
Summer berjalan masuk ke dalam mansion, dibelakangnya ada Julian yang berjalan dengan menyeret satu kakinya karena tertembak anak buah Maxime karena berusaha lagi dan lagi mengambil pistol mereka saat di perjalanan.
Summer naik ke atas sementara Julian duduk di sofa dengan memegang kakinya yang tertembak. Ia memekik kesakitan.
"Julian kau kenapa?" tanya Sky menghampiri bersama satu pelayan.
"Tertembak nyonya ..."
"Panggilkan Dokter cepat!"
Pelayan wanita itu mengangguk dan segera menelpon Dokter untuk datang ke mansion.
*
Pintu ruangan terbuka, ekor mata Summer langsung menangkap tubuh Winter yang duduk di samping sang Ibu.
Pria itu pun duduk di samping Ayahnya. Maxime menatap tajam Summer, begitupula dengan Milan tatapannya datar kepada putra keduanya itu.
"Darimana saja kau baru datang!" pekik Maxime. "Mau coba kabur ke Italy hah?"
Summer tak menjawab. Pria itu hanya saling menatap dengan Winter. Dingin dan tajam, keduanya seakan saling melayangkan tatapan dendam.
Milan yang melihat tatapan mereka berdua pun berdecak. "Hargai Daddy kalian yang sedang berbicara ..."
Mereka pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Summer apa benar kau menyekap Winter di gudang?" tanya Maxime.
"Iya."
"Dan apa benar kau menyamar menjadi Winter untuk masuk ke kamar Yura."
"Iya. Tapi--"
Maxime langsung mengeplak kepala Summer. "Kau tau Yura istri kakakmu kan!!"
"Tapi aku hanya ingin memastikan kalau dia teman kecilku, Dad!!"
__ADS_1
"Kalau dia benar teman kecilmu, lalu apa? mau merebut dia dari kakakmu?"
Summer terdiam.
"JAWAB SUMMER!!"
"Iya, aku akan merebut dia dari Winter karena dari dia kecil dia milikku!!"
Maxime dan Milan melebarkan mata dengan ucapan Summer sementara Winter melayangkan tatapan tajam nya, karena Winter terlalu kesal, pria itu beranjak dari duduknya dan mencengkram kerah baju Summer dan berbicara dengan nafas terengah-engah di sela-sela giginya yang saling menggertak marah. Winter berbicara penuh penekanan.
"Dia bukan barang yang bisa kau ambil balik Summer!!"
"Winter stop." Milan berusaha menarik putra pertamanya itu.
"Lepaskan Winter!" Maxime berusaha melerai.
Summer terkekeh sinis. "Aku yakin dia hilang ingatan, yang kau nikahi itu Ayura. Tapi kalau ingatannya sudah kembali, dia menjadi Aletta teman kecilku dan dia akan kembali mengingat ku!!"
Dengan kasar Maxime memisahkan mereka berdua. Summer terduduk kembali di sofa, ia membenarkan pakaiannya seraya tersenyum sinis kepada Winter yang berdiri dengan nafas menggebu-gebu penuh amarah.
"Duduk dulu ..." Milan mengajak Winter untuk kembali duduk.
"Dari dulu Dad sangat takut hal ini terjadi, kalian berebut wanita. Maka dari itulah Dad berencana menjodohkan kalian dengan wanita pilihan Dad, tapi nyatanya Yura lah yang jadi rebutan kalian."
"Kau ..." Maxime menatap Summer dengan dadanya yang naik turun. "Lebih dari sekali Dad menawarimu menikah dengan Yura. Tapi jawabanmu selalu tidak dan tidak!! Tapi Winter ..." Maxime menatap Winter.
"Grandpa menawarinya satu kali dan dia langsung menjawab 'iya' tanpa pikir panjang lagi. Sekarang Yura sudah menjadi istri kakakmu Summer, berhentilah menganggu pernikahannya!! Dad akan menjodohkanmu dengan wanita lain, Summer ..."
