
Winter ke kantor dan Yura minta diantar ke rumah orang tuanya. Gadis itu melambaikan tangan dengan tersenyum ketika mobil pergi dari halaman rumah.
Ia masuk dengan bersenandung kecil ke rumah tempatnya tinggal.
"Mommy ..." teriaknya berlari menghampiri Bayuni dengan rindu.
"Loh, Yura ..." Bayuni dengan wajah sumringah berlari dari duduknya memeluk putri kesayangannya.
"Astaga ... kenapa tidak bilang kalau mau ke sini," ucap Benjamin melentangkan kedua tangannya. Yura terkekeh kecil kemudian memeluk Ayahnya.
"Surprise dong buat Daddy dan Mommy."
"Winter dimana? tidak ikut?" tanya Benjamin setelah melepas pelukan anaknya.
"Dia harus ke kantor, jadi tidak kesini dulu. Buru-buru soalnya, Dad."
"Oh begitu ... yasudah duduk."
Mereka pun duduk kembali, Bayuni memperhatikan tubuh putrinya yang semakin kurus.
"Yura ..."
"Ya, Mom?"
"Kau semakin kurus saja. Kenapa?"
Mendengar ucapan Bayuni, Benjamin pun ikut memperhatikan tubuh putrinya.
"Loh, iya Yura. Kok semakin kurus saja, Dad baru sadar. Kau sakit?" Benjamin mengecek kening Yura.
"Eumm ..." Yura mengigit bibir bawahnya bingung harus menjawab apa. "A-aku diet."
"Diet?" Bayuni mengerutkan dahinya.
"Apa maksudmu diet, kau ini sudah kurus Yura. Malah semakin kurus kalau begitu, Winter tidak melarangmu?" tanya Benjamin.
"Hehe dia sudah lelah melarangku, Dad."
"Astaga Yura ..." Bayuni menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Dosa tau kalau tidak menurut dengan suamimu. Kau harus belajar jadi istri yang baik, ikuti apa kata suamimu. Kalau dia sudah melarangmu, kau jangan keras kepala."
Yura menekuk wajahnya pura-pura merasa bersalah padahal tentu saja tubuhnya kurus bukan karena diet.
"Iya mom, maaf ..."
"Minta maaf dengan suamimu dan janji dengarkan perkataan dia," sahut Bayuni terus menasehati.
"Iya ... iya ..." gerutu Yura dengan memajukan bibirnya.
Kemudian Yura menatap Ayahnya yang duduk di samping kirinya. "Dad, aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
Mereka saling menatap sejenak.
"Eum, aku ... aku boleh tidak ke Italy?"
__ADS_1
"Untuk apa Yura?" Benjamin sontak mengerutkan dahinya.
"Jalan-jalan saja, Dad."
Yura bisa melihat, sebelum menjawab mata Ayahnya menatap sang Ibu, Bayuni yang duduk di samping kanan Yura.
Kemudian Benjamin menghela nafas dan menggelengkan kepala membuat Yura kecewa.
"Tapi aku pergi dengan Winter."
Itu sebenarnya hanya alasan Yura, ia hanya ingin tahu reaksi sang Ayah. Ternyata reaksinya tetap sama, melarang tanpa mengatakan alasannya.
"Pergi ke Negara manapun kecuali Italy."
"Tapi Dad--"
"Dad bilang pergi ke Negara manapun kecuali Italy, Yura!!" hardik Benjamin dengan penuh penekanan membuat Yura menutup rapat mulutnya.
Benjamin pun beranjak dari duduknya pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya. Yura menatap langkah Ayahnya yang terlihat sedikit kesal.
Kemudian Yura menoleh menatap Bayuni. "Mom ..." Yura menekuk wajahnya.
Bayuni memegang tangan Yura. "Ikuti saja apa kata Daddy mu ya, Yura ... ini demi kebaikanmu."
"Tapi kebaikan apa, Mom? aku tidak mengerti ..."
*
Yura kembali pulang ke mansion dengan kecewa, ia tidak mendapatkan info apapun. Kedua orang tuanya tetap bungkam.
