Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#80 Pertengkaran adik kakak


__ADS_3

Winter pergi ke kantor sementara Yura di antar ke rumah Benjamin. Awalnya Yura menolak tapi Winter tidak mau istrinya sendirian di mansion.


"Mungkin sekarang lembur, aku akan menjemputmu nanti."


Yura mengangguk dengan tersenyum lalu membuka seatbealtnya. Ketika mendorong pintu mobil, ia kembali menoleh menatap Winter.


Winter menaikan satu alisnya kemudian mencium pipi pria itu sebelum keluar.


"Bye ..."


Winter menatap gadis itu dengan tersenyum. Mobil pun melaju pergi dari halaman rumah Benjamin, Yura melambaikan tangan dengan kepergian mobil Winter.


Kemudian ia masuk ke rumahnya seraya berteriak seperti biasa.


"Mommy ..."


Bayuni yang sedang membuat cookies di dapur pun menoleh dan seketika matanya berbinar senang melihat putri semata wayangnya itu.


"Yura ..." Bayuni segera menghampiri gadis itu dengan celemek melekat di tubuhnya.


Bayuni segera memeluk putrinya, bukan hanya karena senang dengan kedatangan Yura tapi Bayuni juga senang karena ternyata Yura masih mau mengakui dirinya sebagai Ibu.


"Pas sekali, Mommy sedang membuat cookies ..."


"Oh iya? mau dong Mom ..." ucap Yura dengan semangat.


"Sini sini ..." Bayuni mengenggam tangan Yura membawanya ke dapur.


"Nih ... sudah ada yang jadi." Bayuni memberikan cookies di toples kecil kepada Yura.


"Coba dulu, bagaimana rasanya menurutmu ..."


Yura pun mengambil satu cookies di toples itu dan langsung melahapnya. Mata Bayuni menunggu reaksi anaknya.


"Enak Mom ..." ucap Yura dengan mata berbinar. "Astaga enak sekali, wah ... Mom pintar sekali buat cookies. Bisa tuh masuk shopee Mom," ucap Yura dengan terkekeh membuat Bayuni juga ikut tertawa.


"Ah kau ini, kalau di jual nanti laku bagaimana."


"Ya senang lah kalau laku, Mom ini bagaimana sih," sahut Yura.


"Mom tidak kuat kalau harus buat cookies banyak-banyak. Oh iya, suruh kakakmu coba juga dia di kamar."


"Kamar yang mana?" tanya Yura.

__ADS_1


"Kamarmu ..."


"Apa?" mata Yura melebar tak terima. "Mom kok di kamarku sih, kan ada kamar tamu." kesal Yura dengan menekuk wajahnya.


"Dia maunya di kamarmu."


Yura berdecak. Dengan langkah kesal ia menaiki anak tangga untuk pergi ke kamarnya. Bayuni tersenyum seraya menggelengkan kepala, tidak tahu kenapa ia senang melihat Yura dan Magma bertengkar layaknya adik kakak, itu terlihat lucu.


Yura hendak membuka pintu kamar. Tapi ketika mendorong knop pintu ternyata kamarnya di kunci. Yura menghela nafas kasar kemudian menggedor kamarnya sendiri.


"Buka!" teriaknya.


"Hei Buka!" ia kembali menggedor lebih keras.


Terdengar suara membuka kunci pintu dari dalam kamar dan ketika pintu terbuka Magma berdiri dengan setengah sadar karena sedang tidur.


Ia berdecak melihat Yura lalu berbalik kembali masuk kamar. Ketika Yura masuk ke kamarnya ia ternganga melihat kondisi kamarnya, kamar yang dulu di desain warna putih polos berubah menjadi hitam. Ada satu gambar bajak laut di salah satu dinding kamarnya, sofa nya berubah menjadi warna abu-abu, tidak ada lagi meja belajar yang ada meja bulat dengan beberapa minuman alcohol di atasnya.


Boneka miliknya di coret-coret menggunakan spidol. Boneka lucu itu berubah menjadi menyeramkan.


Celana d*lam berserakan dimana-mana. Baju kotor tergeletak begitu saja di kepala sofa.


