Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Secercah cahaya


__ADS_3

Amara terkejut melihat seseorang yang baginya tidak asing lagi, tergeletak mengenaskan di tepi jalan. Tak ada yang peduli dengan keadaannya. Bahkan semua orang yang ada di sana terlalu asik dengan pertempuran mereka sampai-sampai tak menyadari telah melukai orang yang tak tahu apa-apa.


Terpaksa, Amara keluar dari persembunyian untuk kemudian mendekati sosok itu dengan gerakan mengendap-endap.


"Mbak Naura." Amara menepuk pipi gadis itu dengan posisi berlutut. Rupanya Naura pingsan sebab sama sekali tidak menunjukkan pergerakan.


"Astaghfirullah ... dia pinsan. Aku harus apa sekarang?" Amara mendesah penuh kekhawatiran. Terlebih lagi melihat darah segar yang menetes dari belakang kepala Naura.


Ia memperhatikan keadaan sekitar. Sepertinya sangat tidak aman jika dirinya terus berada di sana. Kerusuhan semakin merajalela. Keadaan kian memanas. Banyak yang terluka lantaran dari dua kubu tak ada yang mau mengalah.


Amara kembali memandang Naura setelah menyeret tubuh gadis itu membawa ke tempat yang lebih aman dan berpikir perlu segera menyadarkannya. Ia teringat jika menyimpan minyak kayu putih di dalam kotak peralatan medisnya, lalu tanpa pikir panjang bergegas membalurkan itu ke beberapa bagian tubuh Naura. Berharap bau menyengat minyak itu mampu membuat Naura tersadar.


"Mbak Naura. Bangun Mbak," ujarnya sambil menepuk pelan pipi Naura.


Berhasil. Kelopak mata Naura yang sebelumnya terpejam rapat, kini mulai menunjukkan pergerakan sebelum kemudian perlahan terbuka. Namun, rasa nyeri di kepalanya membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Kepalaku," rintihnya sambil refleks menyentuh area yang sakit.


"Mbak, kita harus cepat-cepat berlindung di tempat yang aman. Semakin lama berada di sini akan semakin berbahaya."


Naura terkejut mendengar suara itu. Ia yang awalnya terpejam, refleks membuka mata dan membelalak melihat sosok Amara ada di dekatnya. Tengah menatapnya dengan wajah cemas pula.


"Kamu?" ujarnya antara terkejut dan panik.


"Maaf karena aku udah seret Mbak Naura sampai kemari. Aku tuh khawatir. Tadi Mbak Naura tergeletak di pinggir jalan karena pinsan. Mbak ... kenapa Mbak Naura bisa ada di sini?"


Pertanyaan Amara itu membuat Naura tercekat. Untuk kali pertama ia merasakan malu yang luar biasa. Keberadaannya di sini adalah untuk mencelakakan Amara. Namun, siapa sangka jika orang yang ingin ia celakakan justru malah menolongnya.


"Mbak ... Mbak Naura bisa bangun dan berjalan, kan?" Karena melihat Naura hanya mematung, Amara bertanya untuk memastikan. Baginya tak penting bagaimana Naura bisa ada di sini. Yang jelas, ia harus segera membawa gadis itu ke tempat yang lebih aman.


"Memangnya kenapa?" Naura malah bertanya dengan polosnya.


"Kita harus cepat-cepat pergi dari sini, Mbak. Bahaya. Kepala Mbak Naura terluka sangat parah. Perlu dijahit untuk menghentikan perdarahan."


"Ah benar juga." Naura mendesah pelan. Tangannya lantas menyentuh belakang kepala yang diganjal paha Amara. Lagi-lagi ia meringis menahan sakit. "Ini sakit sekali, Amara," keluh Naura hingga meneteskan air mata.


"Iya aku tau, Mbak. Makanya kita harus cepat-cepat pergi. Kita ke puskesmas yang tak jauh dari sini, ya. Ada teman-teman tenaga medisku di sana. Peralatannya juga lengkap. Biar Mbak Naura segera ditangani."


"Oke." Naura mengangguk pasrah. Ia kemudian berusaha bangkit dibantu oleh Amara.


Namun, sayangnya luka itu cukup menyita tenaganya, hingga untuk berjalan saja Naura kesulitan. Ia benar-benar merasa lemas tak berdaya.


"Mar, aku nggak kuat lagi jalan kaki. Aku lemas. Kepalaku pusing. Pandanganku juga berkunang-kunang," keluh Naura sambil menghentikan langkah kakinya. Ia seperti ingin menyerah meskipun Amara bersemangat memapahnya.


