
Yang lain sudah pulang, tinggal Winter dan Yura yang sedang berpamitan kepada Maxime dan Milan.
"Kurangi bekerja dan diamlah lebih banyak di mansion," ucap Maxime menepuk pundak Winter.
"Itu kode dari Daddy mu agar cepat membuat anak, Winter," pekik Javier membuat Yura membulatkan mata dan Winter masih dengan tampang datar nya.
Maxime berdecak karena Javier memperjelas maksud perkataannya.
Membuat anak bagaimana, dia bisa bicara denganku saja aku sudah bersyukur.
"Kami pulang dulu," ucap Winter lalu menarik tangan Yura.
Yura melambaikan tangan kepada Maxime, Javier, Sky dan Milan.
"Hati-hati ya," teriak Milan.
Ketika di teras depan, Winter melepaskan tangan Yura. Ia menggenggam tangan istrinya hanya di depan keluarganya saja. Mereka masuk ke mobil dan mobil pun melaju keluar dari halaman Maxime De Willson.
Di balkon ada Summer yang berdiri di pagar balkon menatap kepergian mobil Winter dengan perasaan yang sulit diartikan.
*
Ketika sampai di mansion Winter, Winter duduk di ruang tamu, membuka jasnya lalu duduk menyenderkan punggung nya di sandaran kursi. Sementara Yura masuk ke kamar dan membersihkan diri di kamar mandi.
Ada amplop coklat di meja ruang tamu, Winter mengambilnya dan membukanya. Kemudian ia menghela nafas lalu menatap pintu kamarnya yang tertutup.
Ketika Yura keluar dari kamar mandi, ia sempat terlonjak kaget ketika Winter berdiri di depan kamar mandi dengan memasukan kedua tangannya ke saku celana.
"K-kau ... untuk apa kau berdiri di depan pintu kamar mandi? kau tidak mengintip kan?" tanya Yura dengan was-was, gadis itu memeluk tubuhnya sendiri.
Winter tidak menjawab, ia memberikan amplop coklat itu kepada Yura. Yura menautkan kedua alisnya lalu membuka amplop itu.
Ia melebarkan mata ketika ada bukti pembayaran dirinya saat ke Rumah Sakit. Yura sudah biasa dengan hal seperti ini, dulu ketika Yura menggesek atm miliknya, Benjamin selalu tahu uang di atm di pakai untuk apa saja. Karena uang Yura, uang jajan dari Benjamin, setelah lulus kuliah gadis itu tidak bekerja sama sekali, Yura tidak mungkin punya uang hasil jerit payah dirinya sendiri.
"Kau sakit?" tanya Winter.
"I-ini. Ini aku memeriksa ini." Yura menunjuk keningnya yang sempat terluka karena jatuh dari sofa.
"Kau tau kan aku jatuh dari sofa, jadi aku memeriksanya karena takut cidera serius. Aku takut geger otak, begitu."
__ADS_1
Yura tersenyum dengan jantung berdebar, berharap Winter percaya dengan apa yang ia katakan.
"Aku tidak bohong. Sumpah." Yura mengangkat jari telunjuk dan jari tengah nya.
Winter pun mengangguk lalu melengos ke kamar mandi melewati Yura. Yura menghela nafas lega dengan mengusap dada nya.
Kemudian ia berjalan ke balkon kamarnya. Yura terus berbicara sendiri dengan mondar-mandir tidak jelas.
"Bagaimana ini, aku tidak bisa ke Rumah Sakit lagi dengan uang Winter. Karena pasti ada bukti yang muncul lagi, pakai uang Daddy juga sama saja. Aaaaarrghhh kenapa aku tidak punya uang sendiri, aku menyesal tidak pernah bekerja."
"Kalau aku pinjam dengan Bella, ah terkadang mulut dia tidak bisa di jaga. Bisa-bisa Bella keceplosan."
Yura benar-benar tidak ingin ada orang terdekatnya yang tahu tentang gejala yang ia rasakan.
Yura kembali masuk ke kamarnya dan disaat bersamaan Winter keluar dari kamar mandi. Ia melihat Yura berjalan ke sofa dengan lesu, entah kenapa lagi gadis itu Winter tidak tahu.
