa De Willson, dia bayi pertama. Sementara bayi keduanya yang di gendongan Bayuni di beri nama Tania Louisa De Willson.

__ADS_1


Benjamin memainkan pipi Tania di gendongan istrinya. "Cantik ya ... seperti Yura."


"Intan, Summer dimana?" tanya Milan.


"Sebentar lagi kesini, Mom. Mungkin sedang di perjalanan."


"Magma tidak ke sini?" tanya Maxime.


"Dia bilang nanti menyusul," sahut Benjamin yang merasa aneh dengan sikap Magma. Setiap ada kumpul keluarga dari keluarga De Willson pria itu tidak pernah hadir.


Pintu terbuka, Summer mendorong Sky yang duduk di kursi roda. Semua orang tersenyum dengan kedatangan sang nenek, Sky.


"Grandma ..." Winter menghampiri dan mengambil alih mendorong nenek nya menuju brankar tempat Yura.


Yura memberikan Talia kepada Winter dan Winter membungkukan badan agar Sky dapat melihat cicitnya itu.


"Cantik ..." ucap Sky dengan senyuman di wajahnya yang keriput.


"Ini satu lagi, Nyonya ..." Bayuni memperlihatkan wajah Tania.


Sky melebarkan matanya. "Sama?"


Bayuni mengangguk. "Kembar identik."


"Seperti mukamu dan Summer," ucap Sky menatap Winter.


Winter mengangguk setuju. "Iya Grandma ..."


"Wih ... kembar identik versi perempuan," ucap Summer menatap Tania di gendongan Bayuni.


"Seandainya Javier masih ada, dia pasti sangat senang ..." lirih Sky dengan tersenyum getir membuat mereka yang ada di ruangan saling menoleh. Sky selalu mengingat suaminya kapanpun dan dimanapun.


"Kita akan pergi ke ruangan rahasia Daddy dan membawa kedua putri Winter," ucap Maxime membuat Ibunya tersenyum sambil menganggukan kepala.


Di ruangan itu ada guci berisi abu jenazah Javier. Semoga mendiang Javier bisa merasakan kebahagiaan mereka saat ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2