
Winter dan Yura hanya berkunjung sebentar di rumah Benjamin. Mereka hanya mengobrol dan makan siang bersama, kemudian Winter dan Yura kembali pulang.
Tapi mereka tidak pulang ke mansion, mereka menyempatkan waktu untuk datang ke gereja. Mereka merapatkan kedua tangannya dan berdoa bersama dengan memejamkan mata.
Keinginan nya terucap dalam hati masing-masing. Yura yang meminta kesembuhan dan Winter pun berdoa untuk istrinya.
Setelah selesai mereka duduk di ruangan tempat biasa mereka makan. Tapi karena mereka masih merasa kenyang, alhasil Winter dan Yura hanya minum-minuman kaleng.
"Hari itu aku bertemu dengan Lily di sini, dia juga berdoa untuk kesembuhannya ..."
"Siapa Lily?" tanya Winter.
"Penderita kanker juga, dia masih kecil. Lily sudah tidak punya rambut, tubuhnya sangat kurus."
Winter mengangguk-ngangguk lalu meminum kembali minuman kaleng di tangannya.
"Di masa depan aku juga akan seperti itu, Winter ..."
Ucapan Yura membuat pria itu berhenti meneguk minumannya, Winter menyimpan minuman kaleng itu di meja dengan menatap istrinya yang memberikan tatapan sayu kepadanya.
"Yura---"
"Kalau aku cantik, mungkin hanya kau satu-satunya yang akan mengatakan hal itu. Tapi untuk orang lain, aku pasti terlihat menyedihkan ..."
"Yura kalau kau mau, kita bisa pindah ke luar Negeri. Hidup berdua sampai kau sembuh, kita bisa menjauh dari orang-orang sampai kau benar-benar sembuh dan bisa kembali lagi ke sini dengan normal."
Yura menggeleng dengan tersenyum getir menahan air matanya, kemudian menunduk menatap minuman kaleng di tangannya.
"Daddy dan Mommy, aku tidak bisa meninggalkan mereka."
__ADS_1
"Kalau begitu jangan memikirkan pandangan mereka terhadapmu, jika di masa depan kau sama seperti Lily, maka aku akan menjadi Lily versi laki-laki ..."
Yura tersenyum menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
Sampai akhirnya ia merasakan pusing, pandangannya tiba-tiba kabur, ia tidak bisa melihat wajah Winter dengan jelas.
"Yura ..." Winter langsung beranjak menghampiri Yura dan mendekap gadis itu.
"Kita ke Rumah Sakit ..." Dengan jantung memburu Winter menggendong istrinya menuju mobil.
Dalam keadaan setengah sadar, Yura bisa merasakan jantung Winter yang berdegup kencang karena khawatir dengan keadaan dirinya.
Bagaimana aku bisa mendapatkan suami yang sempurna sepertimu Winter ... di saat kau begitu baik kepadaku, aku takut di masa depan aku membalas semua kebaikanmu dengan kematianku ...
Dan kemudian semuanya gelap, gadis itu pingsan tepat ketika Winter memasukannya ke dalam mobil.
Winter mengemudi dengan kecepatan tinggi, tangannya yang gemetar berusaha ia tahan agar dapat mengemudi dengan baik, sesekali ia menoleh ke samping, wajah Yura begitu pucat berbeda dengan biasanya.
Beberapa kali Winter menghela nafas panjang dengan mata berkaca-kaca. Jantungnya seakan kehilangan kendali di dalam tubuhnya, berdegup kencang sampai Winter merasakan sakit di dadanya.
Mobil berhenti tepat di depan IGD. Perawat segera menghampiri mobil Winter dengan membawa ranjang dorong.
Winter keluar dan segera mengitari mobil menggendong Yura dan menidurkan nya di ranjang tersebut.
Mereka mendorong ranjang itu masuk ke sebuah ruangan. Dokter Leon dan Dokter Jemi dengan tergesa-gesa masuk ke ruangan tersebut. Dokter Jemi adalah Dokter spesialis kanker yang di datangkan dari Italy.
Winter duduk di kursi depan ruangan dengan nafas terengah-engah, dadanya naik turun, matanya berkaca-kaca, kakinya terus bergerak menunggu hasil pemeriksaan Dokter.
Kemudian ia menopang kepalanya dengan kedua tangan. Memijit-mijit kepalanya seraya menghela nafas berat.
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka membuat Winter segera berdiri.
"Bagaimana?" tanya nya.
"Transfusi darah, darahnya B. Apa golongan darahmu?"
Winter mendesis kesal. "A."
"Apa Rumah Sakit tidak ada stok untuk darah Pasien?" tanya Winter dengan kesal.
"Tuan, kami sedang mengusahakan mencari darah yang cocok untuk Nona Sunshine ..."
Kemudian Dokter Jemi keluar. "Kami sudah menemukan darah yang cocok untuknya ..."
"Tunggu di sini ..." ucap Dokter Leon kepada Winter lalu kembali masuk ke ruangan bersama Dokter Jemi.
*
Yura terbaring di ranjang dalam keadaan tak sadarkan diri, infusan di tangan kanannya, kantung darah menggantung di tihang infusan.
Mereka berada di kamar tempat biasa Yura kemoterapi, kamar yang di hiasi gantungan kertas origami berbagai bentuk yang mereka buat saat kemoterapi kedua.
Winter duduk di samping ranjang dengan mengenggam kuat tangan gadis itu, tangan yang terasa dingin ketika di genggam. Ia masih belum bisa bernafas lega sebelum melihat mata Yura terbuka.
"Bangun Yura ..." lirih Winter mencium tangan istrinya.
"Aku punya kertas origami lagi. Ayo kita buat burung bangau lagi ..."
Yura masih belum bangun. Sudah satu jam lamanya, Winter hanya duduk dengan tangan mengotak-ngatik kertas origami berwarna merah, ia sedang membuat burung bangau dari kertas itu untuk menambah hiasan gantung di kamar Rumah Sakit milik Yura.
__ADS_1
Magma menatap mereka dari balik jendela bulat yang ada di depan pintu kamar Yura. Dan di lengan kanan Magma terdapat plester. Karena dia yang mendonorkan darah untuk gadis itu.
Bersambung