Sebelum tidur Winter sempat membuka laptop nya dengan sesekali menoleh ke arah sofa, Yura sudah tertidur dari tadi. Winter beranjak dari ranjang, membenarkan selimut gadis itu lalu kembali ke ranjangnya dan tidur.
*
Keesokan paginya, kegiatan dilakukan seperti biasa. Sarapan dan pergi ke kantor, Yura sendiri sedang menonton film yang di bintangi langsung oleh Nathan.
Ketika film nya selesai, Yura keluar dari kamar. Dengan memakai pakaian casual dan tas selendang, ia menaiki taxi untuk pergi ke gereja.
Di gereja, ia memejamkan mata dengan merapatkan kedua tangannya. Kemudian Yura berdoa di dalam hati.
"Tuhan, aku tidak mau sakit. Tapi jika engkau terlanjur memberikan penyakit kepadaku tolong beri aku jalan untuk menyembuhkannya ..."
Walaupun ia belum membuka matanya, tapi Yura bisa merasakan ada seseorang yang berdiri di sampingnya, mungkin orang itu juga sedang berdoa.
Ketika Yura membuka mata, ia menoleh ke samping dan mendapati suaminya sedang berdoa juga.
"Winter ..."
Winter membuka mata setelah selesai mengutarakan doa nya. Ia pun menoleh sejenak kepada Yura lalu berjalan masuk ke ruang peralatan. Seperti biasa hari ini jadwal bersih-bersih di gereja.
Yura ikut masuk ke ruang peralatan tersebut. "Aku bantu ya."
Yura mengelap kursi dan Winter membawa vacum cleaner dari ruang peralatan tersebut.
__ADS_1
Yura mengelap kursi dengan sesekali menoleh ke arah Winter yang sedang memvacum lantai.
Sesekali Yura tersenyum.
*K*enapa ya di setiap kesempatan muka dia selalu datar dan serius. Bersih-bersih saja sampai fokus seperti itu ... tapi dia tampan juga hehe.
Winter juga sempat tak sengaja menatap Yura lalu Yura yang salah tingkah langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, begitu pula dengan Winter yang kembali memvacum lantai.
Yura kembali tersenyum.
Dia diam-diam menatapku juga ternyata.
Yura menoleh ketika ada sesuatu yang mengetuk pundaknya. Dan ternyata itu Winter, dia memberikan sebotol air dingin kepada gadis itu.
Yura tersenyum cengengesan. "Terimakasih hehe ..."
Winter mengangguk lalu masuk kembali ke ruang peralatan. Melihat Winter masuk ke ruang peralatan Yura berlari untuk kembali berdoa sebentar.
Tuhan ... sedikit maksa, tapi bisakah engkau mengubah suamiku menjadi cerewet.
Winter yang keluar dari ruang peralatan mendapati Yura kembali berdoa dengan memejamkan mata dan merapatkan kedua tangannya. Winter menaikkan satu alisnya, apa permintaan Yura sangat banyak sampai belum selesai berdoa tadi.
Ketika Yura membuka mata, Yura terlonjak kaget sampai ia mundur beberapa langkah karena Winter berdiri di depannya.
"Kau mengagetkanku saja!"
"Gelangmu ..." Winter membuka telapak tangannya, gelang mutiara yang di tengahnya gantungan lumba-lumba.
Mata Yura berbinar senang. "Cantiknya ..."
Yura mengambil gelang tersebut. Awalnya gelang itu hanya gelang mutiara polos biasa tapi ketika ada lumba-lumba kecil menggantung di gelang tersebut, gelangnya tampak sangat cantik.
"Aku suka ... ini cantik sekali. Aaaa ... terimakasih Winter."
Yura yang antusias langsung memeluk Winter. Winter hanya diam mematung, kedua tangannya tidak membalas pelukan Yura.
Yura yang kemudian sadar langsung mendorong tubuh pria itu.
"Eh maaf, tidak sengaja hehe ... aku terlalu senang, gelangku lebih cantik sekarang."
__ADS_1
Bersambung