"MAGMAAAA ..." teriak Yura dengan suara melengking saking kesalnya membuat Magma yang sedang tertidur di ranjang sontak menutup telinganya dengan bantal.


"Ih kamarku!" Yura menghentak-hentakan kakinya dengan kesal dengan satu tangan memegang toples cookies.


"Keluar!" titahnya.


"Lah, kau lah yang keluar. Ini kamarku!"


"Sekarang milikku," jawab Magma enteng.


"Ubah kamarku seperti semula atau kau keluar dari rumah ini!"


"Ini bukan rumahmu," gerutu Magma lalu kembali tidur seraya memeluk guling.


Yura menghela nafas dan mengeluarkannya perlahan untuk mengatur amarahnya. Ia menyimpan toples berisi cookies itu di meja lalu membereskan kamar nya yang mirip kapal pecah itu.


Yura menutup hidung nya dengan satu tangan dan tangan yang lain mengambil ujung celana d*lam Magma dengan bergidik jijik lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Kalau kau suamiku, aku rela seperti ini ..." gerutu Yura.


Ia mengambil satu persatu celana d*lam Magma lalu semua celana dal*m itu masuk ke tempat sampah. Ia juga mengambil baju Magma yang berserakan dan membuangnya juga ke tempat sampah.

__ADS_1


*


Magma bersiul keluar dari kamar mandi dengan handuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


Ia membuka lemari dan seketika siulan nya berhenti ketika melihat lemari kosong. Kemudian ia celangak-celinguk mencari dimana bajunya.


Ia tahu Yura membereskan kamarnya, tapi bukan kah semua baju itu seharusnya masuk lemari.


"Yura ..." teriak Magma keluar dari kamar.


"YURA ...!!" Teriak Magma lebih keras menuruni anak tangga.


"Astaga ..." Bi Ijah langsung menutup matanya ketika melihat Magma turun dengan hanya memakai handuk melilit di bagian bawah tubuhnya saja. Buru-buru Bi Ijah pergi ke dapur.


Yura yang sedang makan cookies sambil menonton tv melebarkan matanya ketika Magma berdiri di depannya tanpa memakai baju. Nafasnya menggebu-gebu entah karena apa Yura tidak tahu.


"Kenapa?" Tanya Yura dengan satu alis terangkat.


"Dimana baju-baju ku Yura?"


Yura mengangkat kedua bahunya. "Mana aku tau, kenapa tanya aku!" sahut Yura mengigit kembali cookies di tangannya sambil mengalihkan pandangannya kembali ke tv.


"Kau yang membereskan kamarku tadi!"


"Iya, tapi aku hanya membuang baju kotormu saja," sahut Yura dengan polosnya.


Magma ternganga kemudian menggaruk kepalanya frustasi. "Yura apa kau tau itu baju baru, bukan baju kotor! Lail baru membelikannya semalam!" geram Magma.


"Masa baju baru ada di lantai, berserakan begitu saja seperti sampah. Jadi aku masukan saja ke tempat sampah."


"Yura kau---"


"Ada apa ini?" ucap Benjamin datang menghampiri mereka. Benjamin menatap Magma dari atas sampai bawah kemudian menggelengkan kepala.


"Magma, pakailah bajumu dulu. Walaupun Yura adikmu tapi dia bukan anak kecil lagi."


Magma pun mengadu kepada Benjamin. "Dad, pakai baju bagaimana. Semua bajuku di buang dia ..." Magma menunjuk Yura.


"Ih kok salahkan aku, Dad dia jorok. Masa baju baru berantakan di lantai," sahut Yura tak mau kalah dengan menunjuk wajah Magma.


Benjamin berdecak. "Sudah-sudah, Magma pakai baju Dad saja. Ada di kamar."


Yura menahan tawa nya. "Pakai baju bapak-bapak ..." gumamnya.

__ADS_1


Yura langsung terdiam ketika Magma menatapnya tajam. Pria itu pun pergi ke kamar Benjamin, Yura menjulurkan lidahnya menatap kepergian Magma membuat Benjamin menggelengkan kepala.


Bersambung


__ADS_2