Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Naura


__ADS_3

"Dimas ... kamu kenapa begini? Salah aku apa."


"Pergi kamu, Naura, pergi!" Tak mempedulikan semua pasang mata yang terarah kepadanya, Dimas menggeram penuh amarah. Matanya menatap Naura dengan nyalang tajam. Giginya menggemeretak, dan napasnya memburu.


Sesaat kemudian, rasa pusing tiba-tiba menjalar hingga membuat pria memekik sambil menjambak rambutnya dengan kuat, sedangkan matanya terpejam rapat.


"Dimas ...." Naura tercekat. Ada kecemasan yang tercetak di wajah cantiknya. Bibirnya mulai gemetar melihat ekspresi Dimas yang terlihat seperti kesakitan.


"Aku minta kamu pergi, Naura. Pergi!" teriak Dimas tanpa memandang wajah Naura. Pria itu kian terlihat kacau. Wajahnya merah padam dan napasnya tak beraturan.


"Dimas ...."


"Pergi!" ulang Dimas sambil menunjuk pintu. Mengetahui Naura hanya bergeming membuat amarahnya kian berkobar. Hilang kendali, pria itu meraih gelas kaca di depannya dan mengangkat tinggi-tinggi.


"Mas Dimas!" Amara yang baru tiba dari dapur berteriak histeris. Beruntung, gadis itu tiba di saat yang tepat. Ia dengan sigap merebut gelas dari tangan Dimas sebelum menghantam wajah Naura.


Meletakkan gelas itu kembali ke meja, Amara kemudian menangkub wajah Dimas dengan kedua tangannya sambil bertanya dengan wajah cemas.


"Mas Dimas, apa yang terjadi? Kenapa Mas Dimas seperti ini?"


Terang saja Amara bingung bukan kepalang. Ia ingat dengan jelas saat meninggalkan Dimas beberapa menit lalu pria itu masih dalam keadaan baik-baik saja. Lalu mengapa saat kembali pria itu sudah kacau seperti ini?


"Kepalaku sakit .... Sangat sakit ...," keluh Dimas lirih.


"Astaghfirullah ...." Amara tercekat. Melihat Dimas hanya memejamkan mata dengan tangan tak henti memijat kepala membuat perasaannya diguncang prahara. Merasa iba, gegas didekapnya pria itu demi untuk menenangkan. Ia pun mulai membisikkan dzikir dan istighfar ke telinga pasiennya.


Melihat bagaimana kedekatan Dimas dengan wanita berpakaian perawat itu membuat hati Naura meradang. Entah siapa gadis itu hingga berani sekali menyentuh Dimas.

__ADS_1


Naura juga menatap Dimas dengan pandangan tak habis pikir. Ia bahkan masih belum terima oleh sikap kasar pria itu tadi, dan kini Dimas kembali membuat ulah dengan bermesraan dengan wanita lain.


Tak ingin tenggelam dalam kebingungan, pada akhirnya membuat Naura memberanikan diri untuk menanyakannya agar lebih jelas.


"Kamu siapa? Berani sekali menyentuh pacar saya." Tanpa peringatan, Naura menarik bahu Amara agar melepaskan tubuh Dimas.


"Pacar?" Amara mengulang kata itu sambil mengerutkan keningnya. Dibalasnya tatapan tajam wanita cantik di depannya itu dengan mata menyipit. "Mbak Naura?" panggilnya setengah memastikan setelah beberapa saat berusaha mengingat-ingat.


Naura tercengang. Ia menatap Amara lekat-lekat, sebelum kemudian melayangkan tanya. "Bagaimana bisa kamu tau nama aku?"


Tak menjawab dengan kata, Amara justru menyunggingkan senyuman mencemooh terhadap Naura.


"Itu nggak penting," jawab Amara sinis. Wanita itu lekas-lekas berbalik badan dan berusaha membantu Dimas untuk bangkit dari kursi. "Ayo, Mas. Kita pulang," ujarnya.


"Hey, siapa kamu mau bawa pacar saya seenaknya!" Naura hendak menarik lengan Amara, tetapi gadis berhijab itu dengan sigap menepisnya.


Naura kesakitan. Ia meringis sambil mengusap lengannya yang terasa nyeri. Sejurus kemudian, ditatapnya Amara yang berusaha merangkul Dimas dengan wajah keheranan. Entah terbuat dari apa tangan gadis itu hingga sangat keras. Bahkan tepisannya saja bisa membuat lengannya terasa sakit. Tak ingin mendapatkan perlakuan lebih menyakitkan lagi, ia akhirnya memilih menyerah dan membiarkan dua orang itu berlalu dari situ.


