
Setelah melarung abu Yura, Magma langsung pergi ke Spanyol membuat Benjamin marah besar karena berpikir putranya sangat tega meninggalkan dirinya dan Bayuni yang baru saja kehilangan Yura.
Kalimat makian terdengar jelas di telinga Magma yang sedang melakukan panggilan telpon dengan Benjamin. Magma berada di mobil menuju Rumah Sakit tempat Yura di rawat.
Sepanjang jalan Magma hanya bisa diam dengan caci makian Benjamin. Sampai akhirnya ketika Benjamin mulai lelah memaki-maki putranya giliran Magma yang berbicara.
"*Perusahaan ku hampir saja bangkrut Dad. Ada orang yang berkhianat di sini, aku harus mengurus perusahaan dulu. Tolong sampaikan maafku kepada Mommy, aku janji akan segera kembali."
"Mag--"
Tut.
Magma langsung mematikan panggilan telpon nya.
Sesampainya di Rumah Sakit anak buah nya membukakan pintu. Di Spanyol orang-orang cukup segan dengan Magma sampai pria itu sangat di hormati di sana walaupun rasa hormat mereka karena perasaan takut dengan Tuan mafia satu ini.
Dokter Leon berdiri di depan ruangan menunggu Magma.
"Bagaimana?" tanya Magma.
"Dia sudah sadar sekarang."
"Apa?" Magma terkejut lalu segera masuk ke kamar pasien.
Padahal sebelum nya kondisi jantung Yura sangat lemah tapi ketika sampai di Spanyol Yura langsung sadar dari koma nya.
__ADS_1
Yura menatap Magma dengan tatapan sayu. Gaun pengantin yang di pakai Yura saat meninggal sudah di ganti denga pakaian Rumah Sakit, make up di wajahnya sudah di bersihkan oleh perawat. Ia duduk di ranjang dengan infusan di tangannya.
"Yura ..." Magma berjalan mendekati adiknya itu.
"Winter dimana?" tanya Yura dengan suara lemah membuat Magma menghentikan langkahnya.
Magma terdiam.
"Aku dimana?" Yura menatap ruangan yang asing menurutnya.
Ia ingat kamar pasien di Rumah Sakit Melati tidak seperti ini. Ada beberapa kertas origami yang sudah di bentuk, menggantung di kamarnya.
Magma berjalan duduk di sisi ranjang. "Tenanglah ... kau harus sembuh dulu Yura."
"Aku dimana?" ulang Yura.
"A-apa?"
"Kenapa aku ada di Spanyol? kenapa di sini, Dimana Winter?"
"Winter di indonesia ..."
"K-kenapa dia tidak di sini? aku tidak mau di sini, aku mau pulang ..." Yura menyibakan selimutnya hendak turun dari ranjang tapi Magma menahannya.
"Yura kau harus melakukan pengobatan terlebih dahulu."
__ADS_1
"Tapi kenapa Winter tidak ikut ke sini, kenapa dia tidak menemaniku. Dia bilang akan merawat dan menemaniku ..." Yura menyeka air matanya.
Magma menghela nafas kemudian ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tentang jantung Yura sempat berhenti, tentang Yura yang sudah di masukan ke peti jenazah sampai di masukan ke ruang kremasi.
Dan Magma juga mengatakan kondisi Winter sekarang. Pria itu yang dari awal tidak terima dengan kepergian istrinya.
Dengan mata berkaca-kaca dan suara gemetar Yura bertanya. "J-jadi sebelumnya aku sudah mati?"
Magma mengangguk pelan.
"Lalu kenapa kau tidak memberitahu Winter kalau aku kembali hidup sekarang. Bukan kah ini keajaiban dan Winter akan senang?"
"Kita harus melihat kondisimu dulu Yura. Kalau kau belum sembuh dari leukimia lebih baik jangan dulu pulang ke indonesia. Sembuh dulu baru bisa bertemu dengan Winter."
"Tapi--"
"Kau jangan sampai mati untuk kedua kalinya gara-gara penyakitmu Yura. Itu akan membuat Winter semakin menderita. Sembuhlah dulu baru kita pulang ke indonesia."
"Tapi bagaimana dengan Winter? yang dia tahu aku mati, bagaimana kalau dia menikah lagi ... hiks."
"Aku akan membunuhnya kalau dia sampai menikah lagi," sahut Magma mendapat pukulan dari Yura di lengannya.
Magma terkekeh mengacak-ngacak rambut Yura. "Aku akan menyuruh orang untuk melihat kondisi Winter setiap hari nya ..."
Akhirnya Yura pun mengangguk pasrah karena ia juga takut pengobatannya gagal dan berakhir membuat Winter semakin menderita.
__ADS_1
#Bersambung