
Nathan, Nala, Laura dan Lalita pergi ke sebuah klab setelah Julian menelpon Nathan kalau Summer mabuk berat di dalam klab.
Suara musik yang kencang, lampu temaram, banyak orang yang menari bahkan terang-terangan bercium*n di depan banyak orang seakan itu hal biasa.
Nathan mengedarkan pandangannya. "Dimana mereka," gumamnya.
Begitupula dengan Nala dan yang lain, mata mereka mencari-cari keberadaan Summer dan Julian.
Laura menyipitkan matanya melihat sebuah kursi tak jauh dari mereka berdiri, beberapa orang berlalu lalang membuat dia kesulitan melihat apa itu Summer atau bukan.
"Eh, itu dia." Laura menepuk pundak Lalita.
"Iya, itu Summer," ucap Lalita kemudian mereka berjalan ke meja tersebut, dimana Summer terlihat meneguk minuman dengan kasar sampai tumpah ke bajunya.
"Berhenti minum!" pekik Nathan mengambil botol alcohol tersebut.
Mereka semua duduk bergabung bersama Summer dan Julian. Summer hendak mengambil botol minuman yang baru tapi Nala lebih dulu mengambil botol itu.
"Kembalikan!!" geramnya.
Mereka menatap penampilan Summer yang terlihat begitu kacau.
"Kenapa dia?" tanya Nathan kepada Julian.
"Bertengkar."
"Dengan siapa?" tanya Lalita.
"Winter."
"Hah?" ucap Nathan, Nala, Laura dan Lalita bersamaan dengan melebarkan matanya.
Ini hal mengejutkan karena setahu mereka, Winter yang irit bicara justru sangat dekat dengan Summer.
"Si dua musim itu bertengkar kenapa?" tanya Nathan heran.
Julian menghela nafas menatap iba bos di sampingnya yang tak sadarkan diri sekarang. "Berebut wanita."
"Apa?" Laura mengerutkan dahinya.
"Wanita siapa? bukankah Winter sudah menikah," sambung Nala.
__ADS_1
"Ya, istri Tuan Winter yang jadi bahan rebutan," sahut Julian.
"Astaga ..." Nathan mengusap wajahnya kasar.
"Bagaimana bisa Summer menyukai istri Winter? dia ini sudah gila!!" pekik Nathan.
Julian pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara Winter Yura dan Summer.
Mereka benar-benar tak habis pikir dengan cerita dari Julian.
"Winter tidak salah, dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya berusaha jadi anak yang berbakti kepada uncle Maxime, iya kan?" ucap Lalita menatap mereka bergantian.
"Ya, dia kan tidak pernah menolak ucapan uncle Maxime, selalu bilang iya dan iya," sambung Laura.
Nala pun ikut memuji sikap Winter.
"Aku benar-benar tidak bisa menyalahkan Winter, dia walaupun irit bicara tapi dia yang paling baik di antara kita. Pergi ke gereja, membuat yayasan amal, bakti dengan uncle Max tidak di ragukan lagi, ke klab saja tidak pernah."
Summer diam-diam mengepalkan tangannya, ia mendengar jelas obrolan mereka tentang Winter. Tentang mereka yang memuji-muji sikap Winter membuat Summer semakin muak.
Summer berdiri dan? mendorong meja dengan kuat, membuat beberapa botol di atasnya jatuh dan pecah ke lantai. Semua orang menjerit kaget dengan suara pecahan botol tersebut. Musik berhenti ketika mendengar suara keributan.
"TERUS ... TERUS SAJA BANGGAKAN DIA!!" teriak Summer.
"Kau ..." Summer menunjuk Nala dengan geram. "Kau bilang tidak bisa menyalahkan Winter karena dia yang paling baik di antara kita. HANYA ITU ALASANMU TIDAK BISA MENYALAHKAN DIA!! DIA MENGAMBIL TEMAN KECILKU!!"
