
Hari sudah gelap ketika Amara sampai di rumah. Lampu-lampu sudah menyala, mobil Dimas pun sudah terparkir cantik di garasi, menandakan jika pria itu sudah tiba sebelum dirinya. Dengan lemas ia membuka pagar besi, lantas masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai.
Saat membuka pintu utama, alisnya dibuat bertaut oleh suara wanita yang terdengar dari dalam. Gegas saja ia masuk demi mengetahui siapakah gerangan.
Sampai di ambang pintu penghubung ruang tamu dan ruang tengah, langkah kakinya seketika tercekat. Pemandangan yang ia lihat di sana membuat hatinya berdenyut nyeri. Bagaimana tidak? Dimas dan Naura tengah duduk di sofa yang sama, berimpitan dan Naura menyandarkan kepalanya pada pundak Dimas.
Sekilas memang tak ada yang vulgar dari kebersamaan mereka, mengingat Dimas dan Naura tampak tertawa sambil menatap layar gawai yang dipegang Dimas. Namun, yang membuat Amara tak nyaman adalah hal itu dilakukan oleh wanita asing di rumahnya, bersama suaminya dan tanpa seizin dia. Setan itu ada di mana-mana. Lantas, bagaimana jika keduanya tanpa sadar berbuat hal yang melanggar norma-norma agama?
"Amara? Lo udah balik?" Dimas yang menyadari kehadiran istrinya pun langsung angkat bicara untuk menyapa. Pria itu sama sekali tak mengubah posisinya. Hanya sudut bibirnya yang terangkat bersamaan hingga membentuk sebuah senyuman.
Di samping Dimas, Naura yang menyadari kedatangan Amara langsung bergerak mengubah posisi duduk dan menciptakan jarak dengan Dimas. Wanita cantik itu mengulas senyum, lalu menyapa Amara dengan sopan.
"Hai, Mar. Baru pulang?"
"Iya. Aku mampir belanja bahan makanan di mini market sebentar. Aku ke dapur dulu, ya," pamit Amara sambil menunjukkan tas berisi penuh dengan belanjaan yang ditentengnya itu.
__ADS_1
"Habis itu ke sini gabung sama kita, ya. Ada yang mau gue omongin!"
Amara berhenti sebentar saat Dimas berseru dari tempatnya, dan ia hanya menanggapi dengan anggukan kepala sebelum kemudian melangkahkan kakinya ke dapur.
"Ada apa, Mas?" tanya Amara saat sudah kembali ke ruang tengah. Gadis itu kini sudah duduk mengambil posisi di seberang Dimas, hanya terhalang meja kaca berukuran sedang.
"Gini ...." Dimas meletakkan ponselnya ke atas meja, lantas mulai bicara setelah memandang Naura sebentar. "Kamu tau kan, Naura itu seorang model?"
Ya, aku tau. Lantas apa hubungannya denganku? batin Amara.
"Jadi gini, beberapa hari nanti dia ada pemotretan di daerah sini," lanjut Dimas lagi.
"Nggak masalah, kan, kalau dia nginap di sini selagi pemotretan. Dari pada gue jauh-jauh antar jemput dia. Akhir-akhir ini gue sibuk banget, Mar, kerjaan gue numpuk. Boleh ya, Mar. Boleh, ya."
Deg. Kecurigaan Amara terbukti. Dimas benar-benar meminta izinnya agar Naura menginap di sini. Pria itu bahkan memasang wajah imut demi untuk membujuk.
__ADS_1
"Menginap? Maksud Mas Dimas, kalian tidur ...." Amara tak berani melanjutkan perkataannya. Hanya sepasang bola mata dan telunjuknya yang bekerja sama, menuding dan menatap sepasang kekasih itu bergantian.
"Heh, jangan mikir ngeres dulu!" sahut Dimas seketika, seolah-olah paham akan apa yang Amara pikirkan. "Gue sama Naura nggak mungkin tidur bareng, lah Mar. Kita belum ada ikatan. Tapi kalau dia tidur sama lo, nggak masalah, kan?" tanya Dimas kemudian, tetapi kali ini dengan penuh kehati-hatian.
Belum juga Amara menjawabnya, Dimas kembali berucap.
"Untuk kamar, lo nggak usah pusing-pusing. Kasur lipat lo udah gue ganti sama ranjang dan kasur baru, kok. Udah di tata rapi juga, jadi lo nanti tinggal bobo manis aja, deh."
Bahkan untuk ranjang pun Dimas sudah membereskannya. Jelas, semua ini telah mereka rencanakan sebelumnya.
Terpaksa, Amara menganggukkan kepala meski sesungguhnya ia merasa tak suka. Bukan karena cemburu, tetapi lebih kepada merasa bersalah pada mertuanya. Ia bisa pastikan jika Dimas akan memintanya merahasiakan semua dari Amelia, dan itu terbukti melalui kata-kata Dimas setelahnya.
"Tolong, lo rahasiakan ini dari mama papa, ya. Gue takut mereka naik pitam. Naura nginap juga cuma sementara, kok. Nggak akan lama."
"Maaf aku nggak bisa janji, Mas. Tapi bakal aku usahakan untuk jaga rahasia ini, kok. Sebisaku, ya," ujar Amara jujur. Ia memang tak bisa janji untuk hal yang tidak pasti.
__ADS_1
"Thank you, Mar."
"Sama-sama."