"Tapi Mbak Naura harus segera ditangani," desak Amara. Sedangkan Naura hanya meringis sambil geleng kepala.


Amara tak bisa memaksa lagi. Sebagai wanita, ia juga memiliki keterbatasan kekuatan untuk menggendong tubuh Naura yang beratnya sama dengan dia. Yang perlu ia lakukan adalah mencari tempat aman agar bisa dengan segera mengobati luka Naura.


Beruntung, di depan sana ada beberapa mobil box yang terparkir. Ia hanya perlu mencari yang tidak terkunci untuk menyembunyikan Naura di sana. Naura sendiri sepertinya tak keberatan ketika ia papah menuju ke sana.


Meski dengan susah payah, akhirnya Amara berhasil membawa masuk Naura ke dalam salah satu box mobil itu. Memang terasa pengap. Setidaknya, mereka tidak perlu lagi merasa terancam.


Amara membaringkan Naura dengan posisi miring untuk memudahkannya memeriksa belakang kepala gadis itu.


"Mbak, aku bersihkan dulu luka Mbak Naura." Ia meminta izin dulu sebelum memulai kegiatannya. Naura sendiri masih bisa mengangguk meski matanya terpejam dan tubuhnya lemas. "Mungkin ini akan terasa sedikit sakit. Tapi Mbak Naura harus tahan, ya."


Benar saja. Baru sekali sentuhan, Naura langsung menjerit kesakitan.


"Sakit, Mar! Kamu apain kepala aku!" Lihatlah dia. Dalam keadaan darurat seperti itu masih saja berpikiran buruk pada orang yang menolongnya.


"Cuma aku bersihkan pakai air alkohol, Mbak. Belum aku jahit juga."

__ADS_1


"Hah? Jahit?" Naura membulatkan bola matanya.


"Kulit kepala Mbak Naura robek dan terbuka. Ini perlu dijahit untuk merapatkannya," terang Amara. Namun, seketika Amara merasa menyesal telah menjelaskan sebab kemudian Naura justru malah menangis kencang. Benar-benar sangat tidak elegan.


"Huaaaa! Rusak dong rambut aku! Sia-sialah perawatanku selama ini! Aku udah keluarin uang banyak buat ke salon tau, Mar!"


Amara menghela napas dalam. Rupanya Naura lebih memikirkan keindahan rambutnya dari pada kesehatannya sendiri.


"Iya, Mbak. Aku ngerti. Tapi ini demi kebaikan Mbak Naura juga."


Meski Amara sudah menenangkan, tetapi Naura masih enggan untuk diam.


"Ya udah, kalau Mbak Naura nggak rela lukanya aku jahit, cukup aku perban aja untuk menghentikan perdarahan, ya. Nanti, Mbak Naura bisa pergi ke klinik kecantikan untuk dioperasi plastik."


Padahal Amara bicara asal, tetapi rupanya itu cukup sukses membuat Naura merasa tenang. Gadis itu kemudian menghentikan tangisnya lalu memasrahkan Amara melakukan apa saja.


Baru mereka sadari jika suasana di luar sana terasa hening. Namun, sayangnya Amara merasa kesulitan saat hendak membuka pintu.


"Mbak, kenapa pintunya nggak bisa dibuka?" Ia menatap Naura dengan wajah panik. Terang saja kepanikannya itu menular pada gadis cengeng di belakangnya.


"Kok bisa!" Naura sontak bangkit dari baringnya. "Cepat buka, Amara! Aku nggak mau terkurung di sini! Aku nggak mau mati di sini!" Gadis cengeng itu lagi-lagi menangis. Ini adalah sisi lain dari Naura yang baru diketahui oleh Amara.


Amara mendesah putus asa setelah berkali-kali mencoba membuka pintunya tetapi masih tetap gagal saja. Ia pun terduduk sambil menyeka keringat yang bercucuran.


"Sepertinya berlindung di sini merupakan ide buruk, Amara. Bukannya selamat, kita malah terkunci. Ini ide kamu, kan!" tuding Naura dengan lemas.


"Mbak, dalam keadaan darurat begini kenapa masih saja suka mengkambing hitamkan sesama, sih! Bukankah Mbak Naura sendiri yang nggak kuat kuajak ke Puskesmas tadi!" Bahkan meskipun Amara seorang yang penyabar, ia pasti tak terima terus-menerus dipojokkan oleh Naura. Toh yang ia katakan adalah fakta.


Naura hendak membalas perkataan Amara. Namun, urung lantaran suara deringan di ponselnya.


