Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Aku lapar


__ADS_3

"Eh, anak Mama sudah datang," sambut Amel saat Amara turun dari taksi online yang mengantarnya. Wanita paruh baya itu berdiri di teras dan memandang menantunya yang berjalan mendekat dengan begitu antusias.


"Assalamualaikum, Ma," ucap Amara sambil salim dan mencium punggung tangan Amel takzim.


"Waalaikumsalam," balas Amel dengan hangat. Senyumnya terkembang selagi mengusap puncak kepala Amara. Sesaat kemudian, wanita dengan jumpsuit warna merah itu celingukan ke arah belakang menantunya. "Kok kamu datang sendiri, Dimasnya mana?"


"Udah berangkat ngantor, Ma. Mungkin nanti mau ke lokasi juga."


"Emm, baguslah. Masuk yuk."


Amara menganggukkan kepala menanggapi ajakan Amel, lantas berjalan beriringan dengan mertuanya itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Amara udah sarapan, belum?" Amel bertanya selagi mereka berjalan.


"Udah kok, Ma. Bareng sama Mas Dimas tadi."


"Nggak pengen nyicipin masakan Mama? Mama tadi masak makaroni schotel, loh. Dijamin endulita pokokna, mah," ujar Amel dengan logat sunda dan cara bicara yang lucu menutut Amara. Sontak saja Amara tertawa kecil saat itu juga.


"Boleh, deh Ma. Perut Amara selalu muat kalau untuk makan masakan Mama."


"Nah, gitu dong."


Keduanya langsung berjalan menuju ruang makan. Ketika itu, rupanya Eli tengah berada di sana. Melihat sosok Amara berada di sana, terlihat sekali jika wanita itu setengah terkejut. Namun, meskipun demikian ia terlihat sangat bahagia, hal itu terlihat dari senyum semringah dan serta tindakan dengan langsung menyapa Amara.


"Eh ada Non Amara, Mas Dimasnya mana?" Eli celingukan mencari-cari sosok Dimas.


"Amara sendirian kok, Bi. Dimasnya udah berangkat kerja." Amel yang menjawab sambil berjalan mendahului Amara. Ia kemudian menyiapkan makanan untuk menantunya.


"Owalah begitu?"


"Apa kabar, Bi?" tanya Amara, lalu salim pada Eli dan mencium punggung tangannya.


"Alhamdulillah sehat, Non. Non Amara sendiri gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik."


"Duduk, yuk." Eli dengan cekatan menyiapkan kursi untuk Amara. Gadis itu tersenyum senang, lantas menempati posisi yang Eli siapkan.


"Makasih, Bi," katanya.

__ADS_1


Sesi makan dan ngobrol berlanjut hingga beberapa saat. Tiga wanita itu tampak riang terlibat dalam obrolan seru. Banyak hal yang dibicarakan. Mulai dari makanan, gosip artis, sampai kucing peliharaan Amel yang begitu Amara rindukan.


Setelahnya, Amel mengajak Amara pindah ke ruang keluarga untuk melanjutkan ngobrol mereka. Amara menyetujuinya, sedangkan Eli meneruskan bekerja dengan membereskan meja makan.


Bukan tanpa alasan Eli memutuskan menolak ajakan majikannya. Wanita paruh baya itu tahu, ada hal penting yang ingin sang majikan bicarakan dengan menantunya. Maka itu, ia tak ingin mengganggu momen itu.


"Amara ... Mama ingin bicara hal serius sama kamu."


Deg.


Jantung Amara langsung berdesir. Hal yang ia khawatirkan ternyata terjadi juga. Kendati berdebar-debar, ia tetap berusaha tenang sebab sebelumnya ia memang telah mempersiapkan dirinya. Atmosfer ruangan seketika terasa berbeda saat Amel menatapnya dengan ekspresi yang sulit ia mengerti.


Hal serius apa sih yang mau mama bicarakan?


"Amara siap dengerin, Ma," tutur Amara lembut dengan wajah pasrah diiringi senyuman.


"Bagus."


***


Amara menghela napas dalam untuk menetralkan perasaan. Ia masih berdiri di tepi jalan, menatap bagian belakang mobil yang melesat meninggalkannya. Mobil yang dikemudikan pak Mamad itu baru saja menurunkannya di depan rumah.


Amel memang menugaskan Mamad mengantarkan menantunya pulang setelah makan siang. Dan Amara menolak saat pria itu menawarkan diri membantunya membuka pintu pagar.


Jujur, sebagai wanita biasa, ia ingin hidup bahagia berpasangan dengan orang yang dicinta. Namun, di sisi lain, ia merasa tak tega.


"Mama tau kalian tidak saling cinta dan diam-diam merencanakan perceraian. Tapi kamu ini wanita muslimah, Amara. Tidak pernahkah kamu berpikir jika pernikahan itu adalah sesuatu sakral yang wajib dipertahankan? Mama rasa tidak ada salahnya jika kamu belajar mencintai Dimas. Jadilah istri yang baik dan pertahankan rumah tangga kalian. Mama mohon ... jangan pernah mau diceraikan oleh Dimas. Mama ingin kamu yang jadi menantu Mama. Bukan yang lainnya ...."


