Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#115 Tidak tahan


__ADS_3

"Oh begitu ... Hebat ... Hebat ..."


Winter dan Yura menoleh ke belakang melihat Julian duduk bersila di belakang mereka entah dari kapan, pria itu bertepuk tangan beberapa kali seraya menggelengkan kepala tak habis pikir dengan Yura yang menyamar jadi hantu ke apartemen nya.


Sebelumnya Julian benar-benar kaget ketika melihat Winter berbicara dengan seorang perempuan. Karena dia berdiri di belakang, dia tidak bisa melihat jelas wajah Yura.


Yang Julian lakukan diam-diam duduk di belakang mereka. Dia benar-benar terbelalak ketika suara perempuan itu mirip dengan Yura, Julian sampai menutup mulutnya saking shock mendengar suara yang ia kenal.


Di tambah ketika mendengarkan cerita dari Yura, gadis itu sempat beberapa kali menoleh ke samping menatap suaminya membuat Julian dapat melihat wajah Yura.


Julian sampai harus mengatur nafasnya seraya menutup mulut agar kagetnya tidak sampai mengeluarkan suara melihat Yura kembali. Alhasil pria itu memilih diam dan mendengarkan cerita dari Yura.


"Kau ..." Yura menggantung kalimatnya.


"Jadi kau masih hidup dan kau menyamar jadi hantu ke apartemenku!!"


Yura tidak menjawab, ia hanya berdecak dengan memutar bola matanya malas melihat Julian.


Julian yang kesal spontan mengambil batu kecil di dekatnya. Ia melempar batu itu ke arah Yura tapi Winter lebih dulu menghalangi wajah istrinya alhasil batu kecil itu mengenai tangan Winter.


"E-eh ... hehe ..." Julian langsung mengangkat kedua tangannya kikuk. "M-maaf, tidak sengaja. Spontan tadi, karena kesal Tuan hehe." Julian mengangguk sopan.


Julian kesal karena gara-gara Yura dia harus pergi ke dukun sampai mandi air garam yang membuat tubuhnya memerah dan kering.


Winter tidak mau memperpanjang masalah tidak jelas dengan Julian. Pria itu mengenggam tangan istrinya untuk pergi dari pantai.


Yura sempat menjulurkan lidah meledek kepada Julian sebelum pergi.


Julian berdecak. "Beruntung pawangmu singa jantan jadi aku tidak bisa berkutik!! coba kalau suamimu itu kucing garong, sudah aku injak-injak!!" gerutu Julian menatap kepergian Winter dan Yura.

__ADS_1


*


Di mobil Winter menelpon keluarganya untuk berkumpul di mansion nya tanpa mengatakan kalau Yura masih hidup.


Setelah panggilan berakhir ia menoleh ke samping. Winter baru sadar penampilan Yura berbeda, dia memakai dress sabrina berwarna hitam di atas lutut dan di tulang selangka nya ada tatto bertuliskan Winter L De Willson dengan huruf bersambung.


Yura tersadar dengan tatapan Winter yang melihat tatto nya.


"Bagus kan?" tanya nya dengan tersenyum menunjuk tatto miliknya.


"Di sini juga ada loh." Yura bergerak membelakangi Winter dan menggulung rambutnya ke atas untuk memperlihatkan tatto kupu-kupu di leher belakang gadis itu.


Winter berdecak lalu menghela nafas, kenapa penampilan istrinya jadi seperti ini. Tapi Winter tidak protes yang keluar dari mulutnya ialah.


"Cantik ..."


"Benarkan, cantik ..." Yura tersenyum sumringah.


Winter mendekat ke kursi Yura lalu memeluk gadis itu dengan membelai lembut rambutnya yang kini berwarna coklat tua padahal dulu berwarna hitam. Magma benar-benar mengubah penampilan Yura.


"Jangan pergi lagi ya ..." lirih Winter.


Yura membalas pelukan suaminya seraya menganggukan kepala. "Tidak akan, aku akan bersamamu terus ..."


Winter melepas pelukannya beralih menatap iris mata coklat istrinya, menatap lekat seakan takut ini hanya mimpi lagi.


Yura memegang pipi Winter. "Ini nyata Winter ...." kata nya dengan tersenyum.


"Kau semakin cantik Yura ..."

__ADS_1


"Kau juga semakin tampan Daddy ..."


Keduanya terkekeh pelan kemudian mereka berc*uman. Tidak ada kelembutan dalam cium*n mereka sekarang, karena keduanya sedang sama-sama menyalurkan rasa rindu yang di tahan bertahun-tahun.


"Winter ..." Yura mendorong dada pria itu dengan nafas terengah-engah.


Yura tersadar tangan Winter mulai tidak beres dengan memegang bagian tubuh yang lain. Pria itu tidak tahan.


"I-ini di mobil," ucap Yura.


Winter tersenyum mengecup hidung Yura lalu kembali ke tempat duduknya. Yura menghela nafas, membereskan rambutnya lalu mengusap bibirnya yang tadi di gigit Winter. Untung saja tidak berdarah.


Mobil pun melaju menuju mansion Winter. Di perjalanan tak henti-hentinya Winter menoleh ke samping, sesekali tersenyum sambil mengelus kepala istrinya atau menggenggam erat tangan Yura.


Mereka berhenti ketika lampu merah. Winter melepas seatbealt dan kembali mendekati tempat duduk istrinya.


Lagi, pria itu mencium istrinya sampai membuat Yura sedikit kesulitan bernafas. Wajar, pria itu depresi bertahun-tahun dan sekarang kembali melihat Yura dalam kondisi sehat. Itu seperti obat sebenarnya yang Winter butuhkan.


Suara klakson mobil dari belakang Winter membuat Winter berhenti menc*um Yura.


"Lampu hijau," ucap Yura.


Winter pun melihat apa benar sudah lampu hijau. Dan ternyata benar, rasanya sebentar sekali lampu merah ini.


Pria itu kembali ke tempat duduk, memakai seatbealt dan kembali melajukan mobilnya.


Di mobil saja dia seperti ini. Nanti di kamar bagaimana astaga ...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2