
Di hari pertamanya bekerja Amara lalui dengan suka cita. Sama sekali tak merasa lelah meski hal itu baru dimulainya. Rupanya rasa bahagia itu berimbas baik pula pada aktifitas seseorang. Ini benar-benar Amara buktikan.
Pagi tadi ia mengawali hari dengan bahagia, dan itu berlanjut hingga sekarang. Terhitung telah memasuki hari keempat Naura menjadi penghuni ketiga di rumah mereka. Terlepas dari pura-pura atau hanya tipu daya perlakuan baik Dimas tadi terhadapnya, Amara bahkan tak peduli sebab hatinya berbunga-bunga. Karena, baginya itu sudah lebih dari cukup jika dibandingkan tidak sama sekali.
Sempat terlintas di benaknya jika dia seperti wanita tidak waras. Bagaimana mungkin ada seorang istri yang membiarkan pacar suaminya menginap di rumah mereka jika bukan wanita gila. Namun, meski demikian ia tetap bersyukur sebab Dimas tahu akan batasannya kendati Naura adalah wanita yang dicintainya.
Sembari duduk di kursi kerja, Amara membuang napas lelah mengingat peliknya rumah tangga mereka. Tiba-tiba ia merasa menjadi wanita jahat yang telah merebut Dimas dari Naura. Namun, ini semua terjadi di luar kendalinya! Ia tak bisa mengelak dari takdir yang sudah Tuhan gariskan.
Beruntung, Naura adalah wanita yang baik dan bisa menerima keadaan mereka. Sejauh ini Amara percaya Naura bisa membuktikan ketulusan cintanya pada Dimas. Mau tak mau, ia harus mengesampingkan permintaan sang mertua untuk mempertahankan pernikahannya. Ia bahkan jauh dari kata sempurna hanya untuk mengalihkan Dimas dari Naura.
Menjadi orang ketiga di rumahnya sendiri membuat ia harus tahu diri. Rasa cemburu akibat kemesraan mereka itu adalah hal terlarang, sedangkan baper karena perlakuan Dimas padanya juga tak layak ia rasakan.
Ah, ini benar-benar berat. Tapi mau bagaimana lagi. Dia hanya orang ketiga dalam hubungan ini. Dan lagi-lagi, mantra 'TAHU DIRI' cukup ampuh membuatnya sadar diri.
Derit ponsel di atas meja menarik Amara dari kelana angan. Gadis itu sontak meraih benda pipih itu guna menjawab panggilan.
"Assalamualaikum, Mas," sapanya pada si penelpon yang rupanya adalah Dimas.
"Udah mau balik, belum? Gue OTW nyusul lo, nih," balas Dimas tanpa basa-basi.
Amara melirik jam di pergelangannya, kemudian gegas menjawab. "Iya, udah waktunya pulang."
"Tunggu di tempat biasa, ya. Gue bentar lagi nyampe."
"Oke."
Panggilan terputus setelahnya. Amara kemudian bergegas siap-siap dan turun ke lobby, di mana Dimas selalu menjemputnya.
Lima menit berlalu, Amara melihat mobil Dimas muncul memasuki area rumah sakit. Tanpa pikir panjang, ia bergegas menghampiri sebelum Dimas yang mendatanginya. Takut merepotkan.
Kaca mobil bagian kemudi turun dan memperlihatkan wajah tampan Dimas yang mengenakan kaca mata hitam. Pria itu tersenyum manis menyambut kedatangan Amara.
"Hai," sapanya semringah.
"Hai, Mas," balas Amara. Ia hendak membuka pintu mobil bagian belakang, terapi Dimas buru-buru mencegahnya.
__ADS_1
"Duduk di depan aja, Mar. Gue sendirian," kata Dimas.
"Loh, Mas Dimas cuma sendiri. Mbak Nauranya mana?" tanya Amara yang tak melihat keberadaan Naura.
Bukan tanpa alasan ia bertanya. Dimas dan Naura sudah seperti dua sejoli yang ke mana-mana selalu berdua. Tentunya hanya sepengetahuan Amara sebab ini adalah rahasia.
"Hari ini pemotretan sampai malam katanya. Jadi gue pulang duluan dan entar malam baru nyusul dia. Dah, buruan masuk."
"Iya." Amara berlari kecil mengitari mobil dan membuka pintu penumpang bagian kiri. Tanpa canggung duduk di jok depan dan kemudian memasang sabuk pengaman.
"Are you ready?" tanya Dimas yang sudah hendak tancap gas.
"Ready," balas Amara.
Dimas tersenyum, lalu melajukan mobilnya setelah berkata, "Go!"