Matanya yang semula menatap sinis pada Amara sontak berbinar kala melihat nama si peneleponnya. Dengan senyuman penuh kesombongan, ia menunjukkan layar ponselnya pada Amara.


Seketika bola mata langsung membola. Seiring dengan itu hatinya juga merasakan luka. Dengan perasaan tak karuan, ia memperhatikan Naura yang tengah menerima telepon dari suaminya.


"Halo, Dimas." Naura diam sejenak, mendengarkan Dimas di seberang sana berbicara. "A-aku sedang ada di dalam sebuah mobil Box di tepi jalan." Naura meliriknya sejenak. "Bersama Amara. Kami terkunci di dalam."


Entah apa yang Dimas katakan, Amara sama sekali tak bisa mendengar. Namun, yang jelas kemudian Naura mematikan ponselnya.


Ingin rasanya Amara menanyakan keberadaan Dimas serta bagaimana pria itu mengetahui keadaan Naura. Namun bibirnya seperti berat untuk meluncurkan kata-kata penasaran semacam itu. Hatinya sudah cukup sakit dan kecewa. Kesombongan Naura benar-benar membuatnya terluka.


"Kau dengar. Dimas bahkan sebentar lagi akan datang untuk menyelamatkanku."


Amara tak menanggapi perkataan Naura. Ia lebih memilih membuang muka demi menghindari ekspresi angkuh yang ditunjukkan oleh Naura.


Namun, tanpa Amara tahu, tatapan angkuh Naura itu berubah sendu ketika dirinya berpaling. Andai Amara tahu jika Naura tengah menguji bagaimana perasaannya, mungkin Amara tak perlu merasa terluka seperti ini.


Tiba-tiba Naura memegangi kepalanya yang terasa berdenyut sangat ngeri. Suara erangan yang meluncur dari bibirnya itu sukses menarik perhatian Amara.


Wajah muram Amara berubah panik melihat Naura yang seperti kesakitan. Ia refleks mendekat lalu merelakan pahanya dijadikan bantal.


"Mbak Naura kenapa?"


"Aku udah nggak kuat, Mar! Udah nggak kuat!"


"Tahan, Mbak. Bukankah sebentar lagi Mas Dimas datang memberikan pertolongan?"


Bersamaan dengan itu, Amara seperti mendengar ada suara samar yang menyebutkan namanya. Karena saking samarnya, ia bahkan sulit membedakan itu merupakan panggilan atau halusinasinya saja.


"Ngapain kamu bengong?" Naura yang menyadari perubahan mimik wajah Amara, akhirnya tergelitik untuk bertanya.


"Aku seperti mendengar seseorang manggil aku, Mbak," jawab Amara sambil pasang telinga untuk mendengar.

__ADS_1


Hening. Tak ada suara yang terdengar, hingga keduanya hanya bisa menghela napas keputusasaan. Akan tetapi, sesaat kemudian terdengar suara berat yang menyerukan nama Naura.


"Naura! Naura! Apa lo ada di dalam sana!"


Keduanya saling pandang lalu membelalak bersamaan.


"Itu Dimas!" Naura sontak bangun dan menggedor-gedor pintu sambil meneriakkan nama Dimas. "Aku di sini, Dimas! Aku di sini! Tolong keluarkan aku, Dimas! Di sini sangat pengap dan aku kesulitan bernapas."


Terdengar suara berisik di luar sana disertai gerakan kuat di pintu box mobil. Tak salah lagi, Dimas pasti tengah berusaha membuka pintu box mobil itu.


Namun, pergerakan itu tiba-tiba terhenti dan terdengar suara gaduh dari luar sana. Amara dan Naura sama-sama diam pasang telinga untuk mendengarkan.


Sepertinya Dimas tengah terlibat perdebatan panas dengan pemilik mobil box yang mereka tumpangi. Nada bicara Dimas bahkan terdengar berapi-api karena saking emosinya. Seandainya dirinyalah yang tengah Dimas perjuangkan, pasti Amara akan menjadi wanita yang paling bahagia. Sayangnya bukan dia. Dimas sampai begitu hanya untuk Naura saja. Dirinya tak berguna apa-apa sekalipun telah mengorbankan segalanya.


Namun, cinta tetaplah cinta. Ia mencintai Dimas tulus apa adanya. Tak akan lebur walau pria itu tidak mencintainya. Ia akan melakukan segala yang terbaik untuk orang yang dicintainya. Termasuk menolong Naura. Bukankah kesedihan Dimas merupakan sedihnya juga?


