Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#93 Burung yang malang


__ADS_3

Julian bersiul santai, ia baru saja keluar dari toko roti setelah bos nya menyuruh dirinya membeli beberapa roti untuk di apartemen. Ponselnya bergetar, pesan masuk dari Summer.


Belikan makanan untuk anak anjing ini. Dia sepertinya kelaparan.


Julian berhenti bersiul kemudian menghembuskan nafas kasar.


"Aku membeli dia untuk menemanimu bos, eh malah menyusahkan ku!! kerjaan ku makin banyak saja!!"


Julian yang berjalan di trotoar akhirnya putar balik untuk mencari petshop terdekat.


Sebelumnya, ia sudah di suruh untuk membersihkan pup anak anjing itu, sekarang kerjaannya malah bertambah dengan membeli makanannya.


Ketika berjalan mencari petshop ia tidak sengaja melihat Lusi sedang membeli roti di tempat yang sama dengan dirinya tadi.


Julian menyipitkan matanya. "Si Lusi bukan ya ..." gumam nya berusaha memastikan .


"Ah, iya deh."


Julian pun mendorong pintu toko dan menghampiri Lusi.


"Hei Lusi."


Lusi membalik setelah Julian menepuk pundaknya. Tapi kemudian perempuan itu kembali berbalik tanpa bicara apapun membuat Julian berdecak dengan sikap dingin Lusi sama seperti bos nya, Winter.


Lusi sedang membayar pesanan di kasir, sambil menunggu pembayaran selesai, Julian terus berusaha menggoda Lusi.


"Lusi cantik ..." Julian menepuk pelan pundak Lusi. Tapi yang ia dapatkan malah tatapan tajam dari Lusi.


"Ih galak banget sih, sama kaya si musim dingin. Kenalin nih ..." Julian mengulurkan tangannya. "Musim geledek hehehe."


Lusi kembali acuh dan mengambil struk pembayarannya dari pelayan.


Uluran tangan Julian yang tergantung di udara di biarkan begitu saja oleh perempuan itu. Lusi malah berjalan melewati Julian.


Julian menggeleng menatap kepergian Lusi. Tapi ia diam-diam mengikuti langkah perempuan itu yang kini sedang berbicara dengan seseorang di telpon. Julian mengikuti langkah Lusi sambil menajamkan telinganya menguping pembicaraan Lusi dengan seseorang.


"Ya, Tuan. Saya segera datang."


"Sudah, saya sudah membeli roti kesukaan Tuan Winter, Tuan. Saya segera ke Rumah Sakit sekarang."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Lusi menghentikan langkahnya ketika tersadar ada yang terus mengikuti dirinya. Kemudian ia berbalik.


"Hehe ..." Julian melambaikan tangan dengan ekspresi seperti kucing yang tertangkap basah mengambil ikan di dapur.


Lusi menghembuskan nafas kasar.


"Jika anda masih mengikuti---"


"Jangan terlalu formal dong sayang," potong Julian sambil mengedipkan sebelah matanya.


Lusi memberi isyarat dengan tangannya agar Julian mendekat. Senyum di wajah Julian pun seketika mengembang, ini kali pertama Lusi memanggil dirinya.


Pria itu berjalan mendekati Lusi dengan tersenyum tapi yang ia dapatkan malah.


BUGH


Burungnya di tendang keras membuat jantungnya seakan berhenti seketika. Burungnya adalah sebagian dari jantung Julian, sakitnya luar biasa sampai membuat bagian bawah tubuh Julian keram seketika. Dengan mulut terbuka dan mata melotot Julian menahan rasa sakit di bagian burungnya itu.


Apalagi setelah menentang burung Julian, Lusi pergi begitu saja tanpa maaf.


"K-kau ... j-jahat ...s-sayang ..." pekik Julian terbata dengan setengah berdiri.


Untuk berdiri tegap sangat sulit karena burungnya masih berdenyut.


Julian kembali ke apartemen dan berjalan seperti orang yang baru di sunat dengan satu tangan menenteng kantung berisi roti dan tangan yang lain memegang burungnya.


Summer yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv mengalihkan pandangannya ke arah Sekretaris yang aneh itu.


Summer mengernyitkan dahi menatap Julian dari atas sampai bawah.


"Kau kenapa?" tanya nya.


Julian mendesis menahan rasa sakit. Ia masih berjalan seperti orang yang baru di sunat menuju sofa.


"I-ini bos ..." Julian menyimpan kantung roti itu di atas meja.


Dan dengan hati-hati ia duduk di sofa. Kemudian menyenderkan punggungnya di kepala sofa sambil menghembuskan nafas.


"Kau kenapa?" ulang Summer.


"Patah bos," sahut Julian sambil menengadah menatap langit-langit apartemen dengan pandangan kosong.

__ADS_1


"Apanya?"


"Burungku," sahut Julian dengan polos tanpa menatap mata bos nya.


"Hah?" Summer menaikan alisnya tidak mengerti.


Kemudian ia menatap ke bawah. Bagian burung Summer yang masih di pegangi pria itu.


"Patah kenapa?" tanya Summer kemudian.


"Di tendang bos."


Summer sontak melebarkan matanya sambil menelan salivanya susah payah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya burung yang di bawah di tendang.


"Siapa yang menendang?"


"Lusi."


"Apa?!"


Summer kemudian berdecak. "Kau punya masalah apa lagi dengan dia?"


Summer sudah tahu kebiasaan Julian jika bertemu dengan Sekretaris kembarannya itu. Pasti ada saja bagian tubuhnya yang bonyok.


Entah itu ditendang, dipukul atau dilempar sesuatu. Lusi memang tempramental dengan orang yang tidak dia sukai


"Aku hanya mengikuti dia dan menguping pembicaraan dia dengan seseorang di telpon, bos. Eh malah di tendang----Akkhh sakit ..." Julian kembali memekik kesakitan


"Ya, kau untuk apa mengikuti dia. Sudah tau dia sekretaris kasar!"


"Aku dapat informasi baru waktu mengikuti dia, bos. Walaupun burungku harus menjadi korban nya."


"Apa?" tanya Summer.


"Tuan Winter ada di Rumah Sakit. Tidak tau siapa yang sakit."


"Apa?" Summer terlihat shock. Pikirannya langsung tertuju kepada Yura yang sakit leukimia.


Pria itu bergegas beranjak dari duduknya keluar dari apartemen menuju ke Rumah Sakit.


"BOS, KAU MAU KEMANA?" Teriak Julian yang di tinggalkan sendirian.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2