
Yura hendak pergi ke rumah orang tuanya. Ia pergi ke mall terlebih dahulu untuk membeli buah tangan untuk orang tuanya.
Di saat Yura sedang memilah-milah buah-buahan, seorang perempuan ikut memilih di samping Yura.
"Mangga ini sepertinya manis," ucap perempuan tersebut.
Yura pun menoleh dan ternyata ada Anaya yang menyunggingkan senyum ke arahnya.
"Kau ---"
"Hai bumil ..."
Yura pun akhirnya tersenyum menyapa Anaya. "Hai anjing!"
Anaya melebarkan matanya. "Kau tidak sebaik yang aku pikir ternyata Yura ..."
"Setidaknya aku lebih baik di banding sikap pelakor sepertimu!"
Anya tertawa jengkel. "Setiap pernikahan itu selalu di uji Yura. Anggap saja aku ujian untukmu, kalau tidak tahan berikan saja Winter kepadaku."
"Sayangnya, Winter menolak ujian itu, Anaya! jadi aku tidak takut dengan dirimu!" Yura tersenyum miring lalu pergi meninggalkan Anaya.
Ketika Yura keluar dari mall ternyata Anaya mengikuti dirinya.
"Yura ..." panggil Anaya.
Yura menghentikan langkahnya lalu berbalik.
"Tolong tanyakan kepada suamimu, apa dia ingin makan masakanku lagi."
__ADS_1
Dengan santai Yura menjawab. "Maaf, chef. Masakanmu haram masuk ke tubuh suamiku. Makanan dari tangan kotormu akan membawa penyakit untuk orang lain."
Awalnya Anaya mengatakan demikian untuk memanas-manasi Yura. Tapi ternyata Yura pintar menjawab.
"Benarkah? Tapi dia sampai menghabiskannya."
"Tidak, chef. Yang benar dia memuntahkannya lagi!"
Yura tersenyum menang lalu masuk ke dalam mobil dengan supirnya yang duduk di balik kemudi. Anaya menatap jengkel kepergian mobil Yura.
Ketika ia berbalik Anaya di buat kaget dengan kehadiran Magma yang entah dari kapan berdiri di belakangnya.
Tapi Anaya sendiri tidak tahu kalau Magma adalah kakaknya Yura. Dia baru bisa bicara dengan Winter saja ketika pria itu ikut kelas memasak Ayahnya, sebelumnya dia hanya sekedar tahu tentang De Willson.
"K-kau ... kau siapa?"
"Nona ... lebih baik berhenti menganggu gadis itu atau kau akan berakhir menyedihkan!" Kata Magma lalu melengos berjalan melewati Anaya yang hanya mematung dengan bingung untuk mencerna ucapan Magma.
"Dia siapa, aneh sekali!" gumam Anaya, mengangkat kedua bahunya lalu memilih kembali masuk ke mall.
*
Tadinya Yura hendak pergi ke rumah orang tuanya tapi karena bertemu Anaya, mood nya memburuk seketika dan ia memilih pergi ke kantor Winter.
Ketika masuk, beberapa karyawan menyapa nya dengan ramah, tersenyum sampai ada yang membungkukan badan.
Yura berjalan membalas senyuman mereka dengan mengelus perutnya.
*
__ADS_1
"Sepertinya Laura tidak memakai pakaian dari De Willson group untuk catwalk nya," ucap Lalita di telpon.
"Kenapa?" tanya Winter.
"Dia memakai pakaian dari Mahavir group."
Winter menghela nafas, lalu menganggukan kepala. Ia sudah tahu soal Laura yang mengejar dan menganggu Magma.
"Yasudah, biarkan ..." sahut Winter lalu mematikan panggilan telpon nya.
"Winter ..." Yura membuka pintu dan tersenyum ke arah Winter sambil menutup pintu nya kembali.
"Yura ... Bukannya ke rumah Daddy?" tanya Winter.
Dengan manja gadis itu duduk di pangkuan suaminya seraya mengalungkan tangan nya di leher Winter.
"Aku bertemu Anaya di mall," ucap Laura dengan menekuk wajahnya.
"Lalu?" tanya Winter.
"Dia sepertinya akan terus menggodamu ..."
"Tidak akan mempan, Yura."
"Masa sih? ikan cup*ng saja di beri cacing langsung di lahap, kau di pancing perempuan cantik tidak mau?"
Winter menggeleng. "Dia tidak cantik Yura. Jangan bilang seperti itu!"
"Terus siapa yang cantik?" goda Yura.
__ADS_1
"Kau ..." sahut Winter membuat senyum Yura merekah seketika kemudian ia memeluk suaminya, Winter tersenyum mengecup pundak Yura sambil mengelus punggungnya.
Bersambung