
"Kenapa mereka bisa meninggal?" tanya Benjamin.
"Mereka sakit," sahut Magma bohong.
"Astaga ... Padahal Dad belum mengucapkan terimakasih kepada Aberto. Dia sangat menyayangimu ..."
Magma terdiam mendengar itu. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya lah yang menembak sang Ayah saat kecil.
"Bisa kita skip membahas itu. Aku ingin tau, kalau aku putramu maka Yura ..." Magma menggantung kalimatnya.
"Yura?" Benjamin menaikan satu alisnya. "Kau kenal Yura?"
Magma mengangguk. "Kami pernah bertemu."
"Dia adikmu ..."
"Kandung atau ..." Magma kembali menggantung kalimatnya. Menatap Benjamin menunggu jawaban.
Benjamin mengalihkan pandangannya menatap Bayuni. Bayuni menggeleng pelan membuat Magma, Lail dan Dokter Rico semakin penasaran.
"Dia bukan adik kandungku?" tanya Magma kemudian.
Benjamin menghela nafas panjang. Wajahnya terlihat gusar antara harus menceritakan semuanya kepada Magma atau tidak.
"Lebih baik kita sarapan bareng-bareng bagaimana. Ayo ..." Bayuni hendak beranjak dari duduknya untuk menyudahi pembahasan tentang Yura tapi Magma menahannya.
"Tolong beritahu saya Nyonya Bayuni, saya berhak tau ..." Ucap Magma.
Bayuni yang setengah berdiri pun akhirnya kembali duduk menatap sang suami, Benjamin.
Benjamin menganggukan kepala membuat Bayuni menghembuskan nafasnya.
"Jangan beritahu Yura soal ini, kau harus janji ..." ucap Benjamin yang di jawab anggukan dari Magma.
"Bayuni, aku tidak mungkin melakukan itu." Benjamin memegang tangan istrinya dengan dahi mengkerut, ia tak habis pikir dengan permintaan sang istri.
Saat Bayuni tersadar setelah operasi pengangkatan rahim, tak lama dari itu mereka melangsungkan pernikahan. Tiga belas tahun berlalu mereka menjalani pernikahan berdua tanpa seorang anak. Dari awal Magma lahir pun Benjamin selalu berusaha mengambil anak itu dari Aberto, memohon dengan sungguh-sungguh agar putranya di kembalikan kepadanya, bahkan Benjamin pernah bersimpuh di hadapan kaki Aberto.
__ADS_1
Tapi karena Aberto juga menyayangi Magma, dia enggan memberikan Magma kepada Ayah kandungnya sekalipun.
"Sayang, kita tidak mungkin terus hidup berdua. Aku juga tidak mau jika harus mengadopsi anak dari panti asuhan, aku ingin anak itu darah dagingmu, walaupun harus bersama perempuan lain."
"Bayuni ..."
"Aku mohon ..." Mata Bayuni menatap Benjamin dengan penuh permohonan.
"Aku hanya ingin merawat anakmu," lanjut Bayuni.
"Perempuan mana yang mau menyewakan rahimnya untuk mengandung anakku sayang? tidak ada perempuan seperti itu ..."
"Ada ...!! ada perempuan yang rela menyewakan rahimnya."
Benjamin menatap Bayuni tak percaya dengan ucapan istrinya barusan.
"Dia perempuan sederhana tapi dia sangat cantik, kalau anakmu perempuan dia pasti akan sangat cantik dan kalau dia laki-laki, dia pasti sangat tampan. Aku sudah menyiapkan perempuan yang akan mengandung anak kita selama sembilan bulan, lalu kita bisa mengambil bayi itu setelah lahir dan memberikan bayaran yang besar untuk perempuan itu, sayang ..."
Benjamin menghela nafas, menyenderkan punggungnya di sandaran kursi seraya mendongak menatap langit-langit rumahnya dengan pikiran kalut memikirkan ucapan Bayuni.
