
Ketika perjalanan menuju mansion, hujan mulai reda. Hanya menyisakan gerimis kecil yang membasahi jendela mobil, di balik jendela Yura bisa melihat beberapa orang yang tadi sedang meneduh di beberapa kedai pinggir jalan, mulai kembali menyalakan mesin motor mereka dengan masih menggunakan jas hujan.
Selain itu ada beberapa anak kecil yang malah asik bermain hujan di trotoar jalan. Winter fokus mengemudi di samping Yura. Tapi Winter tahu Yura tadi melihat anak kecil itu.
"Kalau hujan nya deras, tidak mungkin mereka akan tertawa, pasti mereka juga akan ketakutan. Iya kan?" tanya nya kepada Winter.
Winter mengangguk.
"Ah tapi mereka tidak punya trauma seperti ku." Yura menekuk wajahnya.
Winter masih penasaran, saat kejadian tsunami itu apa yang sebenarnya terjadi dengan Yura. Sampai sekarang Winter belum menemukan jawabannya.
*
Yura duduk di sofa kamarnya, Winter datang memberikan segelas air. Yura meneguknya sedikit lalu kembali memberikannya kepada Winter.
Seperti biasa, ketika trauma nya kambuh, Yura hanya diam menunduk memainkan kuku-kuku nya.
Winter duduk di sampingnya. "Keningmu?"
"Ini ..." Yura memegang keningnya yang di plester.
"Ini jatuh dari sofa karena mimpi waktu tidur hehe."
Winter menggeleng pelan. "Ceroboh."
Kemudian ia mengambil sesuatu di balik jas hitamnya. Kotak kecil berwarna hitam, ia berikan kepada Yura.
Yura menoleh kepada Winter kemudian mengambil kotak tersebut. Ia membukanya dan ternyata isinya berlian yang di bentuk lumba-lumba.
Yura tersenyum. "Terimakasih," ucapnya kepada Winter.
"Kenapa kau sudah pulang?" tanya Yura. "Harusnya besok, kan?"
"Pekerjaanku sudah selesai."
"Oh ..." Yura mengangguk-ngangguk kemudian menandangi lumba-lumba itu di tangannya.
Ponsel Winter berdering panjang, panggilan masuk dari Maxime. Winter segera mengangkatnya.
"Hallo."
"Ya, Dad?"
"Winter kau sudah pulang?"
"Sudah."
"Summer ada di sini, datanglah bersama Yura nanti malam. Ibumu membuat pesta makan malam bersama."
"Iya, Dad."
"Katakan kepada Yura, orang tuanya juga di undang."
"Iya."
Panggilan pun berakhir, Winter mengantungi kembali ponselnya.
"Ada apa?" tanya Yura.
"Makan malam bersama."
"Di mansion Daddy Maxime?"
Winter mengangguk.
__ADS_1
"Orang tuamu juga ada."
"Oh iya?" mata Yura berbinar senang.
*
Sementara itu di halaman belakang kediaman mansion Maxime, Summer dan Julian terlihat berdebat. Mereka duduk di kursi dekat kolam ikan piranha.
"Itu tidak mungkin, Letta teman kecilmu itu kan di Italy," ucap Julian.
"Tapi tidak menutup kemungkinan dia sekarang tinggal di sini kan."
"Itu tidak mungkin boss. Yang pertama, Letta itu anak penjual ikan, kau bilang hidupnya dulu pas-pasan. Dia tidak mungkin punya uang untuk membeli tiket pesawat ke sini kan. Dan yang kedua, ini yang paling tidak di masuk akal Bos, Letta hanya punya Ibunya saja. Dan kecurigaanmu tentang Yura adalah Letta itu semakin tidak di masuk akal, karena Yura punya orang tua lengkap."
Summer menghela nafas. "Tapi sikapnya sama."
"Hanya sikapnya yang sama bos, bukan orangnya! sudahlah, seharusnya kau move on saja dan cari perempuan lain, mau sampai kapan kau mencari teman kecilmu itu. Kalau dia sudah menikah bagaimana? lebih parahnya lagi kalau dia sudah mati bagaimana?"
"Hati-hati kalau bicara!" kesal Summer menoyor Julian.
"Summer ..." panggil Milan berjalan menghampiri mereka.
Summer dan Julian menoleh. Julian yang tadi duduk berusaha berdiri dengan tongkatnya.
"Kau bisa berjalan?" tanya Milan melihat satu kaki Julian di perban.
"Bisa, Nyonya. Tenang saja, mau bicara dengan Tuan Summer ya. Saya masuk dulu kalau begitu ... permisi."
Julian membungkuk pelan lalu berjalan pergi dari sana.
"Hati-hati Julian," ucap Milan melihat Julian berjalan sedikit kesusahan.
"Dia kenapa?" tanya Milan duduk di samping Summer.