Perdebatan berjalan alot lantaran pihak mereka tak mempercayai alasan Dimas dengan mudah. Naura yang semakin lemah mencoba bangkit dan bergerak mendekati pintu. Ia merasa perlu melakukan sesuatu untuk membantu Dimas lepas dari situasi sulit ini.


"Bukain pintunya, Dimas! Tolong aku!" Naura berteriak sambil memukul pintu dengan tangannya. Dan sudah barang pasti membuat yang di luar sana jadi percaya akan keberadaan mereka. Seketika Naura merasa menyesal. Harusnya sudah dari tadi hal itu ia lakukan. Kenapa harus menunggu sampai Dimas berdebat hebat.


Semula Naura berharap Amara-lah yang akan melakukan itu. Memanfaatkan statusnya sebagai istri dan meminta Dimas menyelamatkannya. Nyatanya gadis itu hanya diam saja, meratapi luka dan kecemburuannya.


Namun, meski begitu Naura merasa salut pada Amara. Gadis itu sangat baik. Meskipun cintanya sedalam samudera dan seluas langit biru, Amara tetap berusaha memendamnya sekuat tenaga. Asalkan orang yang dicintainya bahagia. Pantas saja gadis itu mampu menggeser posisinya di hati Dimas.


Suara berisik serta guncangan kuat kembali terjadi. Pertanda Dimas tengah berusaha membuka pintu itu.


Naura yang semakin tak tahan dengan sakitnya terlihat menitikkan air mata. Hal itu tentu saja mengundang prihatin di hati Amara. Gadis itu memeluk tubuh Naura yang memucat. Bahkan hingga meneteskan air mata seperti dirinya juga ikut merasa terluka.


"Mbak Naura tahan dulu, ya. Semua akan baik-baik saja."


Tangan dingin Naura memegangi jemari Amara lalu meremasnya dengan lembut. "Mar, makasih udah mau nolongin aku yang selalu jahat sama kamu, ya," ucapnya dengan nada penuh sesal. Namun, hal itu justru membuat Amara disergap kesedihan.


"Mbak Naura nggak jahat. Aku tau Mbak Naura sebenarnya orang baik."


Naura tertawa kecil sambil meringis.


"Kamu memang gadis yang baik, Mar."


Suara linggis yang terlempar menyentakan keduanya setelah hentakan terakhir terdengar. Pintu terbuka disusul secercah cahaya muncul dari sana, memberikan sinar pada ruangan yang gelap dan pekat itu.


Sosok Dimas yang terengah-engah pun terlihat. Berdiri dengan gagah dan wajah penuh kesedihan. Tetapi pria itu seperti tercenung mendapati pemandangan yang tersaji di dalam sana.


Tak ada lagi yang Amara pikirkan selain kesehatan Naura. Sehingga ketika pintu berhasil terbuka, yang ia teriakan adalah kata-kata perintah untuk siapa pun di luar sana.


"Cepat panggil ambulans! Dia membutuhkan pertolongan!"


Sudah cukup tindakan pertolongan yang Naura butuhkan darinya. Dimas sudah datang. Pintu sudah terbuka. Amara berpikir Naura tidak membutuhkannya lagi dan ia harus secepatnya pergi dari sini.


Hatinya sudah cukup terluka hingga tak memiliki keberanian untuk menatap Dimas. Perlahan ia menurunkan tubuh Naura dari pangkuannya. Ia merasa perlu menepi. Memberi waktu pada Dimas yang tengah bergerak mendekat, untuk melampiaskan rasa lega dan kasih sayangnya pada Naura. Ia sungguh sangat ikhlas. Benar-benar ikhlas. Cinta memang tidak selamanya harus memiliki. Sebisa mungkin menahan tangis walaupun air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Ia sudah mantap untuk pergi.


Namun, alangkah terkejutnya Amara ketika sebuah lengan kokoh menghentikan pergerakannya. Menarik tubuhnya, lalu tanpa peringatan, memeluknya dengan erat.


Masih berusaha menguasai dari keterkejutan, matanya sesekali mengerjap bingung dalam keheningan. Lalu sesaat kemudian terdengar suara isak tangis dari telinga sebelah kirinya. Tepat dimana Dimas melabuhkan wajah di ceruk lehernya.


Benarkah? Benarkah Dimas menangisinya?


Belum habis keterkejutannya, Amara kembali dibuat haru oleh ungkapan penuh sesal dengan nada serak penuh air mata dari orang yang dicintainya.


"Aku nggak akan berhenti nyalahin diri sendiri kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu, Amara. Aku nggak akan pernah maafin diri aku sendiri."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2