Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#151 menabrak Anaya


__ADS_3

Dengan senyum merekah di wajahnya dan bersenandung pelan, Anaya tampak asik sendiri di dapur.


"Naya, masak untuk siapa?" tanya Jony sang Ayah.


"Untukku," sahut Anaya tanpa menoleh ke arah Jony.


"Jangan bilang untuk Winter lagi Naya!!" pekik Jony setengah kesal.


"Jangan masuk keluarga De Willson tanpa di undang, Anaya!! sudah berapa kali Dad bilang, mereka sekarang memang diam tapi kalau bergerak tetap mengerikan karena Tuan Maxime masih hidup."


"Dia sudah pensiun, Dad!" sahut Anaya mendongak menatap Ayahnya lalu kembali memotong sayuran..


"Apa kau pikir orang pensiun--"


"Stop, Dad!" potong Anaya dengan kesal.


"Aku sudah dewasa, Dad tidak perlu ikut campur soal ini!"


Jony menghela nafas kasar, ini bukan kali pertama ia mencoba menasehati putrinya. Tapi Anaya terlalu keras kepala dan enggan menjauh dari Winter.


Perempuan itu juga mengancam akan pergi dari rumah jika sang Ayah terus memaksa dirinya untuk menjauhi Winter.


Jony yang hanya mempunyai Anaya saja dalam hidupnya pasti enggan di tinggalkan oleh putri semata wayangnya itu.


Dia memilih pergi, menjauh dari putrinya dan hanya berharap keluarga De Willson tidak melukai sikap jelek Anaya tersebut. Jony yakin, Maxime masih menerapkan peraturan Yakuza yang tidak boleh membunuh perempuan. Ia yakin Anaya pasti baik-baik saja.


Ketika selesai makan, dengan menarik ujung bibirnya tersenyum. Anaya menaburkan sesuatu ke makanan tersebut lalu menutup tempat makannya setelah selesai.

__ADS_1


*


Anaya hendak memberikan makanan itu untuk Yura. Makanan tersebut ia titipkan ke gojek untuk menyuruhnya memberikan makanan itu ke satpam perusahaan De Willson.


"Dari siapa?" tanya Satpam tersebut kepada pengantar makanan.


"Dari Nyonya Bayuni untuk Nona Yura, Tuan."


"Oh baiklah. Saya akan berikan nanti, terimakasih ya."


Pengantar makanan itu mengangguk lalu pergi. Ketika satpam masuk menuju ruang kerja Winter, seseorang mengikutinya dari belakang.


Magma.


Magma menepuk pundak satpam tersebut lalu satpam itu menoleh ke belakang.


"Ini untuk Nyonya Yura, Tuan."


"Ya, aku kakaknya! berikan saja kepadaku."


"Tapi--"


Belum selesai bicara Magma langsung merampas kotak makan itu dari tangan satpam lalu pergi dari kantor mengacuhkan teriakan satpam yang terus memanggil Magma.


Magma memberikan kotak makan itu kepada Lail saat di mobil.


"Periksa, apa ada sesuatu di makanan ini."

__ADS_1


Lail mengambilnya. "Baik, Tuan."


*


Anaya berada di depan ruang IGD dia sedang menunggu seseorang untuk masuk ke ruangan tersebut. Siapa lagi kalau bukan Yura, moment melihat gadis itu masuk ke Rumah Sakit akan menjadi moment menyenangkan untuk Anaya.


Ia memegang setir mobil, mengetuk-ngetukan jari-jemarinya beberapa kali, celengak-celinguk untuk mencari mobil Winter.


Tapi sayang, sudah hampir dua jam menunggu tidak ada tanda-tanda mobil Winter datang. Ia mendesis seraya menatap arloji di pergelangan tangan nya.


"Apa obatnya belum bekerja ya!" gumam Anaya.


Anaya melihat mobil kencang melaju ke parkiran, ia menyipitkan matanya. Orang aneh mana yang mengendarai mobil ugal-ugalan di parkiran.


Sontak ia melebarkan mata kala mobil itu berbelok tajam ke arah mobilnya dan.


"Aaaaa ..."


BRAKH


Kening Anaya terbentur stir, bagian depan mobilnya hancur. Dia terjepit di mobilnya sendiri.


Perlahan Anaya mendongak dengan kaki yang terjepit di bawah akibat di tabrak cukup keras dari depan.


Ia memekik kesakitan dengan darah mengucur di pelipisnya. Sementara si penabrak tersenyum puas.


"Kau tidak akan kesusahan pergi ke IGD," pekik si penabrak tersebut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2