"Mom mau bicara apa?"
"Begini, Daddy mu eum ..." Milan menggantung kalimatnya membuat Summer menaikkan satu alisnya.
"Daddy mu mau menjodoh--"
"Tidak, aku tidak mau," potong Summer. "Daddy itu aneh, suka sekali menjodoh-jodohkan anaknya."
"Summer ... Daddy mu itu hanya takut anaknya berpikir untuk tidak menikah, seperti Daddy mu dulu, dia kan dulu tidak mau menikah."
"Mom astaga ... aku belum sampai tiga puluh tahun. Jangan khawatir berlebihan."
"Tapi masalahnya kau tidak pernah dekat dengan perempuan. Jangan bilang kau dan Julian---"
"Momm ..." Summer membulatkan matanya, ia tahu apa yang di pikirkan Ibunya.
Sudah banyak orang berpikir kalau Summer dan Julian mempunyai hubungan lebih dari seorang atasan dan bawahan. Summer selalu muak dengan pikiran orang-orang yang seperti itu, tidak mungkin pisang dan pisang.
"Ya lagian, kau dan Julian kemana-mana berdua."
"Mom dia asistenku, wajar kalau dia ikut kemanapun aku pergi. Winter juga tidak pernah dekat dengan perempuan, Mom tidak berpikir yang aneh-aneh."
"Hitung berapa kali Winter mengganti asisten nya, sampai akhirnya asistennya perempuan. Julian sudah menjadi asistenmu selama tujuh tahun, bagaimana Mom tidak curiga."
Summer menepuk jidat nya. "Astaga ... padahal grandpa Han lebih lama jadi sekretaris Grandpa Javier."
"Tapi itu kan--"
"Sudah Mom, sudah. Oke, jangan di perpanjang lagi. Aku masuk dulu, Bye mom."
Summer meninggalkan Milan setelah mencium pipi Ibunya itu.
__ADS_1
"Astaga anak itu!" kesal Milan menatap kepergian Summer.
Summer masuk ke mansion dan melihat ayahnya, Maxime sedang memijit kakeknya, Javier.
"Inilah dia pembunuh Mudork yang sudah semakin tua," teriak Summer menekan kata 'tua'.
"Kau!" kesal Javier membuat Summer tertawa.
Summer duduk bergabung bersama kakek dan Ayahnya. Lalu mengambil jeruk di meja dan mengupasnya.
Maxime memijit pundak Javier dengan menggelengkan kepala menatap anak keduanya sibuk makan jeruk dengan mengangkat kakinya ke atas kursi.
"Dad ..."
"Hmm ..."
"Noah dan Kai dimana?"
"Sedang bimbel, sebentar lagi pulang."
"Sebelah sini ... sebelah sini ..." Javier menunjuk bagian pundaknya yang terasa pegal. Maxime pun memijit nya.
"Grandma?"
"Ada di kamar," sahut Javier.
Summer mengangguk-ngangguk. "Eh grandpa, aku mau tanya."
"Hmm?"
"Grandpa nikah dua kali kan?" tanya Summer.
Javier berdecak. "Jangan bahas itu!"
"Kenapa kau tanya soal itu?" tanya Maxime.
"Kalau aku menikah dua kali seperti grandpa boleh kan?" tanya Summer membuat Javier dan Maxime sontak mendelik ke arahnya.
"K-kenapa?"
"Pernikahan pertama grandpa mu itu hanya pernikahan bisnis, Summer." Maxime menjelaskan.
"Dan yang kedua pernikahan yang asli kan," ucap Summer sambil mengunyah jeruk di mulutnya.
"Kenapa kau mau menikah dua kali?" tanya Javier.
"Kalau aku menikah dengan seseorang yang di jodohkan Dad ..."
Maxime berhenti memijit sesaat, ternyata Milan sudah memberitahu Summer soal dirinya yang berniat menjodohkan anak itu. Ah, padahal Maxime meminta Milan untuk menunggu waktu yang tepat memberitahu Summer.
"Lalu setelah menikah aku bertemu dengan perempuan yang aku cari selama ini, boleh kan aku menceraikan istri pertama dan menikah dengan perempuan yang aku cari itu?"
"Jangan mempermainkan pernikahan, cukup grandpa saja yang menikah dua kali. Kalian jangan!" pekik Javier.
"Nah, dengar tuh Dad. Jadi berhenti berniat menjodohkan ku lagi, oke. Aku akan menikah dengan pilihanku saja."
Summer pun beranjak dari duduknya meninggalkan mereka.
Javier menatap kepergian Summer. "Memang siapa perempuan yang dia cari?" tanya Javier.
Maxime mengangkat kedua bahunya. "Tidak tau, Dad. Dia tidak cerita."
Javier berdecak seraya menggelengkan kepalanya.
Bersambung
__ADS_1