Summer melebarkan mata kemudian menggeleng. "Tidak ... aku tidak mau Dad!!"
"Kau tidak bisa menolak!!"
Summer berdiri menunjuk wajah Maxime. "Dad tidak bisa mengatur perjodohan untukku karena--"
BRUKH
Winter langsung menendang Summer membuat Milan menjerit. "Sopan lah berbicara dengan orang tua!!"
__ADS_1
Winter kesal karena Summer berbicara dengan Maxime seraya menunjuk wajah Ayahnya.
Summer tertawa sinis dengan memegang perutnya.
"Kalian ini apa-apaan, kenapa jadi seperti ini!!" teriak Milan.
"Sopan?" Summer tertawa sinis. "Ah iya, aku tidak sopan. KAU YANG PALING SOPAN!! KAU YANG PALING DI BANGGAKAN DAD, KAU SENANG MENJADI ANAK YANG SELALU DI BANGGAKAN DAN DI PUJI HANYA KARENA KAU SATU-SATUNYA MANUSIA DI KELUARGA DE WILLSON YANG PALING PINTAR, YANG PALING PENURUT DAN RAJIN BERIBADAH KE GEREJA!!"
Maxime memijit kepalanya yang terasa pening akibat pertengkaran mereka.
Summer dengan susah payah berusaha untuk berdiri. Ia menunjuk dada Winter.
"Hidupmu terlalu banyak di atur oleh Dad, kau seperti manusia yang tidak punya arah tujuan, Winter. Kau hanya bisa mengatakan 'iya' tanpa membantah. Pengecut!!"
BUGH
"WINTER STOP!!" teriak Maxime yang langsung menghadang Winter ketika pria itu hendak memukul Summer lagi.
Milan langsung memeluk Summer dengan menangis.
"BOD*H, HIDUPMU LAH YANG BANYAK DI ATUR OLEH DAD. AKU HANYA MENERIMA SESUATU YANG KAU TOLAK, DAD MENAWARIMU LEBIH DULU DAN MEMBERIKANNYA KEPADAKU KALAU KAU TIDAK MAU. DARI KECIL SEPERTI ITU, AKU SELALU MENGALAH DENGANMU SUMMER!!"
"Mainan, pakaian, buku, semua hal yang aku punya itu barang-barang yang kau tolak. AKU LEBIH BANYAK DIAM BUKAN BERARTI AKU SUKA, AKU HANYA BERUSAHA UNTUK SELALU MENERIMA APA YANG DAD BERIKAN, KARENA AKU MENGHARGAINYA!!"
"Walaupun dari dulu aku sangat ingin menjadi pemimpin perusahaan. Tapi Dad menawarimu lebih dulu, tapi kau menolaknya dan berakhir aku lah yang menjadi pemimpin!! termasuk dengan Yura, aku mendapatkan dia karena kau menolaknya!! AKU SELALU MENDAPATKAN APA YANG KAU TOLAK SUMMER!! DARI KECIL SEPERTI ITU!!"
"Winter stop!! Duduk lah dulu ..." Maxime mendorong pelan pria itu untuk duduk.
Tapi ketika Winter duduk, Summer beranjak keluar dengan membanting pintu.
"SUMMER!!" Teriak Maxime dan Milan.
Winter menatap kepergian Summer dengan amarah yang belum reda. Milan beranjak untuk menyusul putra keduanya itu.
Tersisa Maxime dan Winter di ruangan. Maxime menghembuskan nafas kemudian duduk di samping Winter. Ia menepuk paha Winter lalu memeluknya. Dengan mata berkaca-kaca Maxime meminta maaf kepada putra pertamanya itu.
"Maafkan Dad, Winter ... Dad pikir, Dad sudah menjadi Ayah yang baik untuk kalian, Dad pikir Dad sudah bersikap adil kepadamu dan Summer ..."
__ADS_1
"Kau terbaik Dad ... terimakasih sudah menjodohkan ku dengan Yura."
Bersambung