"Winter ..." ucapnya dengan tersenyum menyambut kepulangan suaminya.
"Kenapa tidak bilang mau pulang?"
"Aku di antar supir Daddy kok. Kau sendiri kenapa pulang?"
"Khawatir denganmu," sahut Winter mengenggam tangan istrinya berjalan masuk menuju sofa.
Yura hanya terus tersenyum geli mendengar jawaban Winter.
Dia bukan khawatir, tapi merindukanku. Aku yakin ...
"Yura." Winter mengetuk kening Yura dengan jari telunjuknya, Yura duduk di sampingnya sambil terus memandanginya dengan tersenyum.
Sontak Yura pun mengerjapkan mata. "Ya?"
"Kenapa?" tanya Winter menautkan kedua alisnya.
"T-tidak hehe ..."
Winter tersenyum mengacak-ngacak gemas rambut Yura. Ia suka melihat istrinya tersenyum, hatinya seakan merasa hangat seketika dengan senyuman gadis itu.
"Winter, kita buat dessert yuk? aku mau makanan yang manis, kita buat yang mudah saja, lihat resepnya di internet."
"Boleh," sahut Winter.
__ADS_1
Kemudian mereka pergi ke dapur dan mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas untuk membuat cake.
Yura memasukan terigu ke wadah dengan sesekali menjahili suaminya, mengoleskan wajah Winter dengan terigu tersebut dan membuat gadis itu tertawa renyah.
"Hahahaha ..." Ia tertawa sambil menunjuk wajah Winter.
Winter mencolek hidung Yura dan menyisakan terigu di hidung gadis itu. Yura cemberut dan memukul lengan Winter.
Tapi Winter membalasnya dengan pelukan membuat senyum di wajah Yura kembali merekah.
Mereka lebih banyak tertawa dari pada membuat dessert keinginan Yura. Gadis itu mengambil ponsel dan mengajak Winter selfie dengan wajahnya yang belepotan.
Winter sempat menolak tapi gadis itu terus memaksa.
"Ayo dong ... satu kali saja."
"Kau saja bagaimana?"
"Ih tidak mau, Winter ... Ayo cepat, aku janji satu kali oke."
Yura menarik tubuh Winter agar lebih dekat dengannya. Yura tersenyum di camera dan Winter memasang wajah datar.
Setelah itu Yura meng-upload fotonya di instagram.
*
Julian sedang merokok di balkon apartemen. Setelah kejadian Winter dan Summer bertengkar di mansion Maxime. Summer memutuskan menyewa apartemen, tidak lagi tinggal di mansion itu.
Julian merokok sambil memainkan ponselnya. Ia membuka instagram dan menekan tombol beranda di instagram tersebut. Ia mengerutkan dahinya ketika melihat foto seseorang di beranda.
Kemudian Julian membuka foto tersebut lebih jelas.
Yura ...
Julian melihat username instagramnya yang bernama Sunshine. Tapi foto yang di upload foto Winter dan Yura yang wajahnya belepotan dengan tepung terigu.
"Ini instagram Yura, tapi namanya aneh," gumam Julian.
"Wah ... gawat kalau si bos tau."
Pria itu pun segera masuk ke dalam. Berjalan mengendap-ngendap membuka pintu kamar Bos nya yang sedang tidur.
Ia menatap ponsel Summer di nakas kemudian menghela nafas panjang, bersiap-siap untuk mengambil ponsel itu.
Dengan pelan-pelan ia mendekati meja tersebut. Julian berusaha agar langkah kakinya tidak mengeluarkan suara.
Kemudian perlahan tangan nya terulur mengambil ponsel itu dan membukanya. Yang kebetulan Julian tahu password ponsel Summer selain sidik jari.
Julian dengan cepat mencari aplikasi instagram, mengetik nama Sunshine di pencarian dan memblokirnya kemudian menghapus jejak pencarian.
Ia menghembuskan nafas dengan lega dan kembali menaruh ponselnya di meja.
"Maaf ya bos, demi kebaikanmu ..." gumam Julian pelan menatap tak tega Summer.
Bersambung
__ADS_1