Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#51


__ADS_3

Yura berlari menuruni anak tangga ketika melihat Winter mencuci mobil di halaman mansion. Mereka sudah kembali ke mansion Winter tadi pagi.


"Musim dingin ..." teriak Yura berdiri di ambang pintu.


Winter menoleh dengan memegang selang air. Yura tersenyum lalu berjalan menghampiri Winter.


"Kenapa cuci mobil sendiri, kan banyak yang kerja di sini." kata Yura berdiri di samping pria itu.


"Aku lebih suka cuci mobilku sendiri."


"Oh ..." Yura mengangguk-ngangguk. "Aku bantu ya?"


"Tidak. Duduk saja di sana." Winter menunjuk tiga anak tangga di teras depan.


Yura menggeleng dengan mengerucutkan bibirnya. "Mau bantu ... Ya boleh ya?"


Akhirnya Winter pun mengangguk. Ia memberikan selang air kepada Yura dan Winter yang menggosok mobilnya dengan sabun.


Yura terus mengikuti kemana tangan Winter bergerak untuk membersihkan sabun. Dan sesekali ia mengarahkan air dari selang itu ke wajah Winter sambil menahan tawa.


"Yura."


"Hehehe." Yura terkekeh pelan.


Rasa isengnya terus muncul, kini Yura menyemprot bok*ng Winter. Winter mendengus kasar.


"Yura!" Pria itu menatap istrinya yang sedang tertawa.


"Maaf ... maaf ..."


Winter kembali menggosok mobilnya sambil jongkok. Yura berdiri di sampingnya memperhatikan.


Semprot lagi ah.


Yura kembali mengarahkan selang air itu ke wajah Winter. Winter memejamkan mata dengan kesal, wajahnya basah karena kejahilan istrinya.


Pria itu pun berdiri, mengambil selang dan menyemprot balik Yura. Yura tertawa dengan menghalangi wajahnya, ia berlari mengitari mobil dan dengan santai Winter berjalan mengejar gadis itu dengan terus menyemprotkan air ke tubuh Yura.


"Winter ... stop!"


Winter hanya menarik ujung bibirnya tersenyum dan dengan iseng nya ia menyemprot bok*ng Yura.


"Winter!" Yura melotot.


Selang air itu kembali naik kali ini ke d*da Yura.


"WINTER!"


Yura berusaha untuk merebut selang air itu dari tangan suaminya, tapi Winter mengulurkan tangannya ke atas membuat Yura tidak bisa menjangkaunya, air terus keluar membasahi mereka berdua. Winter tersenyum tipis dan Yura tertawa dengan sesekali mengusap wajahnya karena matanya terasa perih ketika air itu masuk.


Karena di rasa tubuh mereka sudah basah, alhasil Yura menarik tangan Winter.


"Ayo berenang saja ..."


Mereka pergi ke kolam renang yang ada di halaman belakang mansion, Yura meloncat ke kolam lebih dulu, Winter masih berdiri di sisi kolam.

__ADS_1


"Ayo ..." teriak Yura mengulurkan tangannya.


Winter turun perlahan meraih tangan istrinya. "Bisa berenang?" tanya nya.


"Bisa lah, mau balap?" tanya Yura menantang.


"Oke."


Mereka pun mulai bersiap-siap. Yura mulai berhitung.


"Satu ... dua ... tiga ..."


Keduanya masuk ke dalam air, berenang dengan cepat untuk sampai lebih dulu ke ujung kolam, Yura menambah kecepatan nya, dengan menggayun kaki di dalam air untuk menyusul Winter. Tapi si*l, Winter tetap menang.


Pria itu sampai lebih dulu ke ujung kolam meninggalkan Yura yang masih jauh. Winter mengeluarkan kepalanya dari dalam air ke permukaan, lalu berdiri menunggu Yura dengan menyenderkan tubuhnya di pinggiran kolam, tangan bersedekap dada dan senyuman terlukis di wajahnya.


Karena merasa nafas nya sesak di dalam air, akhirnya kepala Yura muncul ke permukaan, ia mengeluarkan air dari mulutnya yang sempat masuk tadi, melihat itu Winter terkekeh pelan.


"Kau curang ya!" teriak Yura dari jauh.


Winter tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.


Winter memberi isyarat dengan tangannya agar Yura menghampirinya. Dengan kesal gadis itu masuk kembali ke dalam air dan berenang menghampiri suaminya.


