Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#83 Hari Valentine


__ADS_3

Sepulang dari rumah Benjamin mereka kembali ke mansion dan masuk ke kamar lalu duduk di sofa.


"Astaga pantas saja kau membelikanku bunga, sekarang Hari Valentine."


Winter menarik ujung bibirnya tersenyum lalu mengacak-ngacak gemas kepala Yura.


"Coklatnya mana?" tanya Yura.


Winter mengambil coklat di saku jas nya dan memberikannya kepada Yura. Membuat senyum gadis itu merekah sempurna.


Buket bunganya ia simpan di meja kemudian ia membuka coklat di tangannya.


"Kok cuman satu," ucap Yura lalu mengigit coklatnya.


"Tidak baik makan coklat banyak-banyak," sahut Winter.


"Iya sih, aku juga tidak terlalu suka coklat. Kebanyakan gigi ku bisa sakit."


"Aaaa ..." Yura menyodorkan coklatnya ke mulut Winter.


Winter menggeleng dan mendorong kembali coklatnya.


"Yasudah kalau tidak mau." Yura kembali memakan coklatnya.


"Yura ..."


"Apa?"


"Masih suka pusing?" tanya Winter seraya mengelus kepala gadis itu.


"Eum ... sudah jarang sih."


"Lemas?"


"Tidak terlalu seperti biasanya. Aku merasa baik-baik saja terkadang."


Winter mengangguk dengan tersenyum. "Bagus ..."


*


Winter berbicara dengan Dokter Jemi di telpon. Mengatakan apa yang di katakan Yura barusan soal penyakitnya.


"Tidak merasakan gejala terlalu berlebihan bukan berarti sudah sembuh ya. Kemoterapi tetap harus di lakukan, karena takutnya sewaktu-waktu gejala nya kambuh parah. Tapi sejauh ini kau merawatnya dengan baik Winter, karena yang paling penting tidak boleh stress dan makan makanan yang sehat."


"Minggu depan kemoterapi lagi," lanjut Dokter Jemi.


"Baik."

__ADS_1


Panggilan pun berakhir, Winter kembali masuk ke kamarnya dan melihat Yura tertidur di sofa dengan coklat di atas perutnya.


Winter mengambil coklat tersebut menyimpannya di meja dan menggendong tubuh gadis itu memindahkannya ke ranjang.


*


Bel berbunyi, Julian yang duduk di sofa beranjak membuka pintu.


"Permisi Tuan. Saya mau antar bunga ..." Intan menyodorkan buket bunga pesanan Julian dengan tersenyum ramah. Julian mengambilnya.


"Sebentar ..." Ia merogoh saku celananya untuk mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya kepada Intan.


"Ambil saja kembaliannya, Nona," ucap Julian mengedipkan sebelah matanya genit lalu menutup pintu.


"Astaga ... orang-orang ini sangat kaya sampai mengasihku uang banyak. Tadi Winter sekarang dia ..." gumam Intan.


"Ah tidak apa-apa, rezeki ..." Dengan tersenyum Intan memasukan uangnya ke tas lalu pergi dari apartemen tersebut.


Summer keluar dari kamar dan wajahnya langsung di sodorkan buket bunga.


"Happy Valentine, Bos ..." teriak Julian.


Summer menghela nafas kasar dan merebut bunga itu dari tangan Julian.


"Apa-apaan kau ini!"


Summer langsung memukul kepala Julian dengan buket bunga tersebut. "Aku ini laki-laki!!"


"Terus kenapa kalau laki-laki bos?" tanya Julian seraya melindungi kepalanya.


"Aku tidak mungkin dapat bunga dari laki-laki juga sial*n. Kau ini bod*h sekali!!" Summer berjalan ke balkon dan melempar buket bunga tersebut.


"Bos, kenapa di buang!!" teriak Julian. "Mahal bos!!"


Summer berbalik dan kembali masuk ke kamarnya membuat Julian yang berada di depan pintu kamar menghela nafas panjang.


"Sia-sia aku mengeluarkan uang ..." gumam Julian dengan kecewa.


"A-akhh!!" Intan memegangi kepalanya ketika sesuatu menimpa kepalanya. Ia baru saja keluar dari apartemen sudah ada orang iseng yang melempar sesuatu ke bawah.


"Loh, ini kan bunga ..." Intan mengambil bunga yang tergeletak begitu saja di aspal.


"Ini bunga dariku ..." lanjut Intan kemudian menengadah menatap jendela apartemen.


"Jatuh atau dibuang ya," gumam Intan. "Ah sepertinya tidak sengaja jatuh."


Intan pun kembali masuk ke apartemen dengan bersenandung pelan. Pekerjaan mengantar bunga memang hal yang Intan suka.

__ADS_1


Bel kembali terdengar. Summer yang sedang tiduran sambil main game hanya bisa berdecak ketika bel terus berbunyi tanda Julian belum membuka pintu.


"Ada tamu Julian!" teriak Summer keras tapi tidak mengentikan suara bel tersebut.


Alhasil pria itu beranjak dari ranjang dengan kesal. Ternyata Julian tidak ada di apartemen, entah kemana lagi pria itu pergi.


Summer pun membuka pintu. Intan sontak melebarkan matanya.


Winter ...


"Ada apa Nona?" tanya Summer.


Intan masih hening menatap wajah Summer.


"Nona ..."


Summer menghela nafas kasar lalu menutup pintu dan Intan pun langsung tersadar.


"E-eh ... tunggu-tunggu ..."


Summer kembali membuka pintunya lebar.


"Tuan Winter ... Ini--"


"Summer," potong Summer.


"Hah? S-summer?"


Summer mengangguk.


Astaga dia kan dari dulu tinggal di Italy. Tidak di sangka wajahnya sangat mirip dengan Winter dan penampilannya juga.


Intan menatap Summer dari atas sampai bawah membuat Summer berdecak.


"Nona kalau tidak mau berbicara silahkan pergi ..."


"Eh, iya maaf."


"Ini ... Ini bunganya jatuh." Intan menyodorkan bunganya kepada Summer.


"Kau penjual bunga nya?"


Intan mengangguk cepat.


"Oh. Aku hargai usahamu mengantar bunga ke sini."


Summer mengambil bunga dan langsung menutup pintu apartemennya membuat Intan terlonjak kaget kala Summer menutup pintu dengan keras.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2