Nathan langsung mendorong Summer ketika adiknya terus di tunjuk oleh Summer. "DIA TIDAK MENGAMBILNYA DARIMU SIAL*N, TAPI TAKDIRNYA YURA MEMANG BERJODOH DENGAN WINTER BUKAN KAU!!"
"Tapi dia milikku!!" hardik Summer mencengkram kerah Nathan dengan kuat.
"STOP, BERHENTILAH BERTENGKAR!!" Laura mencoba meleraikan mereka. Nala langsung memeluk Nathan agar tidak kembali menyerang Summer.
Sementara Summer di tenangkan oleh Lalita. Mereka saling melempar tatapan tajam.
"Sudah kak, kita ke sini untuk membawa dia pulang," pekik Nala kepada Nathan.
Julian yang sedari tadi duduk berusaha untuk bangun, berjalan dengan pincang karena satu kakinya baru di obati oleh Dokter akibat terkena tembakan anak buah Maxime.
"Bos, cukup bos. Kau jadi tontonan orang-orang ..."
Mereka yang berada di klab, benar-benar mencari kesempatan untuk merekam kejadian tersebut. Apalagi Nathan yang seorang aktor dan penyany, ditambah Laura yang seorang model juga ikut terlibat dalam pertengkaran tersebut.
__ADS_1
"Arrggkkhh!!" Summer menghempaskan tangan Lalita dengan kesal.
Pria itu pun pergi dari klab, Julian menyusulnya dengan menyeret satu kakinya yang di perban.
"Kalian jangan ikut, di sini saja," ucap Julian lalu kembali menyusul Summer.
"SIAPAPUN YANG MENYEBARLUASKAN VIDEO TADI AKAN BERURUSAN DENGAN KELUARGA DE WILLSON!!" teriak Laura kepada para pengunjung yang lain.
*
Summer berada di sebuah dermaga. Duduk menikmati angin malam dengan termenung, Julian kemudian datang dengan jalannya yang pincang, ia sedikit kesulitan untuk duduk karena satu kakinya terasa ngilu.
Kemudian setelah berhasil duduk di samping Summer. Julian menyodorkan minuman kaleng, Summer mengambilnya dan meneguknya dengan kasar.
Disaat-saat kacau seperti ini, selalu Julian yang menemani Bos nya. Saat Summer sakit di Italy, hanya Julian pula yang merawat Bos nya, karena ketika Summer sakit pria itu enggan memberitahu keluarganya.
Julian ikut membuka minuman kaleng di tangannya lalu meminumnya setengah. Mereka hanya diam membiarkan angin malam menerpa wajahnya.
"Sulit sekali hidup ya Bos, kau pernah bilang hidup tidak menjadi seorang mafia seperti Ayahmu cukup menenangkan. Karena kau tidak punya musuh, tak di sangka musuhmu saudaramu sendiri ..."
"Ya walaupun kalian bermusuhan juga karena sal--"
Julian tidak berani melanjutkan kalimatnya ketika ia mendapatkan tatapan tajam dari Summer.
"Hehe bercanda, Bos!!"
"Bagaimana dengan kakimu?" tanya Summer melihat kaki Julian yang di perban.
"Hehe pake di tanya, ya sakitlah Bos!!"
"Oh ... maaf," pekik Summer.
"Astaga Bos ..." Julian melebarkan matanya. "Sejak kapan kau mau minta maaf denganku? Ah, kau kan sedang mabuk ..."
"Aku sadar sial*n!!" Summer menoyor kepala Julian.
"Ck. Wajahmu saja masih merah seperti orang mabuk."
Summer tertawa, Julian pun ikut tertawa. Entah apa yang lucu yang jelas Julian yakin Bos nya tertawa karena dia masih mabuk jadi sikapnya terlihat aneh.
Julian menepuk-nepuk punggung Summer tanpa menghentikan tawanya. "Cukup bos cukup. Aku kasian denganmu ..."
__ADS_1
Bersambung