Amara membantu Dimas masuk ke mobil dan duduk di kursi penumpang dengan sangat hati-hati. Napas gadis itu terengah-engah setelahnya. Memapah tubuh lemah Dimas ternyata menguras tenaga.


Memasangkan seat belt dan menutup pintu, ia lantas berlari kecil mengitari mobil sebelum kemudian masuk dan duduk di belakang kemudi. Usai memakai seat beltnya sendiri, ia kembali menatap Dimas untuk memastikan keadaan pria itu sebelum mereka benar-benar memulai perjalanan.


Ah, tiba-tiba Amara merasa terenyuh. Dimas hanya terdiam selagi duduk menyandarkan kepala dengan tatapan kosong lurus ke depan.


"Mas, kita pulang, ya." Amara berucap sambil menyentuh lengan pria itu, berharap Dimas sadar dan kembali ceria seperti sebelumnya.


Nyatanya, keinginan Amara tak sejalan dengan kenyataan. Dimas memang menoleh menatapnya. Namun, tatapan pria itu terlihat hampa tanpa menunjukkan sedikitpun binar. Pria itu seperti linglung.

__ADS_1


Terang saja hal itu membuatnya sedih bukan kepalang. Dada Amara terasa sesak, seperti ada sesuatu tak kasat mata mengimpit paru-parunya.


"Mas Dimas, sadar! Plis, jangan bikin aku takut dengan kamu seperti ini ...!" Seperti hilang kendali, Amara mengguncang tubuh Dimas yang seperti membeku seolah-olah tengah berusaha menyadarkan. Gadis itu histeris, dan lama kelamaan mulai terisak. "Mas Dimas ...!" panggilnya penuh penekanan di sela isak. Karena tak mendapatkan respon apa-apa, ia hanya bisa memandang sang pasien dengan tangis tergugu pilu.


"Ya, Allah ... apa yang harus kulakukan?" lirihnya putus asa.


Seperti baru kembali dari dimensi yang berbeda, Dimas menghela napas berat dan matanya mengerjap-kerjap. Suara tangis wanita yang menyapa gendang telinga secara langsung membuatnya merasa iba hingga ia gegas menoleh ke arah kanan, dan mendapati Amara tengah tersedu sambil membentur-benturkan dahinya pada stir mobil.


Meski kepalanya masih terasa nyeri, ia berusaha menggerakkan tangan untuk membelai punggung Amara sekadar untuk menyapa.


Amara yang merasakan sentuhan di punggungnya seketika menghentikan gerakannya. Gadis itu menghentikan tangis, mengangkat wajah, sebelum akhirnya menoleh ke sisi kiri.


"Mas Dimas?" lirihnya seperti tak percaya. Melihat wajah Dimas yang tak lagi pucat pasi, ia buru-buru mengusap wajahnya yang basah lalu memasang wajah bahagia. "Mas Dimas baik-baik aja?" tanyanya kemudian.


"Kepalaku sakit, Mar," lirih Dimas.


Alhamdulillah kamu masih ingat kalau aku ini Amara. Berarti kamu sudah kembali seperti semula, Mas, batin Amara.


"Kita ke dokter ya, Mas. Kamu harus periksa," ajak Amara penuh kesungguhan.


Dimas menggeleng cepat sambil mengalihkan pandangan. "Nggak Mar, aku mau pulang aja. Aku cuma butuh istirahat."


"Tapi Mas–" Amara menggantung ucapannya saat Dimas tiba-tiba mengangkat tangan, seolah-olah memberi isyarat padanya untuk diam.


"Plis, Mar. Aku cuma mau pulang." Meski diucapkan dengan nada pelan, tetapi Amara tak berani melawan sebab Dimas berucap penuh penekanan. Pria itu benar-benar menunjukkan jika saat ini tengah serius dan tak ingin mendapatkan bantahan.


Amara tak bisa berbuat banyak. Apa lagi yang bisa dilakukannya selain patuh Menganggukkan kepala, ia lantas membenarkan posisi duduknya. Mulai menyalakan mesin mobil, gadis itu mulai melakukan kendaraan itu keluar dari area parkir restoran dan membelah jalanan sore ibu kota yang begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan lainnya.

__ADS_1


Selama perjalanan berlangsung, tak ada obrolan yang mewarnai meski ada banyak hal yang ingin Amara tanyakan pada Dimas. Namun, Dimas yang hanya termenung sambil sesekali memijat pelipis itu membuat Amara sedikit merasa tenang. Setidaknya pria itu berada dalam kondisi sadar, tidak hanya diam membisu dengan pandangan kosong layaknya patung.


Bersambung


__ADS_2