Amara tercekat, dan tak bisa berkata apa-apa ketika Amel menggenggam tangannya begitu erat. Tatapan memohon ... ah, wanita itu bahkan nekat turun dari duduk dan berlutut demi meyakinkannya. Terang saja ia terkejut dan bingung harus melakukan apa untuk sesaat.


"Ma, Amara mohon bangun! Amara merasa berdosa bikin Mama berlutut gini."


"Mama nggak akan bangun sebelum kamu janji, Amara."


"Justru Amara akan pergi jika Mama seperti ini!"


Entah, keberanian itu didapatnya dari mana hingga Amara bisa balik mengancam Amelia. Kalimat itu terlontar dengan tegas. Tanpa takut dan terdengar begitu menuntut.


Terang saja Amelia langsung bangkit dan memeluk menantunya. Amara bahkan hanya bisa mematung tanpa bisa berbuat apa-apa. Terlebih saat Amel sesenggukan sembari memohon.

__ADS_1


"Tolong Amara, Mama minta pertahankan rumah tangga kalian. Buat Dimas mencintaimu dengan cara yang kau bisa."


***


"Hai."


Amara berjingkat saat wajah Dimas yang tersenyum langsung menyambutnya begitu ia bangun. Ia langsung mengedarkan pandangan, dan seketika menyadari jika ternyata dirinya tertidur di sofa ruang tengah.


"Kok nggak tidur di kamar? Nungguin gue, ya? Sorry gue lambat pulang. Gue makan malam dulu sama Naura soalnya." Sambil melepaskan dasinya, Dimas memberondong Amara dengan pertanyaan sebelum akhirnya mengungkapkan fakta yang membuat hati gadis itu berdenyut nyeri.


Ia telah menggunakan sisa waktunya untuk memasak makanan kesukaan Dimas, tetapi ternyata pria itu justru sudah makan malam bersama kekasihnya. Entah demi apa, ia bahkan rela menunggu dan menunda makan malam meski perutnya sudah sejak tadi keroncongan.


"Hemm, baguslah. Kalau gitu aku nggak perlu lagi menghangatkan masakan." Setengah melenguh, Amara bangkit dari pembaringan dan duduk usai menurunkan kaki. Tangannya bergerak merapikan jilbab yang sedikit berantakan.


"Menghangatkan masakan?" Dimas langsung menautkan alisnya. "Berarti lo tadi masak buat gue? Eh, bentar-bentar."


Dimas mengubah posisi duduknya dan kini menghadap tepat ke arah Amara dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan, ia menatap istrinya sembari memicingkan mata.


"Jangan bilang kalau lo belum makan sampai sekarang sebab nungguin gue pulang?" Dimas menebak, sesaat kemudian ia melanjutkan kata dengan nada setengah geram sebab membaca tingkah Amara yang diam, tetapi menunjukkan sikap pembenaran. "Tuh kan, benar! Udah berkali-kali gue bilang, lo nggak perlu capek-capek siapin gue makan! Jadwal makan gue sekarang itu nggak tentu! Bisa makan di kantor, di pinggir jalan atau pun di luar bareng Naura. Perut gue nggak muat nampung banyak makanan, Mar. Selain mubazir, sayang sama tenaga lo juga. Harusnya lo manfaatin buat istirahat, bukannya malah masak!" ucap Dimas penuh penekanan di akhir kalimat.


"Ih siapa juga yang masak buat Mas Dimas!" Dengan nada tinggi, Amara menyangkal perkataan Dimas. "Orang aku masak buat aku sendiri, kok."


"Oh, ya?" Dimas pula bertanya dengan nada meragukan. Matanya memicing memperhatikan Amara yang melangkah menuju meja makan.


"Iya, lah."


"Masa?" Dimas kemudian bangkit dan menyusul Amara di ruang makan.


Meja bundar berukuran sedang dengan beberapa menu terhidang di atasnya itu membuat Dimas tertegun. Menghela napas dalam, ia lantas mengalihkan pandangan pada Amara yang bersiap untuk makan.


"Lo sengaja masak makanan kesukaan gue semua? Ya ampun, Mar? Demi apa coba?" Dimas mengempaskan tubuhnya pada kursi, sedangkan Amara hanya bergeming tanpa berniat menanggapi.


Dari tempatnya duduk, Dimas mengawasi setiap gerakan Amara dengan sorot tajam. Sedangkan yang diamati justru bersikap santai sambil makan.


"Mar, lo dengerin gue ngomong nggak, sih?" Dimas kembali bertanya setelah beberapa saat keduanya hanya diam. Namun, kali ini dengan nada yang pelan.


"Denger, kok."


"Terus, kenapa cuma diam?"

__ADS_1


Melihat Dimas terus saja mendesaknya, Amara sontak menghentikan makan dan menaruh kembali sendoknya di piring. Ia lantas menatap Dimas dengan lekat.


"Aku tuh lapar. Aku nggak suka diganggu kalau lagi makan. Mas Dimas nggak pengen aku makan orang, kan?" pungkas Amara tegas yang membuat Dimas menelan salivanya.


__ADS_2