
Di sebuah kamar yang hanya di terangi lampu kamar tidur seorang pria sedang mengancingi kemeja nya di depan cermin. Ia baru saja meniduri seorang pelac*r mahal di kamar klab.
Perempuan yang hanya di baluti lingerie hitam itu memeluknya dari belakang.
"Singkirkan tanganmu atau aku akan memotongnya!"
Perempuan itu tertawa kecut. "Bagaimana bisa kau memotong tangan dari seorang perempuan yang baru saja memuask*n mu, Tuan Magma."
Magma menepis kasar tangan perempuan itu. Berbalik dengan menodongkan pistol nya. Satu alisnya terangkat naik.
Perempuan itu mengangkat kedua tangannya dengan wajah kesal, Magma benar-benar tidak main-main dengan ucapan nya.
Magma perlahan menurunkan pistolnya lalu keluar dari kamar klab tersebut.
"Hei, kau ..." teriak perempuan itu hendak menyusul Magma tapi langkahnya di hadang oleh Lail yang baru saja masuk ke kamar.
"Hubungan anda dan Tuan Magma hanya sebatas ranjang. Bayaranmu sudah di transfer, berhenti mengejarnya!" ucap Lail dengan mata penuh intimidasi kepada perempuan itu lalu keluar dari kamar menyusul Tuan nya.
Perempuan jal*ng itu berdecak kesal dengan menggaruk kepalanya frustasi. Gagal sudah rencananya untuk menjadi kekasih Magma.
Magma suka sekali meniduri banyak perempuan. Dia tidak percaya dengan adanya cinta, melihat orang tuanya dulu selalu bertengkar membuat Magma meyakini kalau cinta dalam rumah tangga itu tidak pernah ada. Yang ada hanya naf*u saja.
Magma masuk ke mobil dan Lail duduk di balik kemudi. Mobil melaju dari kawasan klab.
"Kemana Tuan?" tanya Lail sambil menyetir.
"Pulang."
"Tuan, apa kita tidak akan kembali ke Spanyol?"
Spanyol adalah Negara kelahiran Magma. Dia tinggal di spanyol selama 20 tahun kemudian datang kemari ketika hendak menyerang Yakuza sampai menewaskan Nicholas.
Magma menggeleng.
"Lalu kapan kita akan kembali balas dendam kepada Yakuza?"
"Belum waktunya."
Lail hanya mengangguk. Dari dulu yang Magma incar adalah Maxime, orang yang di inginkan Ibunya mati. Ia tidak terlalu memikirkan Winter dan Summer. Toh mereka seperti manusia normal kebanyakan, bahkan si kembar itu belum pernah membunuh.
Kemudian ponsel Lail berdering di tas. Lail mengambil ponselnya dari dalam tas yang ada di atas paha nya.
Magma mengambil ponsel Lail karena Lail sedang menyetir.
"Anakmu," ucap Magma kemudian mengangkat panggilan video call dari Alex anak Lail.
"Hei, paman dimana Ibuku?"
"Tidak tau."
"Jangan bohong Paman, kau sedang di mobil bersama Ibuku, kan?"
"Tidak."
"Jangan bohong, aku tau Ibuku ada di sampingmu."
__ADS_1
"Tidak."
"Hei paman cepatlah berikan kepada Ibuku, aku harus memberitau kalau aku peringkat pertama di sekolah."
CIIITT
Lail langsung mengerem mobilnya mendadak. Beruntung jalanan tidak terlalu ramai, jadi tidak ada mobil lain di belakang mobil mereka.
"Maaf," ucap Lail lalu merebut ponselnya dari tangan Magma.
Senyuman Lail tiba-tiba merekah. "Alex ... kau benar peringkat pertama kan?"
Alex mengangguk. "Iya dong, Mom."
"Minta apa saja, Mom akan berikan."
"Janji?"
"Janji dong," sahut Lail.
"Berhentilah bekerja dengan paman menyebalkan itu, Mom. Dan pulanglah ke sini."
Magma berdecak menatap ponsel Lail. Lail berdehem kikuk menatap Magma dengan ekor matanya lalu kembali menatap Alex.
"Alex, kita bahas ini nanti ya, oke."
"Mom tepati janjimu, kau akan memberikan apapun yang aku inginkan. Aku tidak mau Mom bekerja dengan pembunuh."
"Berhentilah berbicara atau kau akan menjadi anak yatim piatu sepertiku," ucap Magma kepada Alex.
