Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#92 Koma (2)


__ADS_3

Mereka sedang menyiapkan alat untuk mengambil sumsum tulang belakang Magma. Magma tidur menyamping di ranjang menatap ranjang di sampingnya, Yura dengan wajah pucatnya terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai macam alat penunjang kehidupan.


"Bangun Yura ..." panggil Magma.


Tangannya terulur hendak menyentuh tangan Yura tapi tidak tergapai, pria itu hanya bisa meraih sisi ranjang Yura.


Magma mendengus kasar ia hendak beranjak dari tidurnya untuk menghampiri Yura tapi Dokter Leon menahannya.


"Tidurlah, kita membutuhkan sumsum mu sekarang."


Magma kembali tidur dengan wajah lesu. Bahkan ketika jarum itu masuk ke punggungnya, tidak ada rasa sakit. Karena rasa sakit itu tergantikan dengan perasaan sedih menatap adiknya.


Bangun Yura. Aku baru pertama kali menjadi kakak, kau sudah koma saja.


Sebenarnya ada perasaan senang ketika Magma bertengkar dengan Yura. Magma yang dari dulu selalu kesepian seakan mendapatkan warna baru di hidupnya ketika tahu Yura adalah adiknya, ditambah sekarang ia mempunyai orang tua lengkap.


Semuanya akan kembali berbeda jika Yura tidak ada.


Setelah selesai Dokter langsung mengganti cairan infusan dengan sumsum tulang yang di dapatkan dari Magma.


"Akkhh ..." Magma kaget ketika punggungnya terasa begitu ngilu ketika ia hendak bangun dari tidurnya.


"Pelan-pelan kalau mau bangun," ucap Dokter Jemi membantu Magma untuk duduk.


Magma menghela nafas. Ia pria tapi bisa merasakan sakit ketika suntikan itu masuk ke punggungnya, ia tidak bisa membayangkan rasa sakit yang di rasakan Yura.

__ADS_1


Winter membuka pintu ketika Dokter Leon keluar memberitahu proses donor sumsum tulang sedang dilakukan.


Pria itu langsung berjalan menghampiri istrinya. Menatap dan mengelus kepala Yura dengan lembut. Sakit, itu yang ia rasakan sekarang.


"Apa dia masih koma?" tanya Winter kepada Magma yang duduk di ranjang menatap Yura.


Magma pun menoleh ke arah Winter lalu menganggukan kepala.


"Ini cara terakhir yang kita lakukan. Semoga setelah ini kondisi nya normal kembali ..." ucap Dokter Jemi yang di jawab anggukan dari Winter.


*


Proses donor telah selesai tapi belum ada tanda-tanda kondisi Yura kembali normal. Dia masih koma membuat Winter yang selalu tenang kini marah-marah kepada dua Dokter yang menangani Yura.


"Bukankah kalian bilang tingkat kesembuhan setelah donor sumsum itu 70-80℅? mana hasilnya?!"


"Kami hanya berusaha melakukan cara yang terbaik untuk membantu Yura. Tapi kesembuhan tidak pada tangan kami, Tuan." Sahut Dokter Jemi.


"Dokter Jemi benar Winter ..." Benjamin terus menenangkan Winter yang terlihat begitu marah, kecewa dan sedih.


"Kesembuhan tidak di tangan mereka. Tetap Tuhan yang menyembuhkan. Kau tidak bisa menyalahkan mereka ..." lanjut Benjamin.


Winter menghela nafas berat kemudian ia duduk di kursi tunggu dengan menutup wajahnya mengunakan kedua tangan.


Perasaan takut menyelimuti tubuhnya. Yura masih koma padahal cara terakhir dan di anggap terbaik sudah di lakukan para Dokter itu.

__ADS_1


Maxime berdiri mengelus pundak putranya. "Tenanglah Winter ..."


Bayuni dan Milan juga tidak bisa melakukan apapun selain duduk dan berharap ada keajaiban kepada Yura.


Magma bersedekap dada dengan menengadah dan memejamkan dada hanya untuk mengatur perasaan dirinya yang berkecamuk atas penyakit Yura.


"Bagaimana aku bisa tenang, Dad. Kenapa harus aku yang merasakan ini, istriku sakit parah. Aku berharap mempunyai kisah yang sama sepertimu dan Grandpa ... aku juga ingin berakhir bahagia ..."


"Kau dan Yura juga pasti berakhir bahagia seperti kami, Winter ... Yura masih bersama kita," sahut Maxime.


Perlahan Winter membuka pintu ruangan. Berjalan mendekati ranjang tempat dimana istrinya koma, langkahnya begitu lemah, hatinya begitu sakit.


Winter selalu tenang di setiap saat ketika merawat Yura. Padahal hal ini lah yang pria itu takutkan terjadi, hari dimana Yura hanya tidur di ranjang tanpa membuka mata.


Ia duduk di samping ranjang, mengambil tangan istrinya dan mencium punggung tangannya dengan tangan yang lain mengelus kepala Yura.


Ia berbicara dengan menangis dan suara gemetar. "Kalau kau tidak ada ... aku juga tidak mau hidup lagi Yura ... aku sudah menaruh seluruh hidupku di kakimu, kalau kau pergi maka kakiku berhenti berjalan. Aku akan ikut bersamamu ..."


"Aku tidak bisa menjalani semuanya sendirian Yura ..."


Hanya ada suara dari monitor di samping ranjang Yura yang menenami Winter. Menandakan jantung Yura begitu lemah.


Winter menunduk dengan menempelkan punggung tangan Yura di keningnya. Ia menangis seorang diri di kamar itu. Sosok Winter Louis De Willson yang selalu mempunyai wajah dingin dan datar kini seakan berubah.


Tidak ada seorang pun yang berani masuk menemani Winter. Maxime meminta yang lain untuk memberikan waktu kepada putranya menemani istrinya yang sedang koma.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2