Dari dalam air Yura melihat kaki Winter yang semakin dekat, ia terus menggayunkan kakinya, meraih pinggang Winter lalu kepalanya keluar ke permukaan dan seketika pria itu menc*um bibir Yura tepat ketika wajahnya naik ke permukaan. Yura terbebalak tapi tidak menolak cium*n dari suaminya.


"Kau mirip putri duyung," ucap Winter setelah melepas cium*n nya.


"Yura ..." panggil Winter karena gadis itu seakan membeku di tempat dengan masih memegang pinggang Winter.


"Iya."


Winter kembali merunduk untuk menc*um gadis itu lagi tapi Yura segera bersembunyi masuk ke dalam air membuat Winter terkekeh.


*


Yura keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe dan menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.


Winter baru saja masuk ke kamar dengan memakai kaos hitam dan celana jeans, ia mandi di kamar mandi yang lain.


Yura langsung memalingkan wajahnya ketika ingat cium*n itu. Gadis itu duduk di sofa dengan terus mengeringkan rambut.


Winter duduk di sampingnya dengan menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa. Ia menoleh menatap Yura yang terlihat kikuk, duduk tegak dengan tegang.


"Kenapa?" tanya Winter.


"T-tidak."


"Yura aku mau bicara."


"Bicara saja."


"Aku mau ke luar kota."


Yura langsung menoleh. "A-apa? kenapa ke luar kota lagi?"

__ADS_1


"Pembangunan mall sedikit bermasalah dan lagi Daddy menyuruhku bertemu sahabatnya di sana, karena dia rekan bisnis baru."


"Oh ..." Yura kembali memalingkan wajahnya dengan perasaan tidak rela kalau Winter harus pergi. Ia hanya bisa cemberut dengan terus mengeringkan rambutnya yang masih basah.


Winter mengelus punggung gadis itu. "Mau ikut?"


Yura menggeleng. "Tidak, itu urusan pekerjaan."


"Tapi aku harus membawamu, tidak ada yang menjagamu di sini."


"Suruh Oris ke sini saja, aku baik-baik saja."


"Yura--"


Yura kembali menoleh. "Jangan khawatir tentang penyakitku, aku baik-baik saja."


Winter mengangguk. "Aku berangkat malam ini, besok siang aku pulang."


Yura mengangguk dengan cemberut, rasanya tidak suka jika Winter harus pergi. Ia akan merasa bosan di mansion.


Winter mencubit gemas hidung Yura. "Tidak mau ikut tapi cemberut."


"Tidak, aku biasa saja!" sahut Yura.


Winter menarik ujung bibirnya tersenyum kemudian menarik tangan Yura untuk masuk ke pelukannya.


Winter mengelus punggung gadis itu dengan lembut. "Video call aku ketika minum obat besok pagi."


Yura mengangguk pelan.


*


Pukul sembilan, Winter hendak pergi ke bandara. Lusi sudah menunggu di dalam mobil. Yura berdiri di dekat pintu kamar dengan menyenderkan kepalanya ke pintu melihat Winter sedang menggulung lengan kemejanya sampai siku.


Kemudian pria itu berjalan menghampiri Yura. "Aku berangkat dulu."


Yura mengangguk. Winter berjalan melewati Yura membuat gadis itu menghela nafas kasar dengan mencengkram kuat knop pintu.


Setidaknya dia pamitan yang benar bisa kan. Main pergi begitu saja!


Tiba-tiba Yura merasa seseorang memeluknya dari belakang, ketika Yura menoleh ke belakang, Winter langsung memberikan kecupan di bibir gadis itu. Tidak hanya sekali, tapi tiga kali bertubi-tubi Winter melakukannya, membuat seakan aliran darah Yura terhenti seketika, gadis itu hanya menatap iris mata suaminya tanpa bersuara.


Winter hendak masuk mobil tapi ia mendapati Yura berdiri di atas balkon. Yura menunduk melambaikan tangan kepada suaminya di bawah sana dengan tersenyum. Winter menarik ujung bibirnya, membalas lambaian tangan Yura lalu masuk ke dalam mobil.


Ponselnya bergetar ketika Winter baru saja duduk di dalam mobilnya, ketika ia membuka ponselnya, sebuah pesan masuk datang dari Summer.


Aku ingin bicara denganmu. Temui aku di Restaurant Tulip sekarang.


Winter membalas.


Tidak bisa.


Pria itu langsung memblokir nomor Summer.


#Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2