Amara memasang tampang bingung ketika Dimas dengan sengaja melewati gang kompleks perumahan mereka. Sambil menatap heran pada suaminya, ia pun bertanya.
"Loh, Mas, kok rumah kita dilewatin aja? Kamu nggak amnesia, kan?"
"Memangnya mau ke mana?"
"Mau ke mall. Ke toko perhiasan bentar," jawab Dimas.
"Perhiasan?" Mata Amara berbinar senang saat bertanya.
Nyaris memiliki harapan besar, seketika ia tersadar jika itu hanyalah impian. Ia merutuki kebodohannya yang sesaat sempat berharap sesuatu hal yang mustahil. Tentu saja Dimas ke toko perhiasan untuk membelikan aksesoris buat Naura dan bukan buat dirinya.
"Gue mau beliin kalung buat Naura. Temenin gue milih-milih, ya."
Tuh, kan ... benar. Dasar otak nggak ada akhlak. Siapa yang kasih izin kamu untuk berharap.
Sontak Amara cepat-cepat berdeham guna menetralkan perasaan. Gadis itu buru-buru menunjukkan sikap keberatan sebelum Dimas menangkap ekspresi bahagianya barusan.
"Kenapa nggak nunggu Mbak Naura aja sih, Mas? Kan jelas maunya dia apa. Kenapa harus ajak aku yang baru pulang kerja. Belum mandi. Keringatan. Kucel. Bau."
__ADS_1
Dimas tertawa mendengar rentetan perkataan Amara. Sikap keberatan gadis itu malah sama sekali tak digubrisnya.
"Ini tuh buat kejutan, Mar. Nah kalau dia tau bakalan dikasih kalung kan ambyar. Nggak seru."
"Terserah, lah," pungkas Amara kesal. Sibuk dengan pikirannya sendiri, ia terdiam hingga mobil berjalan memasuki area basement pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
Seketika Amara merasa tubuhnya lelah dan tak bergairah. Ia hanya diam selagi mengekori Dimas yang melangkah menuju toko perhiasan mewah di sana. Toko yang tak biasa didatangi oleh Naura demi menjaga kesuksesan kejutannya.
"Mar, menurut lo ini cantik nggak buat Naura?" tanya Dimas sambil menunjukkan sebuah kalung. Jujur, saat pertama kali matanya menemukan kalung itu, wajah Naura yang cantik saat memakainya langsung melintas di kepala.
Amara yang sebelumnya tampak menyibukkan diri dengan melihat-lihat area sekitar langsung memfokuskan pandangannya pada benda yang dipegang Dimas. Seketika matanya berbinar senang dan senyumnya pun terkembang.
"Cantik, Mas. Makin cantik lagi kalau Mbak Naura yang pakai!" jawabnya antusias.
"Gue juga mikir gitu, Mar," balas Dimas terlihat begitu bahagia. "Jadi menurut lo yang ini?" tanyanya memastikan.
Amara mengangguk cepat. Ia tak bohong mengenai pendapatnya. Kalung indah dengan puluhan batu permata itu begitu menyilaukan kemewahannya. Menyala berkilau indah dengan liontin warna merah jambu dan berbingkai logam platinum. Ah, Amara bahkan tak bisa mengira-ngira berapa harganya.
"Oke, fix. Yang ini ya?"
Amara mengangguk setuju.
"Yang ini ya, Mbak." Menjatuhkan pilihannya, Dimas langsung berkata pada penjaga toko tanpa menanyakan harga. Horrang kaya. Cuma kalung juga.
"Lo laper, nggak Mar?" tanya Dimas ketika keduanya meninggalkan toko perhiasan.
"Nggak sih, Mas. Cuma pengen buru-buru pulang terus mandi."
"Yakin? Mumpung masih di sini?" tanya Dimas memastikan.
"Emmm, apa ya?" Sambil mengetuk-ketuk pipinya dengan telunjuk, Amara memutar bola matanya ke atas seperti sedang berpikir. Sesaat kemudian ia kembali menatap Dimas. "Nggak ada kok, Mas. Kalau butuh sesuatu aku bisa cari sendiri, kok. Aman, aman."
"Okay, deh. Kita balik."
Setelah sepakat, keduanya lantas berjalan beriringan hendak ke tempat parkir. Namun, tiba-tiba Dimas menghentikan langkah saat ponselnya yang berada di saku tiba-tiba berdering.
__ADS_1
"Mar, gue angkat telepon dulu, lo tunggu di mobil bentar, ya. Entar gue nyusul," ujar Dimas pada Amara yang sontak ikut berhenti. Amara mengangguk patuh, lalu beranjak pergi meninggalkan Dimas yang langsung berbincang dengan seseorang di ujung sana.