*
Ayura hanyalah seorang penjual ikan di pesisir pantai, usianya dua puluh lima tahun, hidup seorang diri dan belum menikah. Ia melanjutkan usaha almarhum kedua orang tuanya, menjual ikan yang yang hasilnya tidak seberapa. Tapi setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
Hari itu ia bertemu dengan perempuan cantik yang membeli ikan miliknya. Dia Bayuni perempuan yang datang ke Italy untuk liburan bersama sang suami. Bayuni bercerita tentang masalah rumah tangga nya kepada Ayura, tentang dia yang tidak bisa punya anak.
Sampai akhirnya Bayuni menawari Ayura untuk meminjamkan rahimnya selama sembilan bulan untuk mengandung anak dari suaminya.
"Nyonya ..."
"Kalau kau mau, aku bisa membayarmu dengan bayaran yang sangat mahal. Bahkan cukup untuk kebutuhanmu sampai tua ... Pikirkan baik-baik, aku sangat menunggu jawabanmu dan berharap kau bersedia, Yura. Kau wanita yang cantik cocok dengan suamiku ... Lahirkan anak untuk kami dan hidup lah dengan kekayaan yang kau miliki nanti."
Ayura selalu mempertimbangkan penawaran dari Bayuni. Ia hanya tinggal di gubuk kecil pinggir pantai, yang dimana ketika hujan gubuknya bisa basah sampai ke dalam.
"Setidaknya aku bisa menata hidupku kembali kalau aku punya uang banyak. Aku tidak akan kesusahan seperti ini ... apa aku terima saja ya penawaran dari Nyonya Bayuni itu ..."
Setelah satu minggu pertimbangan, akhirnya Ayura pun memutuskan untuk menerima tawaran itu. Ia menjalin hubungan semalaman bersama Benjamin di ranjang hanya untuk meminjamkan rahimnya.
__ADS_1
Ketika Ayura hamil, ia merasakan perubahan yang luar biasa. Dari mual yang menyerang setiap pagi, nafsu makan yang menurun dan perubahan mood yang sangat berbeda.
Ayura bahkan tidak bisa berjualan karena tidak kuat mencium aroma ikan. Selama masa kehamilan Ayura, Benjamin dan Bayuni tinggal di Italy sampai menunggu kelahiran anak mereka. Mereka mengawasi kondisi Ayura setiap harinya sampai membawa Ayura ke apartemen milik mereka ketika tahu masa kehamilan Ayura begitu menyiksa.
Mereka sama-sama merawat Yura dengan begitu perhatian. Sampai dimana ketika Yura melahirkan, perempuan itu enggan memberikan putrinya.
"Ini anakku!!" Yura memeluk erat putrinya.
"Jangan g*la Yura, dia itu putri kami. Kita sudah sepakat, kau menerima uang dari kami dan kami mengambil putrimu!!"
Yura menggeleng. "Tidak, simpan saja uangmu. Aku tidak butuh!!"
Yura berubah pikiran karena masa-masa kehamilan sampai melahirkan dia benar-benar menikmati semua prosesnya tanpa mengeluh sampai Yura tak sadar sudah mencintai putrinya sendiri sebelum anak itu lahir ke dunia.
Bayuni menggeram kesal dengan tangan mengepal ia hendak menghampiri Yura untuk merebut bayi itu tapi Benjamin menahannya.
"Lepaskan, dia kurang ajar!! dia mau membawa anakku!!" teriak Bayuni.
"Tidak, ini anakku!!" pekik Ayura memeluk erat bayinya.
"Bayuni sudah cukup, aku sudah bilang ini bukan ide yang baik. Kasihan bayi itu kalau harus di pisahkan dengan Ibu kandungnya ..."
"Tapi kita sudah sepakat sebelumnya!!"
Benjamin menatap Ayura dengan memeluk istrinya agar tidak tiba-tiba menyerang Ayura.
"Boleh kami tau, nama bayi itu?"
Ayura menatap teduh bayi mungil di tangannya dengan tersenyum ia menjawab. "Aku akan menamai dia Aletta Citra Aurelia ..."
"Aletta ..." gumam Benjamin. "Nama yang sangat cantik. Boleh saya menggendongnya?"
Ayura kembali memeluk putrinya dengan erat sambil menggelengkan kepala.
"Saya janji tidak akan membawa bayi itu, saya hanya ingin menggendongnya saja ..."
Bersambung
__ADS_1