
Melihat wajah istrinya merona merah menahan malu, Dimas akhirnya mengulum senyum lalu mengecup punggung tangan Amara untuk menenangkan.
"Kenapa jadi tegang gitu, sih? Gue cuma becanda kali, Mar. Nggak usah merasa terbebani."
Amara menghela napas lega mendengar penuturan suaminya. Tetapi kemudian ia kembali merutuki dirinya dalam hati karena sempat-sempatnya memikirkan hal yang tidak-tidak. Dan sekarang ia harus kembali menahan malu lantaran pemikirannya terbaca jelas oleh Dimas.
Amara, Amara.
"Tidur, yuk. Gue udah ngantuk banget." Dimas lantas berbaring tanpa menunggu respon Amara. Gadis itu masih bergeming di tempatnya, lalu menoleh ke arah pintu dengan ekspresi gelisah. "Mar ... kok bengong? Ayo dong."
Lagi-lagi Dimas mendesak tanpa mau memberikan kesempatan pada Amara untuk mengelak. Ia bangkit dan membawa istrinya ikut berbaring bersama.
Sementara Amara sendiri sempat memekik lantaran terkejut. Walau di awal sempat merasa tegang dan tidak nyaman atas perlakuan Dimas terhadapnya, tetapi pada akhirnya ia pun menyerah pasrah dan membiarkan pria itu memeluknya dari belakang. Ukuran ranjang yang tergolong sempit jika digunakan berdua membuat ruang geraknya sangat terbatas. Dan Amara tak tahu jika itu sangat menguntungkan bagi Dimas.
Untuk kesekian kalinya ia seperti terhipnotis oleh kehangatan tubuh Dimas. Aroma harum dan kelembutannya menghantarkan sensasi nyaman hingga ia merasakan ketenangan.
"Nggak perlu khawatirkan keadaan sekitar." Seolah-olah tahu akan apa yang sempat mengganggu pikiran Amara, Dimas berusaha menjelaskan agar gadis itu merasa tenang.
Seketika Amara memutar kepalanya ke arah kanan dan melirik wajah Dimas yang tengah memeluknya dengan mata terpejam.
"Gue udah bayar mahal buat booking lo sama kamar, jadi nggak bakalan ada yang ganggu kita selagi kita berduaan."
__ADS_1
"Mas ...!" Amara langsung mendesah dengan wajah putus asa. Ia beringsut untuk mengubah posisi agar bisa menatap wajah Dimas dengan jelas. Kelakuan pria itu kali ini benar-benar membuatnya geleng kepala.
Seketika Dimas membuka matanya dan lalu bertanya dengan nada pelan. "Apa?"
"Kenapa kamu kayak gini, sih? Buat apa buang-buang uang cuma buat nginap di rumah sakit? Kamu tuh nggak sakit, Mas. Kamu sehat. Aku minta, supaya besok kamu pulang!" tegas Amara dengan wajah tak bersahabat.
"Kalau memang minta aku pulang, kenapa harus nunggu besok? Kenapa nggak sekarang aja?" Alih-alih mengiyakan permintaan Amara, Dimas justru menjebak gadis itu dengan pertanyaan yang membuat wajahnya merah padam.
Seketika itu juga Amara menyesal telah berkata demikian. Kenapa harus besok? Kenapa juga tidak sekarang. Seolah-olah ia ingin memanfaatkan malam ini untuk berduaan dengan Dimas.
Benar saja. Saat melirik ke arah kanan, Amara mendapati Dimas tengah mengatupkan bibir dan menunjukkan lesung pipinya seolah-olah tengah menahan tawa. Dan ia hanya bisa menangis batin sebab tak bisa meluruskan kesalahpahaman ini lantaran saking malunya.
"Maaas ...!" Amara merengek manja saat Dimas mengeratkan pelukan serta membenamkan wajah ke ceruk lehernya dengan mata terpejam dan penuh perasaan. "Lepas! Janji dulu besok kamu bakalan pulang!"
Tiba-tiba Dimas membuka matanya, mengangkat kepala lalu menatap Amara lekat-lekat.
"Bisa diam, nggak sih?" Dimas bertanya dengan nada pelan sambil mengerutkan keningnya. "Gue udah keluar duit banyak biar bisa berduaan sama lo. Ngorbanin diri dikira orang gila lantaran badan sehat tapi ngotot minta nginep di rumah sakit juga. Jadi, sekarang lo diam dan hargai perjuangan gue. Titik."
Amara hanya memberengut kesal ketika Dimas kembali mendekapnya dari belakang. Kalau sudah begini ia bisa apa selain pasrah? Toh Dimas hanya ingin memeluknya. Nggak pernah minta lebih.
Namun, baru juga Amara merasa tenang hingga bisa memejamkan mata dan nyaris terlelap, pria itu kembali membuat ulah dengan penuturan yang diiringi seringai nakal hingga matanya terbelalak dan tenggorokannya seperti tercekat.
__ADS_1
"Harusnya lo bersyukur karena gue cuma minta ditemenin dan dipeluk doang. Atau jangan-jangan, sebenarnya lo pengen gue minta lebih, heum?"
***
Dimas hanya bisa menahan tawa melihat tingkah laku menggemaskan istri sirinya. Gadis itu bahkan pura-pura tidur demi menghindari kenakalannya.
Dimas bisa merasakan Amara berjingkat ketika ia dekap, lalu lama-lama menegang dan kini tubuh seperti beku. Ia yakin gadis itu belum tidur. Tetapi ia melakukan kesalahan dengan menggodanya tentang malam pertama hingga membuat gadis itu gemetaran. Dan beginilah hasilnya. Ia terpaksa kembali menahan hasrat untuk kesekian kalinya.
Ya, Tuhan. Dimas hanya bisa menepuk jidat sendiri melihat sikap istrinya. Mungkinkah gadis itu yang terlalu lugu atau justru dialah yang terlalu terburu-buru? Walaupun Dimas akui ia tak bisa menampik pesona Amara hingga membuatnya menggebu-gebu, pernikahan mereka juga sudah berjalan lama, bukankah wajar jika mereka melakukan hal itu?
Entah pemikiran gila dari mana hingga Dimas begitu ingin melakukan malam pertama mereka di kamar rumah sakit itu seperti yang ia ungkapkan pada Amara beberapa waktu lalu.
"Mar, lo pernah kepikiran bakal ngelakuin malam pertama di rumah sakit, nggak? Ya, secara lo kan perawat."
Amara langsung melirik Dimas dengan wajah tak bersahabat. "Ish Mas Dimas apaan sih?"
"Ih, kayaknya seru deh, Mar." Dimas berucap sangat antusias. Pria itu lantas menjabarkan apa yang ada dipikiran seperti sedang berangan. "Di tempat yang mencekam, di ranjang rumah sakit yang sempit. Udah gitu dipakai gerak dikit aja langsung berderit. Dicoba yuk," ajaknya dengan nada menggoda. Bahkan bibirnya saja tak kuasa menahan tawa.
Bisa ditebak reaksi Amara bagaimana. Gadis itu terlalu pemalu apalagi untuk urusan hal vulgar semacam itu. Di tempat yang tidak lazim pula.
"Maaas! Aku ngantuk ...! Bisa nggak sih nggak berisik." Setelah memekik tertahan seperti itu Amara langsung memejamkan mata tanpa mau melihat ekspresi suaminya. Tentunya dengan wajah merah seperti kepiting matang.
__ADS_1