"Maaf, Tuan." Lail kembali melajukan mobilnya.
*
Sepuluh menit perjalanan akhirnya Magma sampai di sebuah apartemen luas miliknya. Ia duduk di sofa menyenderkan punggungnya, Lail membuat teh hangat dan menyimpannya di meja.
"Saya pulang dulu, Tuan."
Magma mengangguk. Ketika Lail keluar, ia mengambil sebuah buku di laci samping sofa. Ia membuka buku tersebut.
Tulisan tangan Smith beberapa tahun yang lalu sebelum kematiannya meninggalkan tanda tanya besar di benak Magma.
Cari Vivian, sahabat Ibumu. Dia yang tahu siapa Ayah kandungmu Tuan muda. Dia ada di Negara X.
Sampai detik ini, setelah dua puluh lima tahun berlalu, Magma masih belum menemukan dimana Vivian. Dan itu juga yang menjadikan alasan Magma masih ada di sini, bukan hanya semata-mata untuk balas dendam dengan Yakuza. Tapi juga mencari tahu soal Ayah kandungnya.
Magma bukan orang yang bodoh, kecerdasannya hampir sama dengan keluarga De Willson. Walaupun ia tinggal di kandang Yakuza, tidak ada yang bisa membunuhnya, bahkan keluarga De Willson tidak ada yang tahu jika dirinya masih berada di Negara yang sama dengan mereka.
Seandainya kau masih hidup Smith.
Magma menghela nafas panjang kemudian menyimpan buku itu di meja. Ia meminum teh hangat yang di buat Lail tadi, lalu merebahkan dirinya di sofa.
Setiap hari selalu seperti itu, Magma selalu sendirian karena Lail sudah mempunyai anak, dia juga harus berperan menjadi Ibu.
Terkadang rasa kesepian menyerang pikiran Magma. Ia sangat menginginkan keluarga utuh dari kecil.
__ADS_1
*
Pagi harinya Magma turun ke bawah untuk mencari sarapan. Lail mengabari jika dirinya tidak bisa keluar rumah karena pintunya di kunci oleh Alex. Anak kecil yang baru berusia sepuluh tahun itu memang sangat membenci Magma.
Ketika hendak masuk ke sebuah restaurant. Ia melihat Yura sedang makan cake di toko seberang.
Magma tak jadi masuk ke restaurant tersebut dan memilih menyebrang menghampiri gadis itu.
Ia duduk di depan Yura. Yura mendongak kaget.
"Kau!" Kesal Yura menyimpan sendok nya di atas piring.
"Kau yang menggambar ku hari itu kan?!"
Magma menggosok hidungnya dengan tersenyum geli membayangkan wajah Yura hari itu.
"Menyebalkan kau!" Yura berdiri menghampiri Magma dan memukul-mukul lengan pria itu.
"Hei ... Hei ..." Magma berusaha menghalangi tangannya.
"Menyebalkan kau ... kau membuatku malu ya!" Yura terus memukul lengan Magma.
"Hei berhenti, kecil!" Magma menangkap kedua tangan Yura dan mencengkramnya kuat.
"Ih lepaskan!" Yura memberontak.
"Duduk dulu, oke."
"Tidak mau, ih lepaskan!"
"Kalau tidak mau duduk aku tidak akan melepaskanmu!" Magma menyungingkan senyumnya.
Yura berdecak. "Oke-oke. Aku duduk."
Magma pun melepaskan tangan Yura dan gadis itu kembali duduk.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Magma.
"Kau tidak lihat aku sedang makan cake," sahut Yura sinis membuat Magma terkekeh pelan.
"Sendirian?"
"Harusnya bersama suamiku, tapi dia sibuk bekerja," sahut Yura lalu kembali memasukan ice cream ke mulutnya.
"K-kau sudah menikah?" tanya Magma pura-pura terkejut karena sebenarnya ia juga sudah tahu kalau Yura sudah menikah dan suaminya adalah Winter anak dari seseorang yang ingin Magma bunuh.
Yura mengangguk dan memperlihatkan cincin di jari manisnya. "Kau tidak pernah melihat cincinku?"
"Aku pikir cincin biasa."
"Heh, kau tidak mau meminta maaf karena sudah mengotori wajahku?"
Magma mengangkat kedua bahunya membuat Yura mendengus kesal.